Anak Harimau Kembar dalam Legenda Orang Panjalu

Unak-anik Jabar

Anak Harimau Kembar dalam Legenda Orang Panjalu

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Jumat, 15 Mei 2026 09:00 WIB
Ilustrasi harimau kembar.
Ilustrasi harimau kembar. (Foto: Gemini AI)
Bandung -

Anak harimau Benggala (Panthera tigris tigris) kembar di Bandung Zoo, yaitu Huru dan Hara, mati baru-baru ini. Hara mati terlebih dahulu pada Selasa (24/3/2026). Dua hari kemudian, pada Kamis, saudaranya, Huru, menyusul ke haribaan Hyang Seda Niskala.

Peristiwa duka ini membuat sedih terutama orang-orang yang terlibat langsung mengurus keduanya. Huru dan Hara lahir dari pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun) pada 12 Juli 2025 melalui proses 'perjodohan' yang panjang.

Ketika umurnya masih 'kembang buruan' (lucu selayaknya kanak-kanak), keduanya mati terjangkit virus panleukopenia. Virus itu menular dari induknya. Penularan virus bisa melalui produk anal atau aktivitas nasal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain para pengasuh Huru dan Hara, tentu masyarakat secara umum merasa kehilangan. Tak terkecuali orang Sunda yang dalam kebudayaannya sangat lekat dengan cerita harimau. Naskah kuno Wawacan Prebu Kian Santang menyebutkan para penghuni kerajaan Pajajaran yang bubar karena khawatir terpengaruh Kian Santang, memilih pergi ke hutan-hutan dan berubah menjadi harimau.

Di wilayah Panjalu yang merupakan bagian dari Kabupaten Ciamis sekarang ini, masyarakat juga mengenal legenda terkait harimau. Ada anak harimau kembar yang menjadi asal-usul Maung Panjalu.

ADVERTISEMENT

Bagaimana legenda anak harimau kembar itu? Simak ceritanya sampai tuntas dalam artikel ini!

Bongbanglarang dan Bongbangkancana

Masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya di Panjalu, mengenal cerita turun-temurun mengenai sepasang harimau atau maung bernama Bongbanglarang dan Bongbangkancana. Keduanya adalah kakak-beradik. Bongbanglarang adalah jantan dan Bongbangkancana adalah betina.

Yetty Kusmiyati Hadish dalam buku berjudul 'Sastra Lisan Sunda: Mite, Fabel, dan Legende' terbitan Departemen P dan K Republik Indonesia, 1979, menuliskan cerita tentang anak kembar yang berubah menjadi harimau di Panjalu. Cerita ini didapat dari penuturan R. Agus Sujanaatmaja. Ketika diwawancara terkait cerita ini tahun 1976, Agus berstatus sebagai veteran TNI. Begini ceritanya dalam bahasa Indonesia:

Menurut tutur orang tua, putri raja Pajajaran diperistri oleh putra raja Majapahit. Waktu sedang mengandung tujuh bulan, dia memaksa ingin pulang ke Pajajaran untuk melahirkan di sana. Tetapi tidak mendapat izin, karena itu perempuan itu pergi tanpa pamit, sampai terlunta-lunta berbulan-bulan di jalan.

Waktu sampai di Kampung Ganjar, di daerah Panjalu, putri ini melahirkan dua orang putra kembar; seorang wanita, seorang lainnya pria. Tembuninya ditempatkan dalam sebuah periuk, dikuburkan di bawah pohon di tempat tersebut, yang kemudian di sana menjadi kulah (kolam kecil).

Sesudah merasa kuat, lalu putri itu meneruskan perjalanan ke Pajajaran. Di Pajajaran, oleh kakeknya, kedua anak itu diberi nama Bongbanglarang dan Bongbangkancana.

Sesudah besar keduanya ingin menemui ayahandanya, tetapi tidak mendapat izin dari ibundanya. Karena itu, mereka berdua pergi tanpa pamit hingga sampai di daerah Panjalu.

Kepala Masuk ke Periuk

Tidak jauh dari tempat mereka dahulu dilahirkan, ada sebuah pondok tempat tinggal kakek dan nenek petani. Keduanya merasa lapar dan haus, lalu minta makan kepada kakek dan nenek petani tersebut.

Nenek petani segera bertanak, memasak apa yang bisa dimakan. Pada saat hidangan sudah masak, dan karena tidak ada air minum, si nenek petani pergi mengambil air di kolam kecil yang pada mulanya merupakan tempat mengubur tembuni kedua anak tersebut.

Namun, tanpa izin dan kehadiran si nenek, kedua anak itu karena laparnya langsung makan nasi dari periuknya.

Waktu nenek petani datang membawa air, karena sangat haus, wadah air direbut Bongbangkancana, lalu direguknya langsung dari tempatnya. Wadah itu tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya dan tidak dapat dilepaskan.

Kakek dan nenek petani kebingungan, lalu menyuruh mereka mengunjungi Kakek Garahang untuk melepaskannya. Pergilah mereka ke kampung tempat Kakek Garahang berada. Bongbangkancana dibimbing oleh Bongbanglarang.

Di suatu tempat yang agak jauh dari kediaman, oleh Kakek Garahang periuk itu dipukul dengan Kujang. Wadah berupa gerabah tanah itu pecah dan kepingannya yang jatuh ke tanah berubah menjadi sebuah kolam kecil. Kakek Garahang kemudian mengurus kolam kecil tersebut serta mengumumkan bahwa tidak boleh ada yang merambahnya.

Tidak Mendengar Nasihat Kakek Garahang

Kedua anak tersebut lalu tinggal sementara waktu bersama Kakek Garahang. Namun, namanya juga anak-anak, pada suatu hari ketika Kakek Garahang akan meninggalkan rumah, dia berpesan kepada mereka agar tidak bermain-main di kolam yang berasal dari pecahan gerabah tadi.

Tetapi waktu Kakek Garahang sudah pergi, keduanya merasa penasaran ingin mengetahui kolam tersebut. Sebab, tampak oleh mereka airnya begitu bening dan jernih.

Maka, keduanya menuruni kolam tersebut. Ketika selesai, mereka pergi ke tepian kembali. Sampai di tepi, tampaklah muka kakaknya menjadi harimau karena tadi dia membasuh muka dengan air itu, sementara adiknya hanya kakinya yang berbulu.

Bongbangkancana menangis menjerit-jerit, diikuti Bongbanglarang. Keduanya menangis keras-keras, sehingga dalam kepanikan itu, mereka akhirnya malah terjerembab masuk kolam. Seluruh tubuh mereka basah oleh air itu.

Maka, sewaktu naik kembali ke tepian kolam, keduanya sudah berubah bentuk menjadi harimau. Keduanya lalu kembali ke kediaman Kakek Garahang.

Waktu si kakek sudah datang, mereka memaparkan pengalamannya. Kakek Garahang menyuruh mereka meneruskan perjalanan ke Majapahit.

Perjalanan Panjang ke Majapahit

Dalam tubuh yang telah menjadi harimau, kedua anak kembar itu meneruskan perjalanan ke tanah ayahnya, Majapahit. Di perjalanan, waktu sampai ke sebuah tempat yang banyak ditumbuhi oyong (tumbuhan untuk sayur semacam mentimun), keduanya terbelit oleh sulurnya sehingga tak bisa lepas. Pemilik kebun menemukannya, lalu mereka dihanyutkan di sungai.

Di sungai, keduanya malah masuk ke dalam bubu, alat untuk menangkap ikan yang terbuat dari jalinan bambu. Oleh pemiliknya, bubu diangkat, lalu keduanya dilepaskan. Mereka meneruskan perjalanan ke Majapahit.

Sampai di Majapahit, mereka langsung datang ke keraton. Orang keraton tak tinggal diam melihat dua anak harimau masuk ke wilayahnya. Keduanya dikepung.

Sesudah dapat ditangkap, mereka ingin selamat lalu berbicara. Kedua harimau itu bisa bicara. Keduanya meriwayatkan siapa diri mereka hingga akhirnya diakui oleh raja. Oleh raja, keduanya kemudian dikembalikan ke tanah kelahirannya, Panjalu.

Menurut cerita, dari kejadian ini terjadilah berbagai cegahan, pamali, atau tabu. Semua keturunan Panjalu tidak boleh makan nasi dari periuknya, menanam dan makan oyong, serta makan ikan yang berasal dari lukah dan bubu besar. Kalau cegahan itu dilanggar, dipercaya akan ada akibatnya.

Halaman 2 dari 3
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads