Pedasnya bukan cuma di lidah, tapi juga di dompet. Harga berbagai jenis cabai di pasar tradisional Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, merangkak naik drastis Senin (21/9). Bahkan cabai rawit merah naik lebih dari 100 persen, nyaris tembus Rp 75 ribu per kilogram di tingkat eceran.
Kenaikan itu terlihat di Pasar Tradisional Singaparna. Lapak-lapak cabai masih merah menyala, tapi pembeli mulai menghitung ulang.
"Naik harga cabai sekarang, barangnya malahan enggak ada di saya yang merah mah,"kata Tati, pedagang sayuran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pantauan detikJabar, harga cabai rawit merah kini dijual Rp 65 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya hanya Rp 30 ribu - Rp 35 ribu per kilogram. Artinya, naik 100 persen lebih.
Kenaikan juga terjadi pada jenis cabai lainnya. Cabai rawit domba yang biasanya Rp 30 ribu, kini menjadi Rp 48 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Cabai rawit hijau dari Rp 24 ribu menjadi Rp 35 ribu. Sementara cabai merah besar dari Rp 35 ribu naik menjadi Rp 60 ribu per kilogram.
Pedagang menduga, mahalnya cabai karena pasokan dari petani berkurang.
"Naik, cabai harga-harganya ada 18 persen, cabai rawit sekilonya bisa 70, asalnya hanya 35," ujar Tati.
Menurut Tati, tanaman cabai petani banyak yang diserang hama ditambah kemarau panjang. Akibatnya, banyak yang gagal panen dan hasil panen yang masuk ke pasar sedikit.
"Banyak yang gagal panen karena diserang hama dan kemarau juga kan," kata Tati.
Kenaikan harga ini dikeluhkan konsumen. Pedas tidak pedas, cabai tetap jadi kebutuhan wajib di dapur milik Eti.
"Mahal harganya, ingin murah saya mah," keluh Eti, konsumen.
Karena mahal, tak sedikit ibu-ibu yang terpaksa mengurangi pembelian. Jika biasanya beli seperempat kilo, kini cukup 1 ons untuk dicampur dengan jenis cabai yang lebih murah.
Pedagang memprediksi, harga cabai masih akan bertahan mahal hingga akhir tahun, mengingat musim tanam baru belum dimulai.
"Kami minta pemerintah turun tangan kendalikan harga cabai," pungkas Eti.
(yum/yum)
