Adu Tulang Kering Ala Cimande, Pulangnya Tetap Salaman No Baper

Adu Tulang Kering Ala Cimande, Pulangnya Tetap Salaman No Baper

Andry Haryanto - detikJabar
Senin, 25 Mei 2026 07:00 WIB
Adu Tulang Kering Ala Cimande
Adu Tulang Kering Ala Cimande (Foto: Andry Haryanto)
Bogor -

"Diondang saha aranjeun kadieu? Diondang kaondang ku sora kendang, kapelet ku sora tarompet, karumpul ku sora kempul..."

Kalimat itu terucap dari mulut Sesepuh Penca Cimande Didih Supriadi (61). Suaranya terdengar berat namun akrab, membuka malam di sebuah lapang sederhana di kaki Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Bogor.

Lapangan itu tidak megah. Tidak ada panggung besi, lampu warna-warni, atau dentuman pengeras suara seperti pertunjukan musik dangdut. Rumput masih basah sisa hujan semalam. Tanah lembap menempel di sandal dan kaki warga yang datang sejak sore, Minggu (17/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun satu per satu masyarakat terus berdatangan setelah Isya. Warga yang berdagang makanan ringan dan minuman menyesaki jalanan setapak. Anak-anak kecil duduk di pinggir lapang. Remaja bergerombol sambil bercanda. Para orang tua menggelar duduk melingkar beralas rumput dan tanah. Laki-laki dan perempuan berkumpul tanpa sekat, menghadap arena kecil di tengah lapang.

Angin gunung yang dingin terasa menggigit kulit. Sesekali suara kendang dan tarompet memecah suasana malam yang mulai gelap. Tidak ada tiket masuk. Tidak ada pagar pembatas. Tapi semua orang menunggu satu hal yang sama: bincurang.

ADVERTISEMENT

Bagi masyarakat Cimande, bincurang bukan sekadar adu tulang kering. Tradisi itu sudah lama menjadi ruang silaturahmi, ajang adu ketangkasan, sekaligus cara masyarakat menjaga warisan penca turun-temurun.

Sebelum bincurang dimulai, sejumlah pemuda lebih dulu memasuki arena untuk melakukan penca salancar. Mereka bergerak bergantian mengikuti irama kendang. Sesekali sorak penonton terdengar ketika kaki mulai saling beradu di tengah lingkaran warga. "Tas... tas.. tas" bunyi kaki peserta saling beradu.

"Kalau dulu orang tua kami bilang, sebelum turun ke lapangan harus menca dulu, harus pakai adab," ujar Didih Supriadi, saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (17/5/2026).

Tradisi bincurang dilakukan dengan saling menendang bagian tulang kering lawan menggunakan kaki. Arahnya dari lutut ke bawah. Meski terdengar keras, tradisi itu justru dikenal menjunjung sportivitas. Setelah selesai bertanding, para pemain biasanya saling bersalaman. Tidak ada dendam apalagi baper ketika keluar dari gelanggang.

"Yang sering ribut itu justru penontonnya, bukan pemain di lapangan," kata Aki Didih sambil tertawa.

Penca Cimande, Filosofi Menghancurkan dan Merawat

Di balik kerasnya benturan kaki dalam bincurang, penca Cimande menyimpan filosofi yang tidak hanya bicara soal menyerang. Bagi masyarakat Cimande, seseorang yang belajar penca tidak boleh berhenti pada kemampuan menghancurkan lawan.

Aki Didih mengatakan, orang tua terdahulu sudah menanamkan pemahaman bahwa orang yang belajar bela diri juga harus mampu merawat sesama.

"Karena kita belajar penca, belajar silat, pasti ada yang sampai bengkak, ada yang sampai patah, keseleo bisa terjadi. Orang tua dulu sudah menyiapkan, jangan hanya bisa merusak, tapi harus bisa memperbaiki," ujarnya.

Filosofi itu pula yang membuat tradisi penca Cimande tidak dilepaskan dari adab dan pengendalian diri. Sebelum belajar gerakan dasar, murid terlebih dahulu menerima talek atau sumpah sebagai pondasi moral.

Talek itu berisi larangan mabuk, berjudi, melawan orang tua, hingga menyakiti orang lain. Menurut Aki Didih, penca tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan.

"Talek itu pondasi agar setelah belajar silat tidak ada kesombongan," katanya.

Adu Tulang Kering Ala CimandeAdu Tulang Kering Ala Cimande Foto: Andry Haryanto

Karena itu pula, dalam bincurang yang terlihat keras sekalipun, para pemain tetap menjaga batas. Mereka boleh saling menjatuhkan, tetapi setelah pertandingan usai mereka kembali duduk bersama, bercanda, dan bersalaman.

Bagi masyarakat Cimande, penca bukan semata urusan kekuatan tubuh. Di dalamnya ada pelajaran tentang menghormati lawan, menjaga emosi, hingga memahami kapan harus menyerang dan kapan harus menahan diri.

Pantauan di arena pertarungan, tidak sedikit peserta yang meringis kesakitan usai berlaga. Namun tidak sedikit pula yang menahan sakit tanpa pemijatan ala Cimande usai beradu kuat tulang kering.

Dayat (16), salah seorang peserta bincurang mengaku sudah cukup sering mengikuti tradisi tersebut, meski tidak bergabung dalam perguruan penca tertentu. Remaja asal Kampung Sembare itu mengatakan dirinya ikut bincurang hanya bermodal keberanian dan kemauan sendiri.

"Belajar sendiri aja. Kemauan sendiri. Modal nekat," ujar Dayat sambil tertawa kecil usai turun dari arena.

Malam itu Dayat dua kali masuk gelanggang. Baginya, bincurang bukan soal emosi atau mencari musuh. Bahkan ia mengaku lebih nyaman menghadapi lawan yang tidak dikenal.

"Kalau yang dikenal agak enggak enak, takut," katanya.

Meski tulang kering dan lututnya sempat terasa ngilu akibat benturan keras, Dayat mengaku belum pernah mengalami cedera serius selama mengikuti bincurang.

Hal serupa disampaikan Muhammad Azril (14). Remaja itu mengaku baru pertama kali turun ke arena bincurang setelah diajak temannya. Awalnya ia hanya menonton di pinggir lapang sebelum akhirnya memberanikan diri masuk ke tengah arena.

"Tadi disuruh teman turun," kata Azril.

Menurut Azril, aturan dalam bincurang cukup sederhana. Para peserta hanya diperbolehkan menggunakan kaki untuk menyerang bagian tulang kering lawan. Tangan sama sekali tidak boleh digunakan.

"Kaki doang. Kalau tangan enggak boleh, memang aturannya begitu," ujarnya.

Meski sempat terbawa emosi saat bertanding, Azril mengatakan pertandingan tetap berakhir biasa saja. Tidak ada perkelahian lanjutan usai keluar dari arena. Peserta yang mengalami luka biasanya langsung ditangani guru atau senior perguruan yang berada di lokasi.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads