Kisah Ilham, Remaja Pangandaran yang Jatuh Cinta ke Wayang

Kisah Ilham, Remaja Pangandaran yang Jatuh Cinta ke Wayang

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Minggu, 24 Mei 2026 19:30 WIB
Ilham saat memegag wayang
Ilham saat memegag wayang (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Di tengah generasinya yang akrab dengan layar gawai dan tren digital, Muhamad Ilham Alfarizi (17) justru memilih jalan yang berbeda. Siswa kelas XI IPS SMAN 1 Parigi itu menaruh hati pada dunia perwayangan dan menjadikannya bagian dari keseharian yang ia tekuni dengan serius.

Kedua tangannya tampak luwes memainkan dua boneka wayang kulit. Gerakannya terlatih, ekspresinya menyatu dengan karakter yang dibawakan. Semua itu ia lakukan di atas ranggon-saung sederhana beralaskan papan kayu dan berdinding anyaman bambu yang dibuat sang ayah. Tempat itu kini menjadi ruang kreatif sekaligus panggung kecil bagi Ilham untuk menghidupkan tokoh-tokoh wayang yang ia cintai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilham bukan sekadar remaja dengan hobi yang berbeda. Ia menjadi salah satu generasi muda yang berupaya menjaga keberlangsungan wayang golek, mahakarya budaya Sunda yang telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 7 November 2003.

Kecintaan Ilham pada wayang ternyata telah tumbuh sejak usia sangat dini. Saat berusia tiga tahun, ayahnya menghadiahinya sebuah wayang tokoh Batara Rama, sosok ksatria bijaksana titisan Dewa Wisnu dalam kisah Ramayana. Hadiah sederhana itu ternyata menjadi awal perjalanan panjangnya mengenal dunia perwayangan.

ADVERTISEMENT

Yadi, ayah Ilham, mengaku tidak pernah menyangka putranya akan memiliki ketertarikan sebesar itu terhadap seni tradisional.

"Padahal dulu saya hanya memberikan hadiah berupa wayang tokoh Batara Rama dan wiracarita Ramayana," ucap Yadi belum lama ini.

Seiring bertambah usia, kecintaan itu semakin kuat. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Ilham hampir selalu membawa wayangnya ke mana pun pergi. Melihat minat anaknya yang terus tumbuh, Yadi kemudian mempertemukan Ilham dengan seorang seniman sekaligus dalang wayang di Pangandaran, Abah Enju.

"Waktu saya ke Abah Enju, abah senang katanya dengar anak muda pengin belajar wayang, karena di sini sudah susah lagi penerus," ucapnya.

Di bawah bimbingan Abah Enju, Ilham tidak hanya belajar memainkan wayang sebagai dalang, tetapi juga mendalami proses pembuatannya. Ia belajar mengubah balok kayu albasia menjadi tokoh-tokoh yang memiliki karakter dan nilai seni tinggi.

Proses pembuatan wayang bukan perkara sederhana. Dimulai dari pembentukan dasar, dilanjutkan dengan proses pengukiran menggunakan pisau khusus dengan ciri khas ukiran Pangandaran yang lebih dalam dan detail, hingga tahap pewarnaan dan penyelesaian akhir yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Menurut Yadi, selain gemar memainkan wayang, Ilham juga sangat menikmati proses membuat wayang dengan tangannya sendiri.

Untuk menyelesaikan satu kepala wayang saja, Ilham membutuhkan waktu sekitar tiga hingga tujuh hari. Meski demikian, Abah Enju menilai Ilham memiliki kemampuan belajar yang cepat dalam bidang kriya yang tidak mudah dikuasai.

Menariknya, kegemaran pada seni tradisional tidak membuat Ilham melupakan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Menonton pertunjukan wayang hingga pukul 03.00 WIB sudah menjadi hal biasa baginya, namun keesokan harinya ia tetap datang ke sekolah tepat waktu dan menjalani aktivitas belajar seperti biasa.

Kecintaannya pada dunia perwayangan juga membawanya aktif mengikuti berbagai ajang seni di tingkat sekolah maupun kabupaten. Ilham beberapa kali terlibat dalam perlombaan seni kriya.

Pada 2025, ia tampil sebagai dalang dalam acara Gelar Karya P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) di SMAN 1 Parigi. Kini, kemampuan dan dedikasinya mengantarkannya menjadi perwakilan sekolah dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa dan Sastra Nasional (FLS3N) di bidang kriya.

Tidak berhenti di sana, Ilham juga mulai mengembangkan sisi kewirausahaannya. Melalui akun TikTok pribadinya, @baskom.tijungkir, ia memasarkan hasil karya yang dibuat sendiri. Satu kepala wayang buatannya dibanderol mulai dari Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Hobi yang awalnya berangkat dari kecintaan terhadap budaya kini juga menjadi aktivitas produktif yang menghasilkan.

Ilham pun memiliki cita-cita yang jelas. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Fakultas Seni Pertunjukan agar dapat mendalami seni perwayangan secara lebih serius.

Meski tak jarang mendapat komentar bahwa hobinya terkesan kuno atau tidak sesuai dengan anak seusianya, Ilham memilih tetap melangkah.

"Banyak yang bilang hobi ini kolot atau primitif, tapi menurut saya ini seni yang perlu lestari," ucapnya.

Menurut Ilham, dunia perwayangan bukan sekadar hiburan, tetapi ruang yang penuh filosofi dan nilai kehidupan.

"Karena penuh makna dan karya, kepuasannya itu bisa mempertahankan kelestarian budaya yang bagus," katanya.

Keinginannya untuk terus belajar pun semakin kuat.

"Ya pengen kuliah di ISBI Bandung, pengen mendalami bidang seni untuk membuat pertunjukan seni wayang lebih sering lagi," ucapnya.

Kisah Ilham menjadi bukti bahwa regenerasi pelestari budaya masih terus berjalan. Di tengah perubahan zaman, ia menunjukkan bahwa anak muda tetap bisa mencintai akar budayanya, menjaga warisan leluhur, dan membawanya tetap hidup di masa depan.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads