Milangkala Tatar Sunda Usai, Mahkota Binokasih Kembali ke Sumedang

Milangkala Tatar Sunda Usai, Mahkota Binokasih Kembali ke Sumedang

Dwiky Maulana Vellayati - detikJabar
Senin, 18 Mei 2026 19:06 WIB
Prosesi pengembalian Mahkota Binokasih dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke Kerajaan Sumedang Larang.
Prosesi pengembalian Mahkota Binokasih dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke Kerajaan Sumedang Larang. Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar
Sumedang -

Mahkota Binokasih telah kembali ke bumi Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Senin (18/5/2026). Mahkota yang merupakan simbol dari kerajaan dari Sunda ini sebelumnya diketahui telah diarak dalam kegiatan Milangkala Tatar Sunda.

Mahkota Binokasih diserahkan langsung ke Keraton Sumedang Larang oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan diterima oleh Paduka yang Mulia (PYM) Sri Radya H.R.I Lukman Soemadisoeria.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Dedi, digelarnya Milangkala Tatar Sunda yang berjalan sekitar dua pekan tersebut memiliki dampak yang besar bagi masyarakat terutama perputaran ekonomi di Jawa Barat, terutama okupansi hotel.

"Dari sisi ekonomi kan memberikan implikasi yang cukup kuat. Coba lihat hotel-hotel penuh, orang tumbuh yang kunjungan ke Jawa Barat makin meningkat, dan beberapa daerah mulai nampak bersih," ujar Dedi.

ADVERTISEMENT

"Ini kan spirit yang harus dibangun terus, dan kita lihat bahwa spirit masyarakat Jawa Barat sangat kuat. Jadi ukuran spirit misalnya kehadiran mereka untuk menyambut, kalau dikalkulasikan itu kan sudah jutaan orang dari sekian keliling. Dan peristiwa ini kan tidak pernah ada di Jawa Barat yang selama ini dijalankan," sambungnya.

Meski Milangkala Tatar Sunda berjalan meriah, Dedi mengaku masih terdapat cacatan penting yang harus diperbaiki selama perjalanan Milangkala Tatar Sunda. Dalam kegiatan ke depan, ia meminta agar seluruh daerah di seluruh Jawa Barat dapat lebih baik dan meningkatkan kebersihan lingkungan.

"Ya, catatannya adalah seluruh daerah ke depan harus jauh lebih baik, kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan lingkungannya harus dikuatkan, tata arsitekturnya harus segera dibangun, branding nya harus dikembangkan, serta tata estetika harus sangat kuat," katanya.

Di sisi lain, sebagai contoh, Dedi juga mengaku memberikan catatan penting seperti daerah Cirebon yang belum memaksimalkan bangunan-bangunan yang berada di sekitar keraton. Ia menilai jika hal tersebut dapat dimaksimalkan tentu akan mendapatkan suatu estetika yang dapat menjemput wisatawan.

"Saya memberikan catatan penting, misalnya di Cirebon, keraton-keraton, itu kurang mendapat ruang yang cukup terbuka karena dikepung oleh bangunan-bangunan baru," katanya.

"Dan bangunan barunya tidak selaras dengan bangunan keraton. Nanti ke depan itu seluruh bangunan yang ada di sekitar keraton itu bangunannya harus selaras. Baru akan melahirkan gelombang publik untuk datang," ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan rasa syukur atas digelarnya Milangkala Tatar Sunda dengan membawa Mahkota Binokasih yang menjadi identitas dari Sumedang.

"Iya tentunya bersyukur pada Allah sebuah peringatan Tatar Sunda dimulai dari Sumedang dan sekarang diakhiri dengan pengembalian kembali Mahkota Binokasih ke Sumedang," kata Dony.

"Alhamdulillah, semua berjalan aman, damai, lancar. Mayoritas masyarakat sangat menikmati proses ini, dan saya yakin ini akan memberikan makna, manfaat, dan dampak bagi masyarakat Jawa Barat. Pertama, tentang sejarah, masyarakat, anak-anak sekolah, pemuda, dewasa, mereka semakin paham berkaitan dengan Kerajaan Sunda yang telah ada," tambahnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads