Kisah Alifah Ratu Bangun Teratu Beauty dari Personal Branding

Kisah Alifah Ratu Bangun Teratu Beauty dari Personal Branding

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Sabtu, 05 Sep 2026 14:04 WIB
Alifah Ratu Saelynda (pertama dari kanan), founder brand Teratu dalam talkshow Bandung x Beauty 2026 di Trans Studio Mall Bandung, Jumat (4/9/2026)
Foto: Nur Khansa Ranawati
Bandung -

Membangun brand kecantikan ternyata tidak selalu dimulai dari sebuah produk. Bagi Alifah Ratu Saelynda, perjalanan membangun Teratu Beauty justru berawal dari proses ketika dirinya merintis kepercayaan sebagai beauty influencer.

Alifah sendiri sudah mulai membuat konten kecantikan di YouTube dan Instagram-nya sejak satu dekade lalu, jauh sebelum Teratu didirikan. Kala itu, ia konsisten membagikan berbagai pengalaman pribadinya soal riasan, perawatan kulit, hingga permasalahan kulit yang dialami.

Dari sanalah perlahan terbentuk hubungan dengan audiens yang kemudian menjadi salah satu modal penting ketika ia mulai membangun brand kecantikan sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalaman tersebut ia ceritakan dalam Talkshow Bandung x Beauty 2026 yang digelar di Trans Studio Mall Bandung, Jumat (4/9/2026).

Menurut Alifah, salah satu modal penting bagi perkembangan bisnis Teratu adalah personal branding dirinya yang sudah dibangun melalui konten selama bertahun-tahun.

ADVERTISEMENT

Sejak awal menjadi konten kreator, Alifah tak sekadar membuat konten mengenai produk kecantikan yang sedang populer. Ia banyak membagikan produk dan perawatan yang memang berkaitan dengan kondisi kulitnya sendiri.

"Aku dari awalnya itu memang udah sangat-sangat fokus terhadap topik soal kulit. Jadi apa pun yang aku share di YouTube itu, dari makeup-nya, skincare-nya itu untuk permasalahan kulit aku," kata Alifah.

Konsistensi tersebut secara perlahan membentuk citra Alifah di mata audiens. Ia yang memiliki kulit berjerawat tersebut lama-kelamaan menjadi referensi banyak orang untuk menangani permasalahan serupa.

"Jadi apapun yang aku share di YouTube itu, semua untuk permasalahan kulit aku. Sharing pengalaman pakai produk pun selalu dikasih lihat progres-nya, berapa lama sampai akhirnya sembuh," tuturnya.

Dari sanalah kemudian, ia mengatakan, kepercayaan audiens terbentuk. Ia tak semata-mata hanya mengulas produk kecantikan, melainkan juga membahas efeknya pada pemakaian pribadi.

Modal kepercayaan yang ia bangun tersebut kemudian membuatnya mulai berani untuk merintis brand kecantikan sendiri. Teratu kemudian lahir empat tahun setelah karier konten kreatornya dimulai, yakni pada 2020.

"Jadi enggak tiba-tiba langsung punya branding sendiri. Itu banyak berdampak dari personal branding pribadi, karena sudah ada followers yang mengikuti sejak zaman YouTube," paparnya.

Ketika mulai membangun Teratu pada 2020, Alifah pun tak langsung membuat banyak produk. Ia memilih mengembangkan produk secara bertahap.

"Tidak langsung membuat satu set produk gitu. Lebih mengembangkan satu per satu, dimulai dari mana dulu nih. Baru nanti lanjut ke mana lagi ya," ujarnya.

Kebiasaan Alifah dalam mengulas berbagai produk kecantikan untuk kulit berjerawat pun ia terapkan pada Teratu. Sejak awal, ia terbiasa memperlihatkan penggunaan skincare secara bertahap. Ia tidak memberikan gambaran seolah-olah perubahan kulit bisa terjadi dalam semalam.

"Sharing-nya juga tidak langsung seolah-olah aku langsung sembuh ketika pakai produk ini. Ada prosesnya, dan proses itu selalu diperlihatkan," bebernya.

Menurutnya, ulasan jujur tersebutlah yang menjadi pembeda branding Teratu dengan produk kecantikan pada umumnya. Terlebih, ia sudah memiliki basis audiens yang mempercayainya.

"Setiap proses pemakaiannya itu dikasih lihat, berapa bulan sih sampai jerawatku bisa pudar. Jadi lebih genuine. Mungkin itu yang bikin beda dari brand lain," ujar Alifah.

Pentingnya Edukasi Konsumen

Menurut Alifah, banyaknya pilihan skincare yang tersedia saat ini juga membuat edukasi kepada konsumen menjadi hal yang tidak kalah penting. Sebab, produk yang memberikan hasil baik pada satu orang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.

Oleh karenanya, ia mengatakan, ketika ada konsumen yang mengaku mendapatkan hasil berbeda setelah menggunakan produk Teratu, Alifah memilih untuk tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang salah.

"Kalau aku bikin konten tentang Teratu, terus tiba-tiba ada yang bilang, aku hasilnya nggak kayak gitu, ya sebenarnya enggak apa-apa," kata Alifah.

Ia menjelaskan, apa yang ia sampaikan kepada audiens merupakan pengalaman pribadi setelah menggunakan produk tersebut. Ia merasa cocok dengan produknya, sehingga kemudian memutuskan untuk menjualnya kepada konsumen.

"Berdasarkan apa yang aku rasakan. Karena di aku cocok, makanya aku jual. Tapi ini bisa berbeda di kondisi kulit orang lain," jelasnya.

Menurut Alifah, perbedaan hasil pemakaian justru menjadi bagian yang perlu dibicarakan dengan konsumen. Pemahaman atas kondisi kulit masing-masing jadi hal yang perlu terus diedukasi.

"Terutama untuk yang pemula di bidang beauty itu, harus diedukasinya lebih daripada yang lain. Karena hal seperti cuaca dan udara saja bisa berpengaruh dengan pemakaian produk," paparnya.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri saat berada di Bali. Meski produk skincare yang digunakan sama, kondisi kulitnya justru bisa berubah ketika berada di lingkungan yang berbeda.

"Untuk yang di Bandung dan di Surabaya misalnya, (hasil pemakaian produk) bisa saja berbeda. Aku pun kalau datang ke Bali selalu breakout. Karena kenapa? Karena pengaruh udara atau karena air," katanya.

Pengalaman tersebut membuat Alifah melihat bahwa konsumen perlu memahami kulitnya sendiri sebelum menilai apakah sebuah produk cocok atau tidak. Dengan begitu, penggunaan skincare bisa dilakukan dengan lebih tepat sasaran.



(tya/tya)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads