Kakaren Lebaran, Sisa yang Sarat Makna dalam Kearifan Sunda

Kakaren Lebaran, Sisa yang Sarat Makna dalam Kearifan Sunda

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 29 Mar 2026 11:33 WIB
Ilustrasi asal-usul Kakaren Lebaran
Foto: Istimewa
Bandung -

Di dalam bahasa Sunda, dikenal ungkapan 'saeutik mahi, loba nyésa' yang artinya makanan itu kalau sedikit pasti cukup, kalau banyak akan ada sisa.

Sudah menjadi kebiasaan orang Sunda jikalau ada makanan yang tersisa, tidak akan makanan itu dibuang kecuali sudah benar-benar basi. Makanan yang ketahanannya cukup lama, tentu akan disimpan untuk dimakan lagi di hari esok.

Begitu juga dengan makanan-makanan yang disediakan khusus untuk lebaran. Semua tahu, menjelang lebaran banyak kue-kue dan makanan ringan tradisional dibuat. Semua itu, diadakan demi menghormati tamu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentu pada momen lebaran selalu banyak tamu yang datang ke rumah untuk menyampaikan selamat berlebaran dan untuk saling bermaafan. Malu rasanya kalau ada tamu yang datang kemudian pemilik rumah tidak bisa menyuguhkan apapun, sekalipun sekadar segelas air.

Ada ungkapan bernada cibiran 'teu cai-cai acan' yang artinya tidak ada yang disuguhkan kepada tamu bahkan sekadar segelas air. Hal ini menjadi dasar budaya di Sunda tamu harus dihormati, apalagi pada momen lebaran.

ADVERTISEMENT

Tetapi, kue-kue dan makanan ringan tradisional yang dibuat di rumah-rumah jumlahnya kadang-kadang melebihi prediksi jumlah tamu yang akan datang. Sehingga, meski lebaran telah usai dan telah berlalu sepekan lebih, makanan itu masih tersisa di stoples-stoples.

Bahkan, ada stoples yang belum dibuka sama sekali, karena terlalu banyak pilihan makanan dan sukar untuk menghabiskannya dalam satu hari. Sisa-sisa kudapan lebaran ini oleh orang Sunda dikenal sebagai Kakaren Lebaran. Kakaren merujuk pada 'yang tersisa' dari jenis kue-kue dan kudapan tradisional seperti ranginang, opak, kolontong, dan lain-lain yang sifatnya awet.

Namun, bisa juga pada H+2 lebaran yang dimaksud dengan kakaren adalah makanan seperti sambal goreng kentang, mie bihun, acar, yang tidak habis lalu dihangatkan dengan cara menyatukan semua jenis masakan itu menjadi satu, sehingga menjadi 'tumis', tegasnya makanan yang dimasak dengan sangat sedikit minyak.

'Tumis' itu biasanya dijadikan cocolan untuk ulen ketan goreng pada H+2 lebaran. Uli ketang yang khas itu digoreng dalam minyak panas hingga tekstur luarnya renyah. Ulen renyah di luar tapi lembut di dalam. Ketika potongan ulen dicubit, cubitannya itu dicocol ke sepiring tumis sebelum dilahap. Begitulah cara orang Sunda menikmati ulen. Rasa dan tekstur makanan yang beragam berpadu dalam satu kunyahan.

Asal Usul Kakaren

Kata 'Kakaren' terbentuk seperti kata 'Pasantren', yaitu mengubah bunyi akhiran -ian menjadi bunyi -én. Ketika buyinya berubah, maka tulisannya juga berubah.

Pasantren terbentuk dari kata 'Pasantrian' yaitu tempat belajar para pelajar ilmu agama yang disebut santri. Pasantrian berubah bunyi menjadi pasantrén. Demikian halnya dengan Kakarén. Kata ini berasal dari Kakarian dengan kata dasar 'kari'. Ketika bunyinya berubah, maka tulisannya juga berubah. Dari kakarian menjadi kakarén.

Lalu, apa makna kakarén? Sebagaimana kata dasarnya 'kari' atau sisa. Maka kakarén adalah sesuatu yang tersisa. Jika anda mendengar orang Sunda bertanya tentang apa yang tersisa dari makanan yang tersedia, misalnya, orang tersebut akan bertanya: Kari naon? yang artinya 'apa yang tersisa?'.

Kata ini diterapkan juga untuk pekerjaan yang belum dilakukan. Misalnya, dalam sebuah organisasi perusahaan, ada setumpuk pekerjaan yang harus dituntaskan dan pekerjaan itu telah terbagi sesuai desk masing-masing. Tetapi, ada seorang yang tuntas atas pekerjaannya lebih awal. Dia akan bertanya untuk membantu: Kari naoneun? yang artinya 'apa yang belum dikerjakan?'.

Menurut Kamus Sundadigi, kakarén diartikan sebagai perubahan dari 'kakarian' yang artinya kari = sisa. Sisa makanan sehabis sedekah atau kenduri.

Makna Kakaren Lebaran

Seperti ungkapan di awal, orang Sunda percaya, makanan itu kalau sedikit harus cukup, kalau banyak harus tersisa untuk dimakan di hari selanjutnya. Ini adalah bagian dari kesederhanaan hidup orang Sunda.

Makanan yang melimpah tidak harus habis sehari, begitu adanya makanan yang tersisa, tidak harus dibuang jika masih layak untuk dimakan.

Dari konsep 'Kakaren Lebaran' ini, muncul sejumlah makna yang dapat dibaca sebagai bukti kesederhanaan orang Sunda dalam relasinya ketika berhadapan dengan makanan.

1. Teu Mubazir

Teu mubazir atau tidak boros sebagaimana tercermin dalam kakaren lebaran, mengandung makna lebih dalam dari sekadar menghabiskan makanan meski dianggap sisa.

Nilai ini menekankan kesadaran untuk menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, dan tidak menyia-nyiakan apa yang sudah dimiliki. Dalam masyarakat Sunda, membuang makanan yang masih layak konsumsi dianggap sebagai sikap yang tidak menghargai jerih payah dan berkah yang telah diberikan.

Lebih jauh, teu mubazir juga berkaitan dengan etika dalam mengelola sumber daya. Apa yang diambil dari alam harus seimbang dengan apa yang dibutuhkan. Prinsip ini (seharusnya) membuat masyarakat Sunda cenderung hidup selaras dengan lingkungan, tidak rakus, dan tidak konsumtif.

2. Ngajénan Rejeki

Ngajénan rejeki berarti menghormati dan menghargai setiap rezeki yang diterima, sekecil apa pun bentuknya. Rezeki dalam pandangan ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga mencakup kesempatan, kesehatan, dan hubungan sosial. Makanan yang tersaji di meja Lebaran dipandang sebagai titipan yang harus disyukuri, bukan sekadar dinikmati sesaat. Maka, jika tersisa, habiskanlah di lain hari selama masih layak.

Sikap ngajénan rézeki tercermin dalam cara masyarakat memperlakukan makanan dengan penuh hormat. Tidak ada yang dianggap remeh, bahkan sisa makanan pun tetap dijaga dan dimanfaatkan. Inilah yang membuat kakarén memiliki nilai tersendiri, karena di dalamnya terdapat kesadaran bahwa setiap butir nasi dan setiap lauk adalah hasil dari proses panjang.

3. Hirup Basajan

Hirup basajan atau hidup sederhana adalah bagian dari makna yang muncul dari 'kakaren lebaran'. Kesederhanaan dalam budaya Sunda bukan berarti kekurangan, melainkan kemampuan untuk merasa cukup. Orang yang 'hirup basajan' tidak terpaku pada kemewahan, tetapi lebih mengutamakan keseimbangan dan ketenangan batin.

Dalam praktiknya, hirup basajan tercermin dalam gaya hidup yang tidak berlebihan. Yaitu, jika makanan masih ada, untuk apa memasak makanan baru? Siapa yang akan menghabiskan masakan yang sudah ada?




(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads