Sejarah Adu Muncang: Kegemaran Raja hingga Sanksi Penggal Leher Kuda

Sejarah Adu Muncang: Kegemaran Raja hingga Sanksi Penggal Leher Kuda

Faizal Amiruddin - detikJabar
Selasa, 21 Feb 2023 11:00 WIB
Sejarah Adu Muncang: Kegemaran Raja hingga Sanksi Penggal Leher Kuda
Permainan adu kemiri atau muncang di Yogyakarta tahun 1902 (Foto: VOLKSSPEL. DJOCJA. NED -INDIΓ‹.)
Tasikmalaya -

Udin Sunarya salah seorang pedagang muncang atau kemiri aduan di Jalan Pasar Lama Kota Tasikmalaya mengatakan permainan adu muncang merupakan permainan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

"Dulunya ini permainan para gegeden (petinggi), sejak saya kecil juga sudah ada," kata pria berusia 63 tahun itu, Senin (20/2/2023).

Dia menambahkan salah satu buktinya kata muncang tertulis dalam peribahasa Sunda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Muncang labuh ka puhu, kebo mulih ka pakandangan". Meski arti peribahasa tersebut tidak memiliki korelasi langsung dengan adu muncang, tapi menurut Udin itu menjadi bukti bahwa muncang sudah ada dalam kehidupan masyarakat zaman dulu. "Kan ada peribahasa muncang labuh ka puhu, kebo mulih ka pakandangan. Itu pasti ada kaitannya," kata Udin.

Pedagang biji kemiri atau muncang di TasikmalayaPedagang biji kemiri atau muncang di Tasikmalaya Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

Sementara itu dikutip dari berbagai literasi sejarah, salah seorang raja Nusantara yang gemar bermain adu muncang adalah Sultan Agung atau Raja Mataram.

ADVERTISEMENT

Salah seorang sejarawan Belanda Hermanus Johannes de Graaf menuliskan pemainan adu muncang ini dikenal dengan sebutan mirobolani. Sultan Agung menurut dia mengharuskan beberapa orang mengikuti permainan ini.

Namun jika curang, Sultan tak segan untuk menghukumnya dengan cara memenggal kuda milik pemain curang itu.

Aktivitas adu muncang pada zaman dulu juga terabadikan dalam sebuah kartu pos koleksi KITLV 1402683 yg dicetak oleh J.L. van Dieten Jr. sebelum tahun 1902.

Di foto itu terlihat sejumlah warga orangtua dan anak-anak berkerumun, menghadap sebuah "pidekan" atau alat mengadu muncang.

Dalam buku Tata Cara karya (Padmasustra, 1911:183) dijelaskan muncang atau kemiri itu ada dua jenis, kemiri adu dan kemisi sambal atau bumbu masak.

Dalam buku itu tertulis "KΓͺmiri pidak dipun palΓ¨pΓ¨t ugi nama kΓͺbuk, lajΓͺng dipun gΓͺbag ing kΓͺnul, punika kasukanipun tiyang sΓͺpuh, totohanipun rupiyahan. KΓͺmiri sambΓͺl dipun sabΓͺtakΓͺn ing tangan, gΓͺntos nyabΓͺt, pundi ingkang pΓͺjah kawon, punika kasukaning lare, totohanipun namung dhuwitan".

Arti dari kutipan bahasa Jawa itu adalah "Kemiri disebut juga kebuk, lalu dipukul di leher, itu kesukaan orang tua, taruhannya rupiah. Kemiri sambal ditaruh di tangan, bukan dipukul, dimana yang mati adalah kesayangan anak, taruhan satu-satunya adalah uang".

Selain itu dalam majalah Narpawandawa cetakan Februari 1927, diceritakan kembali tentang Raja Mataram yang gemar adu muncang atau aben kemiri.

"Kuwasanipun ingkang Sinuhun KangjΓͺng Sultan Agung punika tanpa watΓͺsan, inggih punika wontΓͺn ing kalangan abΓͺn kΓͺmiri. Dolanan ingkang makatΓͺn punika kala taun Walandi 1623 pancΓ¨n kadhawuhakΓͺn ing sang prabu, mila wontΓͺn ing karaton dados cara. Sampun nate ingkang sinuhun kasukan abΓͺn kΓͺmiri kalihan prayagung sakawan, priksa kΓͺmirinipun kirang anggΓ¨nipun anggarap, mΔƒngka masthinipun anggΓ¨ning anggarap kΓͺdah alus ngantos mΓͺlΓͺng-mΓͺlΓͺng, ingkang sinuhun lajΓͺng duka, dhawuh mundhuti kapalipun, kapagas gulunipun wontΓͺn ing ngajΓͺnganing ingkang gadhah sarwi angandika: yΓ¨n ana sing kumawani kaya mangkono manΓ¨h, masthi tak tigas gulune kayadene jaran iki, wontΓͺn priyagung kalih malih ingkang kadukan, lΓͺrΓͺs kΓͺmirinipun sampun kaupakara sae, nanging dΓ¨rΓ¨ng patos dados kados karsa dalΓͺm, punika ugi tampi paukuman."

"Kekuasaan Yang Mulia Sultan Agung tidak terbatas, yaitu ada di kalangan aben kemiri. Permainan semacam ini pada zaman Belanda tahun 1623 benar-benar diperintahkan oleh raja, jadi sebagai jalan di keraton. Sekali orang yang diajak bertemu dengan keempat bangsawan itu dicek pendapat dan pemikirannya, maka bisa dipastikan menurutnya baik sampai dilihatnya. kaku seperti kuda ini, ada dua pangeran lagi yang bertarung, memang benar mereka telah melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi mereka tidak melakukan apa yang mereka inginkan, mereka juga akan menerima hukuman."

(yum/yum)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads