Menyusuri Jejak Ciung Wanara di Situs Karangkamulyan Ciamis

Menyusuri Jejak Ciung Wanara di Situs Karangkamulyan Ciamis

Dadang Hermansyah - detikJabar
Selasa, 26 Mei 2026 07:00 WIB
Hamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan Ciamis
Hamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan Ciamis (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Sebuah tempat yang rimbun dengan pepohonan seperti hutan di Jalan Nasional Ciamis-Banjar, tepatnya di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, selalu bikin penasaran bagi pengendara yang melintas. Diketahui lokasi tersebut merupakan tempat bersejarah, konon pada masa lalu, ini merupakan tempat berdirinya Kerajaan Galuh.

Lokasi ini juga kerap dijadikan rest area bagi pengendara yang menuju ke daerah Jawa Tengah, berwisata ke Pangandaran atau pun sebaliknya menuju ke arah Barat. Tapi kini rest area sudah dibangun terpisah dengan Situs Bojong Galuh Karangkamulyan itu.

Di Situs ini terdapat sejumlah peninggalan yang diyakini berasal dari petilasan Kerajaan Galuh. Bahkan beberapa di antaranya punya cerita mitos atau mistis yang bikin penasaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari pengendara yang berhenti untuk istirahat di rest area, beberapa di antaranya ada yang penasaran berkunjung masuk ke dalam area situs. Memang suasana dan aura di dalam situs berbeda dengan di luar, lebih sepi dan seperti masuk ke suasana masa lalu.

Nur Hamzah (34) salah satu pengunjung, mengaku penasaran ingin mengetahui kondisi di dalam Situs Bojong Galuh Karangkamulyan. Padahal Hamzah tidak hanya sekali dua kali melintas dan istirahat di area Karangkamulyan.

ADVERTISEMENT

Namun baru kali ini ia bersama keluarganya memutuskan untuk ke dalam situs. Ia pun mendengar informasi di situs ini terdapat peninggalan Kerajaan Galuh beserta cerita mitos yang mengiringinya.

Diawali dengan masuk dari pintu gerbang dengan membayar tiket Rp6.500 per orang. Setelah masuk, Hamzah beserta rombongan keluarganya berjalan kaki sesuai dengan petunjuk arah. Di bagian pertama, pengunjung akan melihat situs Pangcalikan atau konon merupakan Singgasana Raja.

Di tempat ini biasa digelar Tradisi Ngikis setiap menjelang Bulan Ramadan. Masyarakat bergotong royong mengganti pagar yang mengelilingi batu Pangcalikan.

Hamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan CiamisHamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Dilanjutkan berjalan kali bertemu dengan simpang empat, Nurhamzah mengambil jalur kiri menuju Situs Sabung Ayam sesuai petunjuk arah. Menurut cerita, Sabung Ayam merupakan tempat yang digunakan untuk sayembara. Pada masa Kerajaan Galuh, konon setiap memilih pemimpin selalu diadakan sabung ayam. Pemilik ayam yang jadi juara akan dijadikan seorang pemimpin.

Salah satu cerita yang terkenal ketika Sang Manarah atau Ciung Wanara juga menduduki tahta kerajaan dengan cara sayembara. Makanya di lokasi sabung ayam tidak terdapat bebatuan, cuma berbentuk lapang atau arena.

Sabung Ayam merupakan tanah lapang dan padat, pada bagian tengahnya terdapat pohon bungur yang konon sudah berumur ratusan tahun.

"Ini baru pertama kali ke sini. Penasaran ke lokasi Sabung Ayam. Mendengar cerita kalau berjalan sambil memejamkan mata lurus ke pohon yang ada di tengah katanya kalau pas keinginan bisa terkabul. Mencoba saja, ini kan cerita mitos, bukan soal percaya atau tidak percaya. Kita ambil hikmahnya aja dari cerita itu, seperti kalau ingin mencapai tujuan harus fokus dan di jalan yang lurus," jelasnya saat ditemui di Rest Area Karangkamulyan, Senin (25/5/2026).

Hamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan CiamisHamzah dan keluarganya sedang menjajal mitos Sabung Ayam di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Usai menjajal Sabung Ayam, Hamzah melanjutkan perjalanan ke beberapa situs lainnya, seperti Cikahuripan yanh merupakan sebuah lokasi sumber mata air yang sangat jernih. Konon pada masa Kerajaan Galuh, Cikahuripan dipakai tempat mandinya permaisuri raja.

Cikahuripan merupakan salah satu lokasi yang jadi tujuan para pengunjung. Mereka biasa mandi atau sekadar berwudhu dan membawa air dari mata air tersebut. Konon mata air itu dapat menyembuhkan penyakit.

"Ke lokasi Cikahuripan juga, tapi ada pengunjung lagi mandi jadi hanya di luar saja, lalu kembali ke pintu gerbang dan keluar situs," jelasnya.

Sebetulnya ada beberapa titik lainnya yang harus dikunjungi, seperti situs Pamangkonan. Situs ini konon merupakan tempat di mana dulu pada masa kerajaan dijadikan uji prajurit. Apabila yang ingin jadi prajurit atau penggawa kerajaan harus bisa mengangkat sebuah batu yang berukuran besar bola.

Lokasi ini pun menjadi salah satu daya tarik untuk dikunjungi. Para pengunjung pun kerap mencoba kekuatan dengan mengangkat batu tersebut.

"Tadi hanya sampai ke Cikahuripan, karena sudah siang harus melanjutkan perjalanan," ungkapnya.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads