Tenun punya sejarah panjang di Jawa Barat. Sejak zaman Bujangga Manik (abad ke-15) dari Kerajaan Pajajaran, menenun sudah menjadi kegiatan para perempuan pembesar untuk menghasilkan kain mewah. Bahkan, lebih jauh lagi, dalam legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi bertemu Si Tumang ketika gulungan benang tenunnya jatuh ke tanah.
Sekarang, tenun dari Pasundan semakin tenar. Terlebih, ketika kain tenun dari Garut bisa mejeng di ajang bergengsi tingkat dunia. Tentu, ketenaran ini karena ada rasa bangga dari orang nusantara kepada akar budayanya yang kaya di tanah air ini.
Lantas, bagaimana sejarah tenun dari Garut hingga tenar mendunia? Simak penjelasannya yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gaun Tenun Garut di Grammys 2026 Foto: Instagram/@erinlimrhodes |
Grammy Award 2026
Erin Lim, pembawa acara karpet merah di stasiun TV Amerika Serikat E! Entertainment tampil mewah dalam perhelatan Grammy Award 2026 di Los Angeles, AS, Minggu (1/2/2026), malam.
Dikutip dari Wolipop, perempuan berdarah Filipina-Meksiko itu berpose di red carpet Grammys. Ia bersolek dalam balutan column dress hitam dengan lekukan curvy pada bagian neckline, serta rok tambahan yang menyembul dramatis dari belakang.
Hal yang membanggakan sebenarnya terletak pada motif polkadot berwarna emas pada gaun itu, yang dibuat dengan teknik tenun oleh perajin di Garut, Jawa Barat. Gaun rancangan Dery Rizkianto, desainer Indonesia yang berbasis di Milan, Italia itu merupakan bagian dari koleksi 'Casa' yang telah dipresentasikan sebelumnya di Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 pada Oktober tahun lalu.
Casa dalam bahasa Italia berarti 'rumah'. Dery memaknai koleksi yang terdiri dari 12 tampilan busana ini sebagai kembalinya dia ke akar budaya Indonesia dengan sentuhan estetika know-how ala Milano. Merupakan buah kolaborasi The Rizkianto, jenama besutan Dery, dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan artisan tenun Hendar Rogesta.
Bagaimana Cara Menenunnya?
Motif polkadot berwarna emas pada gaun yang mejeng di Grammy Award 2026 itu dibuat dengan teknik tenun. Bagaimana hal ini bisa dilakukan? Teknik ini seperti membuat batik tenun yang juga dilakukan di sejumlah daerah di Nusantara.
Dikutip dari buku Kerajinan Batik Tenun Ikat Provinsi Jawa Timur Potensi dan Tantangan susunan Didiek Tranggono, dkk. (2014) dijelaskan batik tenun merupakan kain yang ditenun dengan benang yang sebelumnya telah dicelup ke zat warna.
"Dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami," tulis buku itu.
Bagaimana caranya hingga menjadi kain yang indah dengan motif batik hasil tenun? Dikatakan, "sebelum ditenun, pola batik digambar terlebih dahulu di benang putih yang telah dibentang. Setelah pola tergambar, benang tersebut kemudian ditenun menggunakan peralatan tenun tradisional. Dengan peralatan ini, model dan corak kain mulai ditentukan untuk memperoleh kombinasi warna yang berkualitas. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun bukan mesin (ATBM)."
Tenun Garut (Foto: Istimewa/ instagram @ |
Sejarah Tenun Garut
Tradisi tenun sudah ada sejak lama di Sunda. Namun, tradisi membatik diduga baru ada karena persentuhan Sunda dengan Mataram Islam. Orang-orang Mataramlah yang membawa tradisi membatik ke Pasundan.
Dikutip dari laman Indonesia Kaya, tradisi dan budaya masyarakat etnis Jawa meresap ke dalam masyarakat Sunda kala Pasundan berada di bawah kekuasaan Mataram pada abad ke-17.
"Pengaruh budaya itu mencakup penggunaan batik sebagai busana kaum ningrat. Pada masa itu pula tradisi membatik kemungkinan muncul dan berkembang di wilayah Garut," tulis situs itu.
Di kemudian hari, seorang juragan teh pemilik perkebunan "Waspada" K.F. Holle yang juga senang dengan batik, memfasilitasi pengembangan batik ini dengan mengajarkan cara membatik sekaligus membuka usaha batik. Dengan demikian, kebutuhannya akan batik terpenuhi dan juga dia bisa menjual batik. Industri ini semakin pesat ketika di Garut dibangun pabrik tenun pada 1930-an.
Sempat lesu pada zaman Jepang, batik Garut bergeliat lagi pada 1970-an. Dari sini, motif-motif batik mulai mengalami variasi. Menurut situs Indonesia Kaya, motif batik Garut atau Garutan, mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar. Baik flora, fauna, maupun aktivitas sehari-hari orang Garut.
"Motif-motif dari luar diolah dan disesuaikan dengan gaya dan selera para pengrajin atau masyarakat Garut. Sebut saja, motif lereng yang mengadaptasi motif parang dari batik Solo dan Yogya. Oleh pengrajin Garut, motif ini dibuat dengan berbagai variasi: releng calung, rereng sarutu, rereng pita, dan sebagainya," tulis situs itu.
Kombinasi teknik membatik dari yang semula hanya batik tulis, kini dipadankan dengan teknik yang telah lebih dulu dikuasai oleh orang Sunda: tenun. Tentu perpaduan ini membutuhkan ketelatenan yang ekstra. Tabik untuk Tenun Garut!
Gaun Tenun Garut di Grammys 2026 Foto: Instagram/@erinlimrhodes |
(tya/tya)



