Potret Toleransi dari Cimahi, Ogoh-Ogoh Diarak di Bulan Ramadan

Potret Toleransi dari Cimahi, Ogoh-Ogoh Diarak di Bulan Ramadan

Whisnu Pradana - detikJabar
Selasa, 17 Mar 2026 20:45 WIB
potret ogoh-ogoh diarak keliling Cimahi jelang Hari Nyepi
potret ogoh-ogoh diarak keliling Cimahi jelang Hari Nyepi (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Nuansa Bali kental terasa di Cimahi, kala dua ogoh-ogoh berukuran raksasa diarak keliling kota. Di tengah panas matahari yang menguji keimanan umat muslim di bulan Ramadan, ogoh-ogoh hadir sebagai hiburan.

Ogoh-ogoh merupakan simbol manusia melawan hawa nafsu dan hal-hal negatif dalam dirinya, direpresentasikan dalam patung-patung berbentuk seram. Patung itulah yang menjadi gambaran keburukan dalam diri manusia.

Diarak oleh ratusan umat Hindu, ditunggu-tunggu orang di tepi Jalan Sriwijaya, ogoh-ogoh keluar dari lapangan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussen Arhanud). Kemudian bergerak pelan ke Jalan Gatot Subroto dan kembali lagi ke Jalan Sriwijaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pawai ogoh-ogoh selalu jadi obat rindu umat Hindu di Kota Cimahi akan tanah kelahiran mereka di Pulau Dewata. Terlebih, ogoh-ogoh ini diarak menjelang peringatan Hari Raya Nyepi, Kamis (19/3/2026).

ADVERTISEMENT

"Senang sekali pastinya bisa ada pawai ogoh-ogoh lagi, jadi kangen Bali. Nuansa Balinya terasa banget meskipun ini di Cimahi," kata Gusti Ayu Eka (23), salah satu umat Hindu peserta pawai, Selasa (17/3/2026).

Hadirnya pawai ogoh-ogoh di Cimahi, menjadi bukti bahwa sebagai kota kecil, namun kaya akan perbedaan dan keberagaman. Terlebih, di Kota Cimahi umat Hindu boleh dikata sebagai minoritas.

"Ya selain nostalgia dengan Bali, ini juga jadi bukti kalau toleransi di Cimahi itu sangat tinggi. Tahun lalu kan pernah juga pawai seperti ini, tahun sekarang ogoh-ogohnya lebih banyak dan lebih meriah," ucap Gusti Ayu Eka.

Sementara itu, Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Barat, Brigjen TNI Purn I Made Riawan mengatakan, pawai ogoh-ogoh merupakan pengantar sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi.

"Jadi ogoh-ogoh ini dimaknai ketika kita merayakan Hari Raya Nyepi kita sudah harus melakukan perenungan. Hal dalam agama Hindu itu namanya Tri Kaya Parisudha atau berkata, berpikir, dan bertindak yang selama ini kita lakukan tidak baik, itu disimbolkan dengan aura negatif. Makanya ogoh-ogoh itu nuansanya seram," kata Made Riawan.

Ia memuji keberagaman dan toleransi yang ada di Kota Cimahi. Kota kecil yang menjadi rumah perbedaan, mewadahi umat beragama yang berbeda-beda hingga suku bangsa yang beragam pula.

"Ini digagas umat Hindu di Cimahi, dan bisa dibilang ini impian kami yang sudah sekian lama baru terlaksana, setelah pertama dilaksanakan tahun lalu. Astungkara, hari ini tertib dan lancar," ucap Made Riawan.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan pawai ogoh-ogoh yang kental akan nuansa Bali menjadi simbol kuat harmoni sosial di tengah keberagaman. Terlebih perayaan Nyepi tahun ini berlangsung di tengah-tengah bulan suci Ramadan.

"Yang di sini kolaborasi antara agama yang satu dengan yang lain saling menghargai dan menghormati. Di sinilah letaknya Cimahi, kerukunan dikedepankan," kata Ngatiyana.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads