Jelang Iduladha, permintaan hewan kurban mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 lalu. Bahkan, banyaknya permintaan membuat sejumlah pengusaha ternak mengalami kewalahan dalam memenuhi pesanan konsumen.
Salah satu peternakan, Rumah Kurban, yang berlokasi di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, turut merasakan kenaikan pemesanan hewan kurban. Geliat bisnis tersebut mulai mengalami kenaikan pada tahun 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengelola peternakan tersebut, Heru Sasongko (47) mengatakan saat ini masih mengupayakan memenuhi permintaan pelanggan yang belum mendapatkan jatah hewan kurban. Menurutnya, puluhan hewan kurban tersebut masih harus dilakukan pemesanan di daerah lain.
"Iya penjualan tahun sekarang lebih menjanjikan daripada tahun kemarin. Saya saja ini kekurangan banyak, ada sekitar 50 konsumen yang masih harus saya carikan sapi," ujar Heru saat ditemui di lokasi, Kamis (14/5/2026).
Heru menjelaskan saat ini pihaknya mengelola sebanyak 200 ekor sapi yang ditempatkan di Kecamatan Cilengkrang, Majalaya, dan Arjasari. Sementara itu, ia mengelola 60 ekor sapi secara langsung di peternakan yang ada di Cilengkrang.
"Kalau sapi kita ngambil di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali," katanya.
Dia menyebutkan sapi yang dipasarkan dijual dengan harga Rp24,5 juta per ekor untuk sapi dari Bali. Kemudian, sapi yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dijual dengan harga Rp25 juta per ekor.
"Harga sapi itu disesuaikan dengan karakteristik fisik hewan dan asal sapi tersebut," jelasnya.
Heru mengungkapkan terdapat perbedaan harga dan jenis yang dijual bagi konsumen umum atau Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dengan kalangan pejabat. Bahkan, para pejabat biasanya mencari bobot fantastis dan pemesanan biasanya dilakukan pada waktu yang mepet.
"Iya biasanya kalau pejabat mah seleranya yang berat sapi 300 kilogram ke atas, sampai 1 ton. Terus pejabat itu waktu pemesanan suka mepet dengan hari H, jadi waktunya mendesak. Harganya bisa di antara Rp 100 juta sampai Rp 150 juta lebih," bebernya.
Dia menyebutkan saat ini rutin memberikan jamu dan vitamin untuk menjaga imunitas hewan. Hal tersebut dilakukan agar sapi tidak mudah stres, terutama untuk mengantisipasi kondisi kesehatan menjelang pengiriman.
"Kalau pengiriman penjualan kita biasanya ke Jabodetabek," ungkapnya.
Heru menambahkan seluruh hewan kurban yang dikelolanya telah melalui prosedur pemeriksaan yang ketat. Sehingga, hewan kurban tersebut bisa dijual dan dipasarkan dengan layak.
"Kalau soal izin pengiriman jelas sudah aman. Yang penting ada surat kesehatan hewan, itu juga sudah diperiksa sama peternak tempat kita mengambil sapi sejak awal," pungkasnya.
Harga Naik, Penjualan Tetap Ramai
Sementara itu di lokasi berbeda, harga sapi kurban di Kota Sukabumi juga mengalami kenaikan jelang Iduladha 2026. Meski begitu, penjualan hewan kurban di sejumlah lapak tetap bergeliat dan pembeli terus berdatangan.
Di salah satu lapak penjualan hewan kurban, tepatnya di Sukabumi Kurban, Jalan Cemerlang, Warudoyong, Kota Sukabumi, puluhan sapi dari berbagai jenis dipajang untuk memenuhi permintaan warga. Jenis yang dijual mulai dari Simental, Limousin, Pegon, hingga PO. Sapi terberat berjenis Simental dengan bobot 800 kilogram dan dijual seharga Rp55 juta.
"Di sini jual sapi sama domba. Sapinya ada simental, limousin, pegon, PO. Ada yang dari petani lokal, ada juga kiriman dari Jawa Tengah, Jawa Timur, terutama Magetan," kata pemilik lapak, Muhammad Ilham, kepada detikJabar, Kamis (14/5/2026).
Ilham menyebut pasokan sapi dari luar daerah masih mendominasi karena peternak di sejumlah wilayah mengalami dampak penyakit mulut dan kuku (PMK). Kondisi itu ikut memengaruhi harga jual sapi tahun ini.
"Di sana PMK masih menyebar. Contohnya petani yang tadinya punya empat ekor, sekarang tinggal satu ekor. Mungkin pemerintah di sana belum bisa mengatasi penyakit," ujarnya.
Akibatnya, harga sapi kurban tahun ini naik cukup signifikan dibanding tahun lalu. Kenaikan bahkan mencapai sekitar 15 persen, tergantung pada bobot sapi.
"Kalau dulu bobot 500 kilogram itu paling Rp37 juta sampai Rp40 juta. Sekarang bisa Rp50 juta," ungkapnya.
Meski harga melonjak, daya beli masyarakat disebut belum terlalu terdampak. Penjualan di lapaknya justru tetap ramai dan sebagian pembeli langsung melakukan transaksi tanpa banyak menawar.
"Alhamdulillah penjualannya ada terus. Ada yang nawar, ada juga yang langsung beli," katanya.
Sejauh ini, Ilham mengaku telah menyediakan sekitar 50 ekor sapi. Dari jumlah itu, sekitar 40 ekor telah terjual dan sebagian sudah dibawa oleh pembeli.
"Sekarang sudah terjual sekitar 40 ekor. Kebanyakan pembeli dari Sukabumi," tuturnya.
Ia memperkirakan puncak penjualan hewan kurban biasanya terjadi lima hari menjelang Idul Adha. Pada momen itu, aktivitas transaksi di lapak biasanya meningkat tajam.
"Biasanya puncaknya H-5. Di situ penjual juga deg-degan karena harga beli dari sana juga tinggi, untungnya tipis, ini belum semua datang sapinya," pungkasnya.
(sud/sud)
