Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin melemah. Kini, mata uang Amerika Serikat itu sudah menyentuh level Rp18.000. Dampaknya mulai terasa di pasar tradisional termasuk di Kota Cimahi.
Pedagang sayur di Pasar Atas Baru Cimahi, Willy, mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Namun ia tidak bisa memastikan apakah gegara dolar yang terus menguat sepenuhnya atau ada faktor lain.
"Nah itu, terasa sekarang daya beli masyarakat itu turun banget. Cuma kalau dibilang apa karena dolar aja, pastinya enggak. Tapi pasti salah satunya karena itu," kata Willy saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari segi harga, ia menyebut saat ini belum ada kenaikan signifikan dari beberapa komoditas yang biasanya naik. Salah satu yang harganya melambung yakni bawang merah yang kini menyentuh Rp60 ribu per kilogram.
"Normalnya di Rp30 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram, sementara sekarang harganya Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per kilogram. Untuk harga lainnya belum ada yang naik, mudah-mudahan jangan naik," kata Willy.
Willy menyebut stabilnya harga komoditas tak berbanding lurus dengan daya beli masyarakat. Sebab barang yang diambil akan menumpuk mengingat masyarakat kini sebagian mulai tak berbelanja ke pasar.
"Ya kalau barang ada, harganya normal, tapi enggak ada yang beli bagaimana? Ya sama saja kan bermasalah. Harus ada solusinya, kasihan kita yang ada di bawah, pemerintah harus tahu kondisi di pasar," kata Willy.
Pedagang lainnya, Hanna Subiarti juga mengeluhkan hal yang sama, yakni daya beli masyarakat kini mulai dirasakan menurun. Ia berharap pemerintah bisa mencari solusi agar dolar tak semakin menguat atas rupiah.
"Ya kita enggak tahu, apakah malas ke pasar karena enggak punya uang dan harga mahal atau juga karena sekarang belanja online. Cuma yang jelas kan dolar terus naik, mau sampai kapan seperti ini. Kita yang UMKM ini terdampak dolar naik dan penurunan daya beli," kata Hanna.
(yum/yum)
