Penca Cimande yang Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Penca Cimande yang Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Andry Haryanto - detikJabar
Minggu, 24 Mei 2026 16:00 WIB
Penca Cimande.
Penca Cimande. (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

Di Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, bunyi langkah kaki di halaman padepokan masih terdengar hampir setiap pekan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua bergantian mempelajari gerak dasar penca yang diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, masyarakat Cimande konsisten menjaga tradisi dengan cara lama: lisan, keteladanan, dan kedekatan antargenerasi.

Sesepuh Cimande, Didih Supriadi atau akrab disapa Aki Didih, mengatakan bahwa budaya itu bertahan bukan karena kemegahan bangunan atau dukungan teknologi, melainkan karena masih adanya individu yang berdedikasi melestarikannya. Menurutnya, Cimande bukan sekadar aliran silat, melainkan bagian dari warisan hidup yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Budaya Cimande tidak akan hilang selama masih ada para pelaku. Walaupun sekarang zaman sudah canggih, orang masih datang sendiri untuk belajar," ujar Aki Didih saat berbincang dengan detikJabar, belum lama ini di Saung Penca Cimande, Kabupaten Bogor.

Bagi pria berusia 61 tahun ini, tantangan terbesar sekarang bukan datang dari budaya luar, melainkan perubahan gaya hidup generasi muda. Ia menilai banyak anak muda kini lebih mengutamakan gaya dibandingkan adab dalam mempelajari tradisi.

ADVERTISEMENT

"Anak sekarang kadang mengandalkan emosi dan gaya dulu. Padahal budaya itu harus pakai rasa, sopan santun, dan adab," katanya seraya menyesap kretek.

Meski begitu, Aki Didih tetap optimistis. Sebab, latihan penca di Cimande kini mulai diikuti anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, pengenalan budaya sejak kecil menjadi langkah krusial agar tradisi tidak tergerus arus modernisasi dan pengaruh media sosial.

"Kalau kita mengalah, kasihan generasi muda kita bisa hancur. Makanya sekarang usia tiga tahun pun sudah mulai dikenalkan budaya (Penca Cimande)," ucapnya.

Tidak hanya warga lokal, murid dari mancanegara juga rutin menyambangi desa yang berjarak 35 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Bogor di Cibinong tersebut. Mereka datang dari Belanda, Jerman, hingga Prancis untuk mempelajari langsung tradisi penca asli dari tanah kelahirannya.

"Orang luar negeri sekarang justru sedang mencari tradisi asli Indonesia," kata dia.

Di tengah menjamurnya berbagai versi aliran silat di luar negeri, masyarakat Cimande tetap mempertahankan gerak dasar yang diyakini tidak berubah sejak awal diwariskan. Tradisi itu juga dipagari melalui talek atau sumpah moral yang wajib diterima setiap murid sebelum mulai mempelajari penca.

Talek, Fondasi Moral Penca Cimande

Selain gerakan fisik, Cimande mengenal talek atau takleq, yakni sumpah dan nasihat moral yang wajib dipegang teguh oleh murid. Aki Didih menyebut talek sebagai 'talqin hidup' agar murid tidak menyalahgunakan ilmu yang mereka pelajari.

Menurutnya, seluruh murid aliran Cimande wajib menjalankan talek tersebut. Isinya bukan sekadar teknis latihan silat, melainkan menyangkut adab, perilaku, dan hubungan sosial antarmanusia.

Adapun 14 talek Cimande yang diwariskan secara turun-temurun itu di antaranya: Taat kepada Allah dan Rasul-Nya; Jangan melawan ibu dan bapak; Jangan melawan guru dan pemerintah; Jangan berjudi dan mencuri; Jangan sombong dan takabur; serta Jangan berzina.

Poin selanjutnya mencakup: Jangan bohong dan berkhianat; Jangan mabuk-mabukan dan menghisap madat; Jangan iri dan dengki; Jangan menyakiti hati orang lain; Jangan mengambil hak orang lain; Harus menjaga sopan santun; Harus menjaga persaudaraan; serta Harus menjaga agama dan budaya leluhur.

"Talek itu pondasi supaya setelah belajar silat tidak ada kesombongan. Isinya semua kebaikan," kata Aki Didih.

Aki Didih menjelaskan, tidak ada hukuman fisik atau sanksi adat khusus bagi murid yang melanggar talek. Namun, setiap pelanggaran diyakini akan menjadi tanggung jawab spiritual pribadi masing-masing.

"Kalau ada murid yang melanggar, itu resikonya dia sendiri. Guru tidak pernah mengajarkan kejelekan," ujarnya.

Pelanggaran terhadap talek lebih dimaknai sebagai kegagalan moral. Murid yang mengaku telah melanggar biasanya akan diingatkan untuk bertobat dan memperbaiki diri.

"Allah Maha Pengampun. Bertobatlah," kata Aki Didih menirukan nasihat yang biasa ia berikan kepada para muridnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads