Filosofi Ritual Hajat Laut Pangandaran, Wujud Syukur dari Laut Selatan

Aldi Nur Fadillah - detikJabar
Rabu, 10 Agu 2022 05:00 WIB
Hajat Laut Pangandaran
Faizal Amiruddin/detikcom (Foto: Faizal Amiruddin/detikcom)
Pangandaran -

Kepercayaan terhadap penguasa Laut Selatan masih sangat kental di Kabupaten Pangandaran. Para nelayan misalnya, masih ada yang percaya jika hasil tangkapan laut yang didapat ada campur tangan dari penguasa lautan.

Karenanya untuk menjaga keselamatan dalam mencari nafkah di lautan, para nelayan senantiasa menggelar Ritual Hajat Laut setiap tahun, pelaksanaannya biasanya pada hari Kamis menjelang malam Jumat Kliwon awal bulan Muharam atau bulan Suro (penanggalan Jawa).

Dilansir dari Buku Pangandaran dari Masa Ke Masa karya Prof Dr Nina Lubis, alasan adanya Hajat Laut ini amat sederhana, yaitu mempersembahkan sesaji sebagai perwujudan rasa syukur dan terima kasih kepada penguasa Pantai Selatan atas semua kekayaan dan kemakmuran yang dilimpahkan kepada para nelayan selama ini.


Ketua Lembaga Adat Kabupaten Pangandaran Erik Krisna Yudha mengatakan, ritual Hajat Laut merupakan turunan dari hajat leuweung (hutan).

"Karena sesaji yang dibawa ke tengah laut merupakan hasil pertanian dan perkebunan," kata Erik kepada detikJabar. Selasa (9/8/2022).

Menurutnya Hajat Laut merupakan akulturasi budaya yang datang dari arah wetan (Jawa), karena budaya asli Sunda itu tatanen atau bertani.

"Namun hijrahnya warga dari arah wetan (Jawa) yang masuk ke Pangandaran menyatukan budaya tersebut menjadi sebuah ritual budaya," katanya.

Masih kata Erik, Hajat Laut merupakan suatu tradisi di Pangandaran yang sudah lama ada sebagai tanda rasa syukur kepada yang Maha Kuasa.

Jika dalam bahasa Sunda Hajat Laut artinya dibagi menjadi dua kata Hajat = kahayang, pamaksadan (keinginan) sementara laut merupakan suatu ciptaan sang maha kuasa yang berupa air yang luas.

"Hajat Laut bisa diartikan sebuah niat rasa syukur dan keinginan kepada sang Maha Kuasa," katanya.

Dari 91 KM bentangan pantai Pangandaran, pelaksanaan Hajat Laut biasanya dilaksanakan di pantai Karapyak, Pangandaran, Bojes, Batukaras, dan Madasari. Ritual ini biasanya dilaksanakan serempak di hari yang sama pada bulan Muharam.

"Namun sekarang diatur pelaksanannya, saat ini sudah menjadi agenda sebagai pertunjukan di destinasi wisata," ucap Erik.

Menurut Erik ritual Hajat Laut menjadi daya tarik wisata karena di dalamnya ada ritual, membawa Dongdang (pawai) dan alam dongdang ada hasil bumi pertanian, diantaranya pisang, buah-buahan, tumpeng untuk dibawa ke pesisir pantai, kemudian dimasukkan dalam perahu, dan Dilarung lalu dibawa ke tengah laut

Dalam Larung ada maknanya sebagai wujud syukur kepada maha kuasa, membaktikan kepada Yang Maha Kuasa, dan memiliki fungsi transenden dibuktikan dengan melewati larung sasajen (nyesa-nyesa ker nu sejen). "Sa Ajen ari sa teh satu, Ajen teh ageman, filosofinya berkaitan dengan keesaan yang maha kuasa Allah SWT," kata Erik.

Masih kata Erik, Hajat Laut saat ini sudah banyak perubahan, karena budaya itu dinamis tergantung pelaku zamannya. "Hajat Laut sudah menjadi konsumsi umum sekarang unsur religi, ada tabligh akbar, zikir di pesisir yang diinisiasi bupati Pangandaran Jeje Wiradinata," katanya.

Dahulu memang Hajat Laut sebagai niatan untuk memberikan ucapan terimakasih kepada penguasa pantai selatan. Namun, saat ini kepercayaan itu diluruskan menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Tetapi saat ini sudah diluruskan dan bersepakat bahwa niatnya untuk mengucapkan syukur," ucap Erik.

"Saat ini meluruskan niat tidak tahu niat masing-masing pribadi, bahwa ada keyakinan bahwa larung sesaji dengan membawa cai (air) dari tengah laut dimandikeun (dimandikan) ke perahu, gaduhan harepan (harapan) ti maha kuasa," kata Erik.

Permintaan kepada penguasa pantai selatan diluruskan dengan menjadi sebuah simbol. "Karena nilai-nilai budaya harus dipertahankan. Karena Hajat Laut yang membedakan itu niat para nelayan, apakah untuk rasa syukur ataupun keinginan," ucapnya.

Acara puncak Hajat Laut, adalah pagelaran kesenian dan berbagai perlombaan serta berbagai kemeriahan lainnya.

(yum/yum)