Tren mengenakan wastra Nusantara kini semakin populer, tak terkecuali di kalangan generasi muda. Kain tradisional Indonesia seperti batik, tenun,hingga songket yang dulu identik dengan acara formal mulai diadaptasi menjadi gaya sehari-hari yang lebih santai dan modern.
Namun di balik tren tersebut, masih banyak yang belum memahami cara mengenakan wastra dengan tepat. Dosen Kriya Tekstil Universitas Muhammadiyah Bandung, Wahyu Perdana Saputra, membagikan sejumlah tips penting agar penggunaan wastra tidak hanya sekadar mengikuti tren.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tips Memakai Wastra Nusantara untuk Pemula
1. Mengenal Kain yang Dipakai
Menurut Wahyu, langkah paling dasar adalah memahami kain yang akan digunakan. Ia menekankan bahwa wastra bukan sekadar bahan tekstil biasa, melainkan bagian dari identitas budaya.
"Yang paling penting adalah mengenali kain yang mau kita pakai, agar kita bisa menghargainya," ungkapnya ketika ditemui detikJabar di Bandung, Senin (27/4/2026).
Ia mengaku senang melihat tren penggunaan wastra Nusantara di kalangan anak muda semakin berkembang. Namun, ia juga mengingatkan agar tren tersebut tidak berhenti sebagai gaya sesaat tanpa pemahaman yang mendalam.
"Banyak yang masih menganggap ini hanya tren sesaat, hanya sekedar fashion. Tapi sebenarnya wastra bukan hanya sekedar material. Selain digunakan, saya sih menyarankan untuk bisa lebih mendalaminya," jelasnya.
2. Bukan Sekedar Tekstil
Selain mengenali, pemakai juga diminta tidak memandang wastra Nusantara hanya sebagai pelengkap penampilan. Wahyu menilai penting untuk memahami cara penggunaan kain yang benar sesuai dengan nilai tradisinya.
Ia mengatakan, melakukan mix and match dan menonjolkan style pribadi saat menggunakan wastra dapat dilakukan agar tampil menarik. Namun, hal tersebut juga perlu dibarengi dengan pemahaman bahwa kain tersebut memiliki nilai budaya.
"Tentu saya akan menyarankan untuk jadi diri sendiri (saat mengenakan wastra). Tapi jangan sampai menganggap bahwa kain tersebut hanya sekedar material belaka. Penting untuk kita memahami cara menggunakan kain yang benar seperti apa," terangnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi, penggunaan kain memiliki aturan dan makna tertentu. Hal ini salah satunya terlihat dari hubungan antara motif, posisi kain, hingga cara pemakaiannya.
"Orang zaman dahulu selalu menggunakan kain-kain itu ada ada korelasinya. Bagian atas, bagian bawah, motif-motifnya semuanya gitu bahkan ada keterhubungannya antara satu sama lain," jelasnya.
3. Bisa Untuk Seluruh Gender
Tren penggunaan wastra Nusantara tak hanya diminati wanita, melainkan juga pria. Namun, tak jarang pria kerap merasa bingung untuk mengenakan wastra agar tak terkesan feminin.
"Kadang ada yang bertanya kalau pakai kain itu jadi feminin enggak sih. Padahal dari dulu laki-laki banyak pakai kain. Bisa dibedakan dari cara pakainya," tuturnya.
Ia mencontohkan pada budaya Jawa, posisi ujung kain bisa menunjukkan perbedaan gender. Hal ini bisa menjadi patokan bagi pria yang merasa mengenakan kain akan membuat tampilan mereka terlihat feminin.
"Untuk di daerah Jawa Tengah misalnya, ujung kainnya itu harus menghadap ke kiri. Sebaliknya, wanita harus menghadap ke kanan gitu. Dari cara pakainya bisa terlihat mana untuk laki-laki dan perempuan," lanjutnya.
4. Utamakan Kenyamanan
Dalam berbusana, Wahyu mengatakan, kenyamanan tetap menjadi faktor utama yang tidak boleh diabaikan. Ia menyarankan pemula untuk memilih padanan yang sederhana namun tetap nyaman digunakan sehari-hari.
"Kalau misalnya dilihat dari tren sekarang saya rasa yang paling mudah untuk dikenakan adalah yang penting harus nyaman dulu," katanya.
Ia menambahkan, wastra bisa dipadukan dengan berbagai jenis atasan sesuai gaya masing-masing. Tidak melulu harus mengenakan atasan kebaya atau baju formal.
"Atasannya pakai t-shirt yang nyaman boleh, dipadukan kemeja yang nyaman juga bisa, pakai blouse juga boleh," ujarnya.
5. Tidak Tabrak Motif
Di samping kenyamanan, aspek visual juga perlu diperhatikan agar tampilan tidak terkesan berlebihan. Kombinasi yang tepat akan membuat wastra terlihat lebih elegan dan enak dipandang.
"Selain nyaman dipakai, sebaiknya juga nyaman dilihat secara visual. Jadi enggak conflicting atau saling bertabrakan," jelas Wahyu.
Ia mengingatkan agar tidak memadukan terlalu banyak motif yang sama-sama ramai. Bila sudah mengenakan wastra dengan corak menonjol sebagai bawahan misalnya, maka atasan berwarna netral atau polos bisa jadi pilihan.
"Kalau atasannya ramai, bawahannya ramai, akhirnya bertabrakan. Kadang ada yang bisa membuat itu enak dilihat, tapi tak jarang juga malah jadi ruwet ya kesannya," ungkapnya.
6. Hargai Pakem
Wahyu menegaskan bahwa berkain merupakan bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur. Oleh karena itu, ada norma dan nilai yang perlu dijaga saat mengenakan wastra.
"Berkain itu adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap nenek moyang. Berarti ada norma-norma yang diterapkan, ada nilai-nilai yang diterapkan," ujarnya.
Ia mengingatkan agar penggunaan wastra tidak kehilangan makna. Pasalnya, ada nilai-nilai budaya yang terkandung di setiap helai kainnya.
"Ketika sedang berkain, penghargaan terhadap kain tersebut juga harus tinggi. Karena ada nilai-nilai dan norma yang harus kita bawa ketika mengenakan kain tersebut," paparnya.
Kain tradisional Indonesia Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar |
Kesalahan Umum Penggunaan Wastra Nusantara
Wahyu juga kerap menemukan beberapa kesalahan yang lazim dijumpai pada penggunaan wastra Nusantara. Beberapa di antaranya adalah:
1. Memakai Kain Print
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan kain bermotif hasil print, bukan asli kerajinan tangan. Hal ini kerap terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap jenis-jenis tekstil tradisional.
"Misalnya dia bilangnya batik ternyata tekstil motif batik yang diprint," ujar Wahyu.
Ia menekankan bahwa tekstil tradisional memiliki nilai budaya yang lebih luas. Di dalamnya terdapat unsur manusia, alam, hingga kesejahteraan lokal yang saling berkaitan.
"Tekstil tradisional itu adalah produk budaya yang punya nilai dan mengandung berbagai unsur. Mulai dari manusia, budayanya, alamnya, kesejahteraan lokalnya, UMKM, dan lain sebagainya," jelasnya.
Oleh karenanya, ia menekankan pentingnya edukasi antara penjual dan pembeli. Sehingga, masyarakat bisa memperoleh penjelasan yang transparan antara kain print dengan wastra Nusantara.
"Untuk batik misalnya, seller harus bisa menginformasikan bahwa yang dijual itu tuh benar-benar kain batik. Apakah batik cap, atau batik tulis," ucapnya.
2. Ketidaksesuaian Pola
Kesalahan lain adalah penggunaan kain tanpa memperhatikan arah dan pola motif. Padahal, beberapa motif memiliki posisi tertentu yang tidak boleh diubah.
"Misalnya ada motif-motif yang memang harus posisinya vertika. Itu jangan sampai terjungkir," ujarnya.
Ia mencontohkan fenomena kain yang dijahit tanpa memperhatikan arah motif sehingga hasilnya terbalik demi menyesuaikan pola pakaian.
"Yang motif awalnya seharusnya berdiri, jadi terbalik gara-gara dijahit jadi celana model harem misalnya," lanjutnya.
Oleh karenanya, ia menyarankan untuk mencari tahu jenis kain sebelum dijahit. Wahyu juga menambahkan bahwa kini sudah banyak produsen fesyen wastra Nusantara yang telah memahami pakem penjahitan kain-kain yang dijual.
"Beberapa desainer dan produsen kain itu sudah mendesain kain dengan pola. Jadi tidak ada yang overlap, dan bagian-bagiannya sudah disesuaikan dengan kebutuhan penjahitannya," jelasnya.
(sud/sud)

