Mahakarya 60 Pelukis Jelekong: Lukisan Raksasa di Tengah Sawah

Mahakarya 60 Pelukis Jelekong: Lukisan Raksasa di Tengah Sawah

Yuga Hassani - detikJabar
Sabtu, 11 Apr 2026 17:31 WIB
Penampakan lukisan raksasa karya 60 seniman lukis di Area Persawahan Batu Gajah, Kelurahan Jelekong
Penampakan lukisan raksasa karya 60 seniman lukis di Area Persawahan Batu Gajah, Kelurahan Jelekong (Foto: Yuga Hassani/detikJabar).
Kabupaten Bandung -

Pemandangan alam yang asri tampak menyejukkan di antara hamparan sawah yang menghijau. Hembusan udara sejuk menjadi simbol alam raya yang masih terjaga dengan semestinya.

Hamparan perbukitan dan rimbunnya pepohonan tumbuh bersahaja. Indahnya alam itu memantik inspirasi masyarakat dalam melahirkan karya-karya cemerlang.

Area persawahan Batu Gajah menjadi ruang kreatif kolektif bagi seniman lukis di Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Sebuah mahakarya lukisan berukuran 11x4 meter dipamerkan di area tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lukisan pemandangan alam itu dikerjakan oleh 60 seniman lokal dengan menyatukan 112 karya lukisan. Hasilnya menjadi sebuah karya indah dengan sentuhan tangan-tangan andal di atas kanvas.

"Kegiatan ini merupakan 'panen raya' kreativitas sekaligus pembuktian eksistensi Kampung Seni Jelekong," ujar Ketua Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI), Arya Sudradjat, saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/4/2026).

ADVERTISEMENT
Penampakan lukisan raksasa karya 60 seniman lukis di Area Persawahan Batu Gajah, Kelurahan JelekongPenampakan lukisan raksasa karya 60 seniman lukis di Area Persawahan Batu Gajah, Kelurahan Jelekong (Foto: Yuga Hassani/detikJabar).

Pihaknya mengungkapkan, lukisan raksasa yang dipamerkan tersebut memiliki keunikan pada materialnya. Para seniman menggunakan media daur ulang karung terigu sebagai pengganti kanvas konvensional.

"Tinta yang digunakan merupakan racikan resep turun temurun pelukis Jelekong yang mencampur cat mentahan, cat besi, serbuk sinquit," kata Arya.

Pameran atau pajang karya itu bertajuk Ngabaladahan. Konsep tersebut merujuk pada tahap awal mengolah kanvas kosong dalam dialek lokal, sekaligus menyimbolkan kebersamaan masyarakat.

"Istilah Ngabaladahan istilah ini bermakna lebih dalam sebagai metafora praktik seni komunal yang menitikberatkan pada proses kebersamaan masyarakat. Menghidupkan Jelekongism sebagai identitas nusantara," katanya.

Menurutnya, pameran lukisan megah tersebut menjadi manifestasi dari gagasan "Jelekongism". Gagasan itu merupakan sebuah gerakan untuk memposisikan seni rupa Indonesia agar tidak lagi melulu berkiblat pada sejarah seni Barat.

"Jelekongism adalah pembacaan kembali tradisi visual nusantara yang diadaptasi ke konteks sosial budaya saat ini," jelasnya.

Arya menjelaskan, Kampung Jelekong memiliki sejarah panjang yang dipelopori Abah Odin sejak tahun 1970-an. Jelekong bertransformasi dari masyarakat agraris menjadi komunitas pelukis mandiri.

"Hingga kini, berbagai teknik autentik seperti gaya sebring, beludru, spon hingga gaya kontemporer terus berkembang secara dinamis," ucapnya.

Selain pajang karya lukisan raksasa, penghargaan pun diberikan kepada tokoh pelukis legendaris Jelekong, Abah Odin. Sang maestro tersebut mentransformasi disiplin bela diri silat ke dalam seni lukis, mengubah jurus menjadi goresan.

"Dari tangan dinginnya lah lahir generasi pelukis yang menjaga teknik sekaligus jiwa karya Jelekong," ungkapnya.

Pengurus sekaligus pendiri YBJI, Susrinah Sanyoto, berharap yayasan tersebut bisa menjadi jembatan bagi pelukis Jelekong menuju pasar nasional maupun internasional. Menurutnya, kualitas karya pelukis Jelekong terus mengalami peningkatan setiap tahun.

"Peningkatan kualitas karya ini sangat penting agar memiliki nilai jual tinggi, yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf hidup para seniman itu sendiri," kata Susrinah.

Susrinah melihat adanya potensi besar dalam ekosistem ekonomi kreatif di Jelekong. Ia meyakini kelurahan tersebut bisa berkembang melalui berbagai aspek.

"Kita juga mengenalkan kuliner lokal, pertunjukan wayang golek, kesenian lainnya, hingga produksi mandiri cat, bingkai kayu, serta kanvas oleh warganya," tuturnya.

Salah satu pengunjung asal Jakarta, Indah Permata (52), mengaku mengetahui pameran ini dari salah satu pelukis Jelekong langganannya. Oleh karena itu, ia bersama keluarga menyempatkan diri untuk melihat secara langsung.

"Iya saya langganan suka beli lukisan ke sini (Jelekong). Terus dikasih tahu ada acara ini, saya dan keluarga langsung menyempatkan hadir," kata Indah.

Indah mengaku takjub dengan adanya lukisan raksasa tersebut. Apalagi lukisan itu dipajang di area persawahan yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan.

"Pas lihat lukisannya, luar biasa bagus sekali. Terus dipajang di sawah, sekalian melihat pemandangan alam juga saya datang ke sini tuh," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Penampakan Hajatan Meriah di Tengah Banjir Dayeuhkolot Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads