Kemeriahan Prosesi Kirab Mahkota Bino Kasih di Sumedang

Kemeriahan Prosesi Kirab Mahkota Bino Kasih di Sumedang

Dwiky Maulana Vellayati - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 00:14 WIB
Kirab Mahkota Binokasih di Sumedang.
Kirab Mahkota Binokasih di Sumedang (Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar).
Sumedang -

Lantunan musik khas Sunda begitu nyaring terdengar di area Keraton Sumedang Larang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Musik itu mengiringi awalnya rangkaian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda tahun 2026 dengan prosesi Kirab Panji Mahkota Binokasih, pada Sabtu (2/5/2026).

Dengan adanya kirab ini, jalanan dari pusat kota Sumedang tampak tidak seperti biasanya. Masyarakat dari berbagai macam kalangan terlihat berdiri di sepanjang jalanan menuju Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS). Mereka diketahui ingin melihat secara langsung Kirab Mahkota Binokasih yang dibawa menggunakan kereta kencana.

Sekadar informasi, Mahkota Binokasih ini merupakan simbol kemaharajaan Sunda. Mahkota tersebut diketahui diberikan dari Kerajaan Padjajaran ke Kerajaan Sumedang Larang. Sehingga, hingga saat ini Mahkota Binokasih tersimpan di Kabupaten Sumedang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prosesi dari Kirab Panji Mahkota Bino Kasih sendiri merupakan awal rangkaian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda tahun 2026. Kirab tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Dedi menjelaskan, Milangkala Tatar Sunda ini akan rutin digelar pada setiap tahunnya. Kebijakan ini kemudian diperkuat dengan penetapan Pergub yang saat ini sudah dalam persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Menurutnya kegiatan ini juga dilakukan sebagai bentuk menjaga maupun lebih mengenali dari budaya hingga kemaharajaan Sunda itu sendiri.

ADVERTISEMENT

"Ini rutin. Makanya milangkalanya Tatar Sunda. Kalau dibilang Tatar Sunda maka tidak terbatas lagi pada Jawa Barat. Kita teman-teman yang Banten katakan, tatar sunda. Kemudian sebagian dari wilayah Jawa Tengah kan ada desa-desanya yang itu masih bertradisi Sunda. Nah, itu mereka bisa menjadi bagian untuk diingatkan," ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan alasan memilih Kabupaten Sumedang menjadi titik awal dari Milangkala Tatar Sunda. Sebab, Sumedang sendiri menjadi wilayah yang lekat akan peradaban Sunda yang fisiknya masih tersisa untuk sekarang karena memiliki Mahkota Binokasih. Sejauh ini, Dedi mengamati bahwa masih banyaknya jejak sejarah Sunda yang masih hilang. Oleh karenanya, keberadaan dari Mahkota Binokasih menjadi suatu jawaban terkait kemaharajaan dari Sunda.

"Ya, karena mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi," katanya.

"Nah kemudian, jejak yang masih tersisa adalah Mahkota Binokasih. Mulai tahun ini, arak-arakan Mahkota Binokasih dikemas dalam nuansa budaya, bukan lagi sekadar menggunakan kendaraan modern. Ini adalah upaya menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur," ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan rasa bangga bahwa kegiatan dari Milangkala Tatar Sunda diawali di Kabupaten Sumedang. Ia juga menganggap bahwa Sumedang sendiri memiliki keistimewaan dengan hadirnya Mahkota Binokasih.

"Saya bersyukur, berbahagia. Ini sebuah perhelatan yang luar biasa, syarat akan makna bagaimana sebuah milangkala menjadi cerita sejarah dan kompas bagi masa depan Jawa Barat dan Sumedang ada di dalamnya," kata Dony.

Selain itu, Dony juga menyambut positif akan perhelatan Milangkala Tatar Sunda. Ia menyebut kegiatan ini juga membawa dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi lokal, mulai dari tingkat hunian hotel hingga ramainya restoran dan pelaku UMKM.

"Ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat," pungkasnya.

Selanjutnya, Mahkota Binokasih sendiri nantinya akan di pamerkan dengan menyusuri jejak kejayaan Tatar Sunda ke beberapa titik yang diantaranya Kabupaten Sumedang, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Karawang, Kita Cirebon, dan terakhir pada puncaknya di Kota Bandung.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pramono-Dedi Mulyadi Asyik Ngobrol di Acara Rapat Koordinasi KPK"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads