10 Tradisi Unik Jawa Barat Sambut Ramadan, dari Munggahan hingga Nyekar

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Kamis, 05 Feb 2026 17:04 WIB
Ribuan santri di Ciamis Munggahan bersama di Alun-alun Ciamis dengan makan nasi liwet. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Bandung -

Bagi banyak masyarakat di Jawa Barat, datangnya bulan suci bukan sekadar soal menahan lapar dan haus. Ramadhan adalah momen memperbaiki keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang disambut sukacita melalui berbagai ritual adat. Tatar Pasundan memiliki cara tersendiri untuk merayakan kedatangan bulan ini dengan memadukan nilai agama dan kearifan lokal yang telah turun-temurun.

Jelang Ramadhan, antusiasme warga seringkali terlihat tinggi. Tradisi-tradisi yang dilakukan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pembersihan diri, silaturahmi, dan penghormatan kepada leluhur.

Lantas, apa saja tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa Barat di berbagai daerahnya? Berikut rangkuman detikJabar mengenai tradisi unik masyarakat Jawa Barat menjelang Ramadhan.

1. Munggahan

Munggahan berasal dari kata 'unggah' yang berarti naik. Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum puasa. Munggahan ini melambangkan naiknya derajat manusia dari tingkat yang lebih rendah, dari bulan Syaban menuju bulan Ramadhan, atau orang Sunda biasa menyebutnya dari bulan Ruwah ke Puasa.

Tradisi ini biasanya diisi dengan makan bersama (botram) di antara anggota keluarga, saudara, hingga tetangga. Munggahan juga menjadi sarana pendekatan sosial dan sarana saling memaafkan agar batin terasa ringan saat memulai ibadah puasa. Munggahan biasanya diakhiri dengan doa bersama untuk memohon kelancaran dalam menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan.

2. Nyekar

Tradisi Nyekar atau ziarah ke makam keluarga merupakan salah satu tradisi yang umum dilakukan di seluruh pelosok Jawa Barat. Dalam tradisi ini masyarakat datang membawa bunga dan air mawar untuk mendoakan dan membersihkan makam leluhur.

Tradisi nyekar menjadi pengingat akan kematian, sehingga setiap orang terdorong untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan.

3. Dlugdag

Dlugdag merupakan sebuah tradisi jelang Ramadhan yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Cirebon. Tradisi ini dilaksanakan tepat sehari sebelum Ramadhan, setelah melaksanakan salat Asar. Tradisi ini berupa penabuhan bedug di masjid yang menandakan dimulainya bulan puasa.

Tradisi ini berawal dari belum adanya pengeras suara pada zaman dahulu, sehingga tabuhan bedug ini berfungsi sebagai penanda informasi bagi masyarakat saat itu. Walaupun begitu, tradisi masih dilaksanakan sampai sekarang. Hal ini karena irama bedugnya yang khas, berbeda dengan irama bedug biasanya, sehingga menjadi tradisi pengingat bagi warga setempat untuk mempersiapkan fisik dan mental menjelang bulan Ramadhan.

4. Mapag Ramadhan

Tradisi mapag rutin dilakukan oleh masyarakat Ciamis. Kata 'mapag' berarti menjemput. Tradisi ini sering dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti pawai obor, takbir keliling, atau pengajian akbar di masjid-masjid besar. Tradisi Mapag Ramadhan menjadi momen kegembiraan bersama, bahwa kesempatan untuk beribadah di bulan suci kembali datang.

5. Nadran

Tradisi Nadran merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan masyarakat di wilayah pesisir utara Jawa Barat jelang Ramadhan. Nadran sering dikaitkan dengan sedekah laut, sehingga tradisi ini khusus dilakukan di wilayah pesisir utara seperti Indramayu dan Cirebon. Masyarakat melaksanakan tradisi ini menjelang Ramadhan sebagai bentuk syukur sebelum memasuki masa tenang di bulan suci. Tradisi dilakukan oleh masyarakat dengan melarung sesaji ke laut sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan.



Simak Video "Video: Hangatnya Munggahan Warga Kawunghilir Jelang Ramadan"


(tya/tya)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork