Curhat Gen Z Cari Kerja, 200 Lamaran Berujung Ghosting

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 27 Okt 2026 06:30 WIB
Christian Constantine (25). (Foto: Nur Khansa Ranawati)
Bandung -

Keluhan anak muda Generasi Z (Gen Z) soal sulitnya mencari pekerjaan kerap ramai dibicarakan di media sosial. Mulai dari kendala mencari lowongan yang sesuai, hingga proses wawancara yang berakhir tanpa kabar lanjutan.

Christian Constantine (25) adalah salah satu pencari kerja yang merasakan hal serupa. Di tengah keramaian Titian Karir Terpadu (TKT) ITB, Senin (26/10/2026), ia tampak sibuk menyusuri deretan stand demi stand perusahaan sambil memanggul ransel.

Sesekali, ia berhenti untuk memperhatikan brosur lowongan yang dibagikan, mencari peluang kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Ia merupakan lulusan jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) dua tahun lalu. Pria asal Bandung tersebut kembali berburu pekerjaan setelah lima bulan menjalani career break.

Selama periode tersebut, gelaran bursa kerja alias job fair menjadi agenda yang kerap didatangi. Ia juga menyebut telah mengirim lebih 200 lamaran melalui portal pencarian kerja maupun situs resmi perusahaan.

Namun, hanya sekitar 10 lamaran yang berlanjut ke tahap wawancara. Itu pun tanpa berbuah manis dan kerap selesai tanpa kabar lanjutan.

"Saya sudah apply sekitar 200-an lamaran. Sejauh ini yang dipanggil (wawancara) paling sekitar 10 perusahaan. Itu pun habis interview, rata-rata di-ghosting (menghilang tanpa kabar)," ungkapnya ketika ditemui di Aula Barat ITB, Senin (26/10/2026).

Bagi Constantine, pengalaman mencari pekerjaan kali ini terasa berbeda dibandingkan saat pertama kali lulus kuliah. Sekitar sebulan setelah wisuda dua tahun lalu, ia sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bergerak di bidang Fast-Moving Consumer Goods (FMCG).

Saat itu, ia bekerja sebagai data analis. Namun, setelah mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut, mencari peluang baru ternyata tak semudah sebelumnya.

"Kalau sekarang kondisinya memang lebih sulit," katanya.

Sejak memutuskan resign lima bulan lalu, Constantine mulai rutin mencari lowongan secara daring dan mendatangi berbagai job fair. Kali ini, TKT ITB menjadi salah satu tempat yang kembali ia datangi untuk mencari peluang.

Meski begitu, ia merasa pilihan lowongan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya masih terbatas. Menurutnya, banyak perusahaan yang membuka posisi di bidang teknik, sementara lulusan matematika perlu mencari posisi yang sesuai dengan kompetensinya.

"Beberapa kali saya ke sini karena saya lulusan matematika. Tapi memang banyaknya lowongan di bidang teknik. Kalau ditanya (lowongan) untuk jurusan Matematika, perusahaan juga sering bingung," tuturnya.

Padahal, ia mengatakan, saat ini ada sejumlah bidang yang bisa menjadi pilihan bagi lulusan matematika. Posisi seperti data analis, teknologi informasi (IT), atau sektor perbankan menjadi bidang yang banyak menempatkan lulusan matematika sebagai pekerja.

Karena itu, ia berharap bursa kerja bisa menyediakan lebih banyak kesempatan bagi pencari kerja dari berbagai jurusan.

"Harapan saya sebenarnya job fair itu bisa memfasilitasi untuk yang lulusan baru atau yang sudah lulus bertahun-tahun, dan tidak terbatas hanya untuk lulusan teknik saja," ucapnya.

Di balik ratusan lamaran yang dikirimkan, ia juga menghadapi persoalan lain selama proses rekrutmen. Ia beberapa kali merasa kecewa karena perusahaan tak memberikan kabar lanjutan setelah wawancara kerja.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat pelamar mempertanyakan keseriusan perusahaan dalam membuka lowongan. Ia menyadari tak semua perusahaan melakukan hal serupa, tetapi praktik 'ghosting' setelah wawancara cukup membuatnya frustrasi.

"Kalau kesel iya sih. Terutama beberapa kali juga baca-baca di media sosial, memang enggak semua perusahaan, tapi beberapa itu seolah seperti hanya ingin KPI (rekrutmen) tercapai. Jadi kita juga sebagai pelamar merasanya, ini tuh serius enggak sih?" ungkapnya.

Persoalan tersebut terasa lebih berat ketika perusahaan meminta wawancara secara langsung di luar kota. Bagi pencari kerja, ongkos transportasi antar kota bukan perkara sederhana.

"Apalagi beberapa interview itu meminta offline. Beberapa kali wawancara di Jakarta, itu kan bolak-balik lumayan ya ongkosnya. Terus setelah itu di-ghosting, kan kesel," keluhnya.

Ia mengaku pernah mengirimkan lamaran ke berbagai daerah hingga ke luar Jawa Barat. Namun, pengalamannya tak jauh berbeda.

"Ternyata ya sama aja," ujarnya seraya tertawa kecil.

Pengalaman sulitnya mencari kerja tak hanya ia alami sendiri. Ia bercerita, sejumlah teman dari jurusan yang sama mengalami situasi serupa, bahkan sejak awal menyelesaikan kuliah.

Constantine merasa dirinya masih cukup beruntung karena bisa mendapatkan pekerjaan tak lama setelah. Sebaliknya, ada teman yang harus menunggu hingga satu tahun untuk memperoleh pekerjaan pertama.

"Kalau bisa dibilang, saya lebih beruntung dari teman-teman. Karena saya waktu itu satu bulan langsung dapat. Teman saya ada yang setahun wisuda baru dapat (pekerjaan)," tuturnya.

Kini, Constantine masih menyusuri berbagai peluang kerja, berharap menemukan posisi yang sesuai dengan kompetensinya. Bagi pencari kerja seperti dirinya, setiap lamaran menjadi ikhtiar meraih masa depan, meski jawaban yang ditunggu tak selalu datang.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork