Mengenal Sejarah Batik Tulis Complongan Indramayu

Mengenal Sejarah Batik Tulis Complongan Indramayu

Sudedi Rasmadi - detikJabar
Rabu, 25 Jan 2023 05:00 WIB
Batik Complongan Indramayu.
Batik Complongan Indramayu (Foto: Sudedi Rasmadi/detikJabar).
Indramayu -

Batik tulis complongan merupakan salah satu cipta karya dari para perajin batik di Indramayu, Jawa Barat. Batik yang kini sudah bersertifikat indikasi geografis itu memiliki sejarah panjang.

Seperti yang terlihat pada ciri khusus dalam batik tulis complongan terdapat titik-titik atau dot yang menyerupai deretan semut pada lembaran kain batik. Teknik khusus itu kini berkembang dengan sesuai dengan proses pembuatan, yaitu melubangi atau dalam bahasa Indramayu disebut nyolmplongi.

Teknik membatik yang berkembang itu awalnya bermula dari adanya sebuah kain tua yang memiliki motif unik. Pada masa itu, teknik complongan sudah dilakukan dengan adanya kain panjang, selendang maupun kain pembungkus perhiasan yang terdapat titik-titik atau dot.


"Peninggalan nya jadi ini dikira-kira aja karena yang bisa dilihat itu ada buntelan wadah emas orang zaman dulu kan kalau tempat perhiasan itu kan pakai kain batik di kain itu terlihat ada complongan (lubang kecil)," kata Anggota KMPIG Batik Tulis Complongan Indramayu Een Qurotul Ain, Selasa (24/1/2023).

Dari temuan itu, para pembatik yang tergabung dalam kelompok masyarakat perlindungan indikasi geografis batik complongan Indramayu memutuskan bahwa teknik yang disebut itu sudah ada sejak tahun 1800-an silam. Karena di masa itu, banyak masyarakat terutama di pesisir pantura Indramayu yang sudah membatik.

"Membatik dilakukan oleh para istri dari seorang nelayan yang melaut 2 sampai dengan 4 bulan. Sembari menunggu suaminya datang para istri nelayan tersebut membatik," katanya.

Dalam prosesnya, pembuatan batik tulis complongan dilakukan seperti proses membatik pada umumnya. Namun, di tengah proses kain yang sudah di tembok menggunakan malam, dilubangi oleh pembatik complongan dengan menggunakan alat khusus.

Alat itu berisi 20-30 jarum. Dengan ukuran jarum sekitar 0,5 milimeter yang bersusun beraturan.

"Produksinya di wilayah Kecamatan Indramayu (Kelurahan Paoman, Pabean Udik, Karangsong, Margadadi) dan Kecamatan Sindang (Desa Terusan dan Penganjang)," ucapnya.

Setelah bersertifikat indikasi geografis, kelompok masyarakat akan memperlakukan khusus untuk batik warisan turun temurun tersebut. Dengan memasang label atau tanda ke setiap hasil karya para perajin batik tulis complongan.

"Nantinya kita pakai kode khusus di setiap batik complongan yang sudah jadi. Disit ada kode huruf dan angka yang bisa ditelusuri waktu dan nama perajinnya," pungkasnya.

(mso/mso)