Ratusan keramik kuno koleksi Museum Prabu Siliwangi Kota Sukabumi kini tengah dibedah oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Langkah ini diambil guna menggali lebih dalam nilai sejarah dari benda-benda antik yang diduga menjadi saksi bisu jalur perdagangan lintas negara di masa lampau.
Penyusunan katalog ilmiah ini melibatkan kolaborasi antara BRIN dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Proyek riset yang telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun ini berfokus pada kurasi ratusan koleksi berharga di museum tersebut.
"Dari 205 keramik koleksi Museum Prabu Siliwangi yang sudah diteliti, sebagiannya akan dimasukkan ke dalam pencatatan ilmiah berbentuk buku katalog keramik. Saat ini kami telah memotret 72 keramik yang nantinya dikurasi berdasarkan nilai sejarah dan aspek estetika (eye-catching)," ujar Ahli Sejarah Masa Hindu-Buddha dan Keramologi, Yusmaini Eriawati, Minggu (7/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang akrab disapa Wati ini membeberkan, buku katalog tersebut nantinya akan disusun secara sistematis berdasarkan periodisasi waktu pembuatan dan asal wilayah keramik. Koleksi di museum ini terbilang istimewa karena memiliki garis waktu lintas abad yang sangat kaya.
"Secara umum, keramik di sini merupakan perabotan yang digunakan sehari-hari seperti piring dan mangkuk. Diduga kuat barang-barang ini masuk lewat jalur perdagangan laut pada abad pertengahan hingga zaman awal modern. Dulu, para pedagang asing sekali berlayar bisa membawa ribuan keramik ke Jakarta, lalu menyebar dijual ke tanah Jawa," papar Wati.
Ditargetkan Rampung Akhir Juli 2026
Proses pengerjaan katalog ilmiah ini sudah memasuki tahapan krusial. Setelah merampungkan penelitian fisik dan dokumentasi foto di Sukabumi, tim ahli akan menyusun uraian naskah sejarahnya di Jakarta dan Yogyakarta. Seluruh rangkaian finalisasi ditargetkan selesai pada akhir Juli 2026 mendatang.
Buku katalog ini nantinya juga bakal didaftarkan secara resmi ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) agar bisa diakses oleh publik luas, terutama para akademisi.
"Tujuan utamanya untuk edukasi. Katalog ini nantinya sudah sangat layak digunakan oleh mahasiswa sebagai referensi utama untuk membuat makalah hingga tugas akhir atau skripsi," imbuh Wati.
Penelitian keramik koleksi Museum Prabu Siliwangi Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar |
Bidikan Wisata Sejarah Berkelas Internasional
Rencana besar ini disambut hangat oleh pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana. Menurutnya, setelah proyek katalogisasi ini rampung, pihak museum bersama para ahli berencana menyusun cetak biru berikutnya, yaitu buku storyline sejarah keramik.
"Storyline itu bukan hanya memamerkan barang, tapi menceritakan apa yang terjadi di Indonesia pada abad tersebut. Negara atau kerajaan mana yang datang, dan bagaimana kehidupan bangsa saat itu, semua bisa terbaca lewat sebatang keramik," tutur Fajar.
Fajar juga mendorong Pemerintah Kota Sukabumi untuk segera mendaftarkan koleksi-koleksi yang telah divalidasi oleh BRIN tersebut sebagai Objek Cagar Budaya (OCB) resmi. Mengingat Sukabumi minim sumber daya alam, sektor wisata sejarah dan riset ilmiah dinilai menjadi peluang emas untuk mendongkrak ekonomi daerah.
"Dengan adanya museum keramik yang sudah diteliti dan dinyatakan sebagai artefak, kita berharap Sukabumi memiliki produk wisata sejarah bernilai tinggi yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara," pungkasnya.
Beberapa koleksi keramik yang menarik diteliti di antaranya meliputi:
1. Keramik Cina: Mewakili hampir seluruh era kekaisaran, mulai dari Dinasti Tang (abad ke-10), Song Utara, Song Selatan, Yuan, Ming, Qing, hingga masa Republik.
2. Keramik Asia Tenggara: Berupa barang-barang temuan purbakala yang berasal dari Vietnam dan Thailand.
3. Keramik Jepang: Menampilkan jenis Satsuma dari abad ke-19 yang dikategorikan cukup langka.
4. Keramik Eropa: Rentang abad ke-17 hingga ke-19.
5. Tembikar Nusantara: Berupa celengan tanah liat asli peninggalan era Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 atau ke-15.

