Pulang dari Luar Negeri, Eks PMI Dilatih Wirausaha demi Ketahanan Ekonomi

Pulang dari Luar Negeri, Eks PMI Dilatih Wirausaha demi Ketahanan Ekonomi

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikJabar
Rabu, 12 Agu 2026 17:57 WIB
Pelatihan kewirausahaan untuk PMI purna Kabupaten Cirebon yang telah pulang dari luar negeri
Pelatihan kewirausahaan untuk PMI purna Kabupaten Cirebon yang telah pulang dari luar negeri (Foto: BRI Peduli)
Cirebon -

Pekerja migran Indonesia (PMI) yang telah menyelesaikan masa kontrak kerjanya di luar negeri umumnya akan kembali ke Tanah Air dan menghadapi tantangan kerja baru di negeri sendiri. Supaya lebih siap, sebagian PMI membutuhkan pelatihan sehingga dapat tetap memiliki penghasilan dan membangun ketahanan ekonomi setelah bekerja di luar negeri.

Untuk itu, Pemkab Cirebon melalui Dinas Ketenagakerjaan mengadakan program khusus pelatihan kewirausahaan bagi PMI purna atau PMI yang sudah pulang dari luar negeri sejak 2023. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon Novi Hendrianto menjelaskan, pelatihan umumnya dilaksanakan di desa-desa yang merupakan kantong PMI.

"Peserta memperoleh pembekalan kewirausahaan dari pelaku UMKM, meliputi motivasi berwirausaha, perhitungan HPP, pengemasan, strategi pemasaran, serta pengelolaan hasil pendapatan selama bekerja di luar negeri sebagai modal usaha," terang Novi kepada detikcom, dikutip Rabu (12/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pelatihan unggulannya yakni di bidang tata boga. Sebab, menurut Novi, kebanyakan PMI purna asal Kabupaten Cirebon berminat untuk mengembangkan usaha kuliner. Satu pelatihan umumnya berlangsung selama tiga hari, diikuti setidaknya oleh 20 orang.

ADVERTISEMENT

Salah satu kendala dalam pelaksanaan pemberdayaan PMI purna ini adalah belum tersedianya data kepulangan PMI dari pusat yaitu KP2MI, sehingga pemerintah daerah belum memiliki basis data yang akurat mengenai PMI yang telah kembali ke Kabupaten Cirebon. Sementara dari PMI purna sendiri, tantangan yang kerap dihadapi yaitu keterbatasan peluang kerja setelah kembali.

"Tantangan umum masih rendahnya kemampuan dan minat berwirausaha, hasil dari bekerja di luar negeri pengelolaannya belum produktif sehingga terbatasnya permodalan berwirausaha dan pemasaran usaha, dan masih tingginya keinginan kembali bekerja di luar negeri," ungkap Novi.

Menurut Novi, hingga saat ini belum dilakukan survei pascapelatihan secara formal. Namun, berdasarkan komunikasi langsung dengan peserta, diperkirakan sekitar 10 persen peserta masih menjalankan dan mengembangkan usahanya. Novi menegaskan Disnakertrans Kabupaten Cirebon rutin melakukan monitoring dan evaluasi pascapelatihan, pendampingan usaha secara berkala, serta penguatan materi kewirausahaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, termasuk pemasaran digital.

Pelatihan ini juga bekerja sama dengan berbagai stakeholder, antara lain Kementerian Tenaga Kerja dan BRI. BRI melalui aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli ini memiliki Program Pemberdayaan Purna PMI yang memberikan berbagai macam pelatihan. Cirebon dipilih karena masuk ke dalam lima besar daerah asal PMI di Jabar.

Sebanyak 60 purna PMI mendapatkan pelatihan kewirausahaan dari BRI, mulai dari pelatihan dasar kewirausahaan, identifikasi peluang usaha dan pasar lokal, penyusunan business plan, hingga aspek manajemen seperti produksi, pemasaran, dan keuangan. Tak hanya memberikan pelatihan teknis, program ini juga memberikan penguatan mental dan motivasi kewirausahaan bagi para purna PMI.

Salah satu purna PMI yang mendapatkan pelatihan ini bernama Tanipa. PMI asal Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan ini sebelumnya bekerja di Hong Kong, Bahrain, dan Singapura. Ia menilai materi yang disampaikan dalam pelatihan sangat bermanfaat untuk memulai usaha sendiri di kampung halaman setelah bertahun-tahun mengadu nasib di luar negeri.

"Materi yang diberikan sangat relevan dengan kebutuhan purna PMI dalam mengembangkan usaha. Saya berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan oleh BRI agar semakin banyak purna PMI yang merasakan manfaat positif dari program tersebut," ujar Tanipa.

Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan bahwa program pemberdayaan purna PMI ini dirancang untuk membekali Tanipa dan puluhan purna PMI lainnya dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan guna pengembangan usaha maupun peningkatan peluang kerja di dalam negeri.

Para purna PMI ini juga didorong untuk memulai usaha produktif yang sesuai dengan potensi di daerah masing-masing. Selain memberikan benefit ekonomi bagi pribadi purna PMI tersebut, mereka juga dapat berkontribusi bagi pengembangan ekonomi daerah.

Peserta pelatihan juga akan memperoleh pendampingan bisnis secara intensif. Harapannya, pertumbuhan usaha mereka dapat lebih optimal, berdaya saing, serta berkelanjutan.

"Dengan dukungan mentor yang berpengalaman, mereka diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan, sekaligus berkontribusi secara aktif dalam mendorong pembangunan ekonomi masyarakat," lanjut Dhanny.

Dhanny menjelaskan, berdasarkan data penempatan PMI pada Desember 2025 dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), Jabar merupakan daerah asal PMI terbesar di Indonesia dengan persentase sebesar 21,93%. Dalam jumlah tersebut, sebanyak 4,02% berasal dari Cirebon. Sementara menurut data Disnaker Kabupaten Cirebon, keberangkatan PMI dari Kabupaten Cirebon yakni sebanyak 11.433 jiwa pada 2025 dan sebanyak 5.296 jiwa pada 2026 hingga bulan Juni.

"Ini menunjukkan bahwa Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah prioritas dalam upaya pemberdayaan purna migran yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta ketahanan ekonomi, mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha produktif yang mereka kelola, serta membuka peluang penghidupan yang berkelanjutan di dalam negeri," kata Dhanny.

(des/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads