Tugu Pahlawan Lingkungan di Tasik yang Sosoknya Tak Banyak Dikenal

Tugu Pahlawan Lingkungan di Tasik yang Sosoknya Tak Banyak Dikenal

Faizal Amiruddin - detikJabar
Sabtu, 17 Sep 2022 03:00 WIB
Tugu pahlawan lingkungan di Tasikmalaya
Tugu pahlawan lingkungan di Tasikmalaya (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Salah satu ruang publik yang kerap disinggahi masyarakat Kota Tasikmalaya adalah kawasan alun-alun di Jalan Otto Iskandardinata. Taman yang hijau dan asri ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, entah itu olah raga atau sekedar duduk menikmati suasana.

Di tengah kawasan alun-alun Kota Tasikmalaya ini terdapat ornamen atau tugu sosok seorang perempuan dan pria. Sayang di tugu itu tidak terdapat informasi mengenai sosok pasangan di tugu tersebut.

detikJabar mencoba menanyakan sosok di patung itu kepada sekelompok siswa-siswi SMP yang sedang bercengkerama di sekitar alun-alun. "Nggak tahu siapa," kata anak-anak tersebut, Jumat (16/9/2022). Dari sekian orang yang ditanyai, hanya ada seorang ibu yang bisa memberikan jawaban mengenai siapa sosok patung tersebut. "Itu patung Mak Eroh peraih Kalpataru, tapi kalau yang prianya saya tidak tahu," kata perempuan tersebut.


Rangga Jatnika (35) warga lainnya yang sedang berada di sekitar alun-alun mengatakan kedua patung itu adalah sosok Abdul Rozak dan Mah eroh, dua warga Tasikmalaya peraih penghargaan Kalpataru pada jaman Presiden Soeharto.

"Idealnya memang ada informasi, entah itu plang atau prasasti yang berisi narasi profil kedua sosok penerima Kalpataru itu. Sehingga publik terutama anak-anak kita tahu," kata Rangga.

Dengan adanya informasi profil siapa sosok patung itu, kata Rangga ada manfaat edukasi yang bisa didapat masyarakat, apalagi di sekitar alun-alun banyak sekolah. "Yang ada sekarang bahkan sekedar nama saja tidak ada informasinya," kata Rangga.

Sementara itu anugerah Kalpataru sendiri merupakan penghargaan dari negara yang diberikan kepada orang atau kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan, dan membina perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Abdul Rozak

Abdul Rozak adalah warga Kampung Pasanggrahan Desa Neglasari Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya. Dia meraih penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tahun 1987 silam. Abdul Rozak telah meninggal dunia pada Januari tahun 2010, akibat kecelakaan jatuh dari pohon kelapa.

Jasa Abdul Rozak adalah mengubah puluhan hektar sawah tadah hujan di kampungnya menjadi sawah yang lebih produktif. Abdul Rozak berhasil membolongi bukit, membuat terowongan saluran air.

Pengorbanan yang dilakukan untuk mewujudkan impiannya itu tak main-main. Dia sampai menjual hartanya berupa kerbau dan kebun kelapa. Perjuangan yang terjadi sekitar tahun 1970 itu dilakukan Abdul Rozak dengan membendung aliran sungai, kemudian menyalurkan atau mengarahkan ke kampungnya yang tandus. Saluran ini berkelok sepanjang kurang lebih 2 kilometer. Bagian tersulit yang dihadapi Abdul Rozak adalah ketika saluran air yang dibuatnya itu mentok di depan sebuah bukit.

Tapi Abdul Rozak tak surut langkah, dia nekat berusaha melubangi bukit itu untuk terowongan saluran air. Abdul Rozak bukan Superman, dia tak sendiri melubangi bukit itu. Berbekal uang hasil menjual kebun kelapa dan kerbau, dia mempekerjakan belasan warga untuk menembus bukit dengan metoda manual. Proses menembus bukit sepanjang 180 meter dan kedalaman saluran 40 centimeter itu dilakukan dengan menggunaka pahat. Butuh waktu sekitar 6 tahun hingga proyek itu selesai. Sekitar 30 hektar sawah yang sebelumnya hanya panen sekali, kini bisa panen 3 kali dalam setahun.

Mak Eroh

Berselang satu tahun setelah Abdul Rozak mendapat Kalpataru, nama Tasikmalaya kembali harum dengan munculnya sosok perempuan yang mendapatkan penghargaan serupa. Mak Eroh merupakan warga Kampung Pasirkadu Desa Santanamekar Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya. Dia mendapatkan Kalpataru pada tahun 1988.

Karya Mak Eroh adalah membuat saluran air sepanjang kurang lebih 5 kilometer. Saluran yang dibuatnya berada di pinggiran bukit alias tepi jurang.

Ide Mak Eroh ketika dia mendapati pesawahan di kampungnya tak ada pasokan air. Saluran air yang ada rusak dan tertimbun material dampak letusan gunung Galunggung. Dia yang kerap keluar masuk hutan lereng Galunggung untuk mencari kayu bakar dan bahan makanan, kemudian menemukan sumber mata air berupa air terjun.

Temuan sumber air itu kemudian membuat Mak Eroh bertekad untuk membuat saluran air menuju ke kampungnya. Berbekal peralatan seadanya dia membuat saluran dengan peralatan seadanya.

Kegigihannya membuat saluran air ketika itu dianggap mustahil oleh beberapa warga. Mereka mencibir apa yang dilakukan Mak Eroh. Namun Mak Eroh tak peduli dia tetap berusaha. Butuh waktu sekitar 1 tahun bagi Mak Eroh untuk membawa air ke kampungnya dan membungkam orang-orang yang sebelumnya nyinyir. Mak Eroh kini telah tiada, dia meninggal dunia pada tahun 2004 akibat serangan penyakit stroke.



Simak Video "Nongkrong Di Tugu Pahlawan Surabaya, Menghabiskan Akhir Pekan Menikmati Suasana Kota"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)