Merekam Peristiwa Dago Elos Melalui Pameran Foto Analog

Merekam Peristiwa Dago Elos Melalui Pameran Foto Analog

Adi Mukti - detikJabar
Senin, 02 Mar 2026 19:00 WIB
Suasana pameran Amigdala, Bandung
Suasana pameran Amigdala, Bandung (Foto: Adi Mukti/detikJabar).
Bandung -

Wajah Kota Bandung tak selalu tentang gemerlap lampu jalan atau aroma kopi di sudut trotoar. Di balik itu, sejarah kota ini kerap berkelindan dengan sengketa agraria yang menyisakan trauma.

Salah satu yang paling membekas adalah Dago Elos, sebuah titik di mana konflik tanah mencapai puncaknya pada 2023, meninggalkan jejak amarah dan kekecewaan yang masih berdenyut hingga hari ini.

Di tengah sisa-sisa ketegangan itu, sebuah pameran bertajuk "Amigdala" hadir di Jalan Awiligar Raya, Cibeunying. Ini bukan sekadar pameran foto biasa. Ia adalah sebuah kolaborasi emosional antara fotografer analog interdisipliner asal Malaysia, Oliver Dabit, dengan Adhea Rizky Febian, seorang aktivis yang juga warga asli Dago Elos.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka tidak menggunakan kertas foto mahal yang licin. Sebaliknya, Oliver memilih medium yang provokatif, sisa-sisa beton dan bongkahan batu pasca-kerusuhan di Dago Elos. Melalui teknik litografi, sebuah proses cetak planografis yang memanfaatkan sifat minyak dan air yang saling tolak-menolak, citra-citra analog tentang kondisi Dago Elos dipindahkan ke atas fragmen bangunan yang hancur tersebut.

Suasana pameran Amigdala, BandungSuasana pameran Amigdala, Bandung (Foto: Adi Mukti/detikJabar).

Proses kreatif ini tergolong rumit. Oliver harus menggambar dengan media berbasis minyak pada lempengan batu atau logam, mengaplikasikan tinta, hingga menekannya ke atas permukaan beton. Hasilnya adalah sebuah karya yang kasar, jujur, dan sarat akan memori.

ADVERTISEMENT

"Jadi untuk karya bertajuk Amigdala ini, kita sempat melakukan beberapa perubahan dari segi output dan juga penyampaiannya. di Amigdala sendiri kita terbagi menjadi dua seri, bukan dua seri tapi satu seri di dalamnya terdapat dua hasil kerja. Kenapa karya? karena kita lebih mengutamakan salah satu nilai yang mungkin kita masih belum menilai dan mengevaluasi apa yang berada di luar dan cuman sekilas pandang di mata kita," ujar Oliver.

Bagi Oliver, pemilihan beton sebagai medium bukanlah tanpa alasan. Ia ingin memotret kontras antara impian warga akan hunian yang aman dengan realitas reruntuhan yang mereka hadapi. Baginya, rumah seharusnya menjadi tempat peristirahatan paling tenang, namun ketika konflik pecah, memori itu akan terus melekat pada setiap retakan dinding yang tersisa.

"Seri yang pertama ini, Unsanitized dalam salah satu bagian dari dari seri yang dicetak pada batu-batuan tembok dan kenapa batu-batuan tembok dipilih sebagai medium. Cetakan gambar yang pertama untuk menyatakan yang betapa fragmentasinya hati kita yang memimpikan sebuah kehidupan yang seharusnya melalui jalur-jalur yang kita dapat katakana bersemayam buat setiap orang. Jadi akhirnya, apabila ada satu perkara yang tidak selesai, yang unexpected event. Event yang terjadi, perkara tersebut hanya tinggal dalam satu fragmen yaitu mungkin fragmen itu tadi masih tersimpan atau hanya secara visual," ungkap Oliver.

Suasana pameran Amigdala, BandungSuasana pameran Amigdala, Bandung (Foto: Adi Mukti/detikJabar).

Nama "Amigdala" sendiri diambil dari komponen dalam otak manusia yang berfungsi memproses emosi, terutama rasa takut dan ancaman. Tak heran jika visual yang ditampilkan cenderung gelap dan muram. Oliver berupaya menerjemahkan kecemasan dan kegelisahan warga Dago Elos yang ia serap melalui pengamatan langsung maupun diskusi mendalam bersama Adhea Rizky Febian.

"Dari satu perkara yang mencerahkan, yang kita lihat secara visual mungkin bisa menimbulkan rasa takut gembira, ataupun emosional dan psikologisnya berbeda. jadi satu sampai tiga total frames, yang agak jatuhkan gambar dan agak gelap. Seperti yang di titik di benang merah untuk fragmen tadi menceritakan lebih deep, lebuh gelap tentang bagaimana kita melihat kontras antara ekspresi, perasaan dan visual," tambah Oliver.

Pameran yang berlangsung dari 28 Februari hingga 6 Maret 2026 ini menjadi pengingat tentang pentingnya tanggung jawab sosial dan empati. Melalui setiap fragmen batu yang dipamerkan, Oliver berharap publik tidak hanya melihat Dago Elos sebagai sebuah berita konflik di media massa, tetapi juga merasakan penderitaan manusia di baliknya.

"Kolaborasi dengan aktivis sosial di sini saya pikir kita bekerja dalam dua situasi dengan perasaan yang berbeda. Dengan medium yang berbeda, kita harus menerapkan dulu satu perspektif, yang Utama adalah narasi local jadi rangkuman dari semua ini pameran ini response itu adalah response sosial dan dengan tulisan," tutup Oliver.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Akses Jalan Raya Sapan Terganggung Imbas Banjir Sejak Sabtu"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads