Upaya KCBI Membumikan Wastra Nusantara

Upaya KCBI Membumikan Wastra Nusantara

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 07:30 WIB
Perayaan HUT KCBI Bandung ke-11 di Rumah Batik Komar Bandung, Senin (11/4/2026)
Perayaan HUT KCBI Bandung ke-11 di Rumah Batik Komar Bandung, Senin (11/4/2026) (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar)
Bandung -

Wastra Nusantara masih kerap dianggap terlalu formal dan hanya cocok dipakai di acara tertentu. Anggapan ini membuat sebagian orang, termasuk generasi muda, merasa kurang percaya diri mengenakannya dalam aktivitas sehari-hari.

Padahal, wastra alias kain tradisional Indonesia seperti batik, tenun, hingga songket bisa tampil secara fleksibel jika dipadupadankan dengan gaya yang tepat. Mulai dari bekerja, pesta, bahkan hingga olahraga.

Pandangan tersebutlah yang berupaya dibangun oleh Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) cabang Bandung. Selama 11 tahun berdiri, komunitas dengan anggota lebih dari 200 wanita ini mendorong penggunaan wastra agar lebih membumi dan mudah diterapkan dalam keseharian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua KCBI Bandung Yeyen Komar mengatakan, berkain tidak harus identik dengan kebaya atau tampilan resmi. Ia menekankan bahwa kain bisa dipakai dengan atasan kasual agar terasa lebih ringan dan tidak kaku.

"KCBI membudayakan cinta berkain dalam keseharian. Jadi enggak usah harus kebaya, atasannya boleh kasual, menyesuaikan dengan acara yang dihadiri," ujarnya saat ditemui di sela perayaan HUT ke-11 KCBI Bandung di Rumah Batik Komar, Senin (27/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sejak berdiri pada 24 April 2015, KCBI Cabang Bandung aktif menghadirkan wastra dalam berbagai kegiatan. Tak hanya yang bernuansa seremonial, mereka memadukan aktivitas sosial hingga gaya hidup sehari-hari sebagai bagian dari upaya edukasi. Cara tersebut dinilai lebih efektif karena langsung menyentuh kebiasaan masyarakat.

Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan adalah bakti sosial saat Ramadan. Dalam kegiatan tersebut, anggota komunitas tetap mengenakan kain saat mengunjungi rumah jompo, rumah singgah, dan lain-lain.

"Kami mengunjungi rumah jompo, membagikan bantuan kepada marbot-marbot masjid, itu dengan tetap berkain. Selain memberikan bantuan, kami juga memberikan kain," terangnya.

Upaya memasyarakatkan wastra juga dilakukan lewat kegiatan santai seperti diskusi di kafe. Momentum Hari Kartini kerap dimanfaatkan untuk membahas batik, seni, dan nilai budaya yang terkandung dalam kain tradisional.

"Kita bincang tentang batik, tentang seni. Saya tetap mengedepankan edukasi wastranya. Enggak usah pakai yang mahal, tapi tetap harus wastra," katanya.

Menurut Yeyen, penting untuk membedakan wastra asli dengan produk tekstil biasa. Ia menegaskan bahwa kain yang digunakan harus dibuat secara tradisional, bukan sekadar hasil cetak.

"Wastra di sini harus dibuat secara tradisional, bukan printing," ujarnya.

Di samping itu, komunitas ini juga rutin hadir di ruang publik dengan seragam wastra yang sengaja dibuat mencuri perhatian. Tujuannya, agar masyarakat merasa tertarik dan penasaran untuk memahami kain tradisional Indonesia lebih jauh.

"Seperti misalnya waktu perayaan 17 Agustus. Kami isi dengan berkain sambil jalan pagi, pakai tema merah-putih. Nanti di Braga, di tengah-tengah keramaian, kita lakukan line dance. Itu kan jadi pusat perhatian ya. Tapi dengan tujuan untuk kebaikan. Agar orang-orang lebih memahami kain," paparnya.

Tantangan Menggaet Kaum Muda

Meski sudah memiliki lebih dari 200 anggota, tantangan regenerasi masih menjadi pekerjaan rumah. Yeyen mengakui bahwa minat perempuan di usia 30-an untuk berkain wastra masih relatif rendah. Hingga saat ini, usia anggota KCBI Bandung termuda adalah di kisaran 40 tahun.

"Saya pribadi juga jarang menemukan ibu-ibu muda yang mau berkain. Baru yang usia 40-an ke atas," katanya.

Perayaan HUT KCBI Bandung ke-11 di Rumah Batik Komar Bandung, Senin (11/4/2026)Perayaan HUT KCBI Bandung ke-11 di Rumah Batik Komar Bandung, Senin (11/4/2026) Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Untuk menjawab tantangan tersebut, KCBI mengandalkan pendekatan keteladanan dan media sosial. Yeyen aktif membagikan gaya berkain sehari-hari di Instagram miliknya yang memiliki lebih dari delapan ribu pengikut.

Tujuannya, agar gaya pemakaian wastra Nusantara yang lebih fleksibel dan tidak terkesan kaku bisa lebih banyak diketahui masyarakat. Upaya ini ternyata mendapat respons baik.

"Kadang-kadang ada perasaan, aduh saya ini narsis banget enggak ya, terlalu banyak posting di medsos. Tapi ternyata banyak yang menyapa, bilang kalau mereka suka melihat Instagram saya. Katanya padu-padannya menginspirasi banget," tuturnya.

Oleh karena itu, ia pun mulai banyak melibatkan generasi yang lebih muda melalui kegiatan seperti bincang-bincang dengan tema wastra Nusantara. Narasumber yang dihadirkan biasanya berassal dari kalangan Milenial.

"Alhamdulillah sudah mulai banyak yang suka. Tapi memang untuk usia 30-an itu masih jadi PR banget," katanya.

Dalam praktiknya, Yeyen menekankan bahwa berkain bisa dimulai dari hal sederhana. Ia menyarankan pemula untuk memilih warna-warna netral seperti monokrom atau pastel agar lebih mudah dipadukan.

"Mudah saja sebenarnya. Tidak harus pakai kain yang mahal-mahal dan istimewa, yang penting nyaman. Bisa pakai warna-warna yang simpel seperti monokrom hitam-putih, atau warna pastel. Agar enggak terkesan terlalu serius," ungkap Yeyen.

Ia juga mencontohkan kebiasaan pribadinya yang mengenakan kain dalam berbagai aktivitas, termasuk saat bepergian. Menurutnya, kebiasaan ini secara tidak langsung menjadi bentuk edukasi kepada orang sekitar.

"Saya ke mana-mana pakai kain. Bahkan naik pesawat pun pakai kain. Terakhir ke Bali dengan Pak Komar pakai songket, atasannya blus biasa saja," paparnya.

Tanpa disangka, ia mengatakan, kebiasaan berkain dalam keseharian tersebut kerap diperhatikan oleh sekitar. Ia mengaku pernah mendapat respons langsung dari orang yang terinspirasi melihat gaya berkainnya.

"Waktu itu ada yang melihat saya dan suami pakai kain tapi malu untuk menyapa. Dia bilang, Mbak Yen keren banget naik bus pakai kain," kenangnya.

"Hal itu membuat saya semakin yakin. Kebiasaan kecil seperti yang saya lakukan ternyata banyak yang memerhatikan. Ini jadi bentuk edukasi perlahan lewat contoh sehari-hari," lanjutnya.

Lebih jauh, upaya memasyarakatkan wastra Nusantara agar lebih populer di kalangan masyarakat tak berhenti pada tatanan fesyen dan budaya. Melainkan juga jalan untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih mensejahterakan para pengrajin kain.

"Salah satu misi kita adalah memasyarakatkan kain-kain ini dengan benar, sehingga pengrajin kain pun bisa meningkatkan penjualan dan daya cipta mereka. Memakai kain bukan sekedar gaya berpakaian tapi membawa misi nasionalisme," ungkap Ketua KCBI Pusat Sita Hani Mastuti dalam kesempatan yang sama.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads