Meretas Jejak Perajin Genteng di Priangan Timur yang Kini Punah

Faizal Amiruddin - detikJabar
Kamis, 12 Feb 2026 10:30 WIB
Foto: Faizal Amiruddin
Tasikmalaya -

Wacana gentengisasi yang digaungkan Presiden RI Prabowo Subianto mengemuka sebagai solusi pembangunan yang diklaim berpihak pada kearifan lokal dan material ramah lingkungan.

Namun di Priangan Timur, gagasan itu hadir di tengah kondisi yang sudah berubah drastis. Industri genteng tanah liat yang dulu menghidupi ratusan bahkan ribuan keluarga kini sudah lenyap.

Satu per satu perajin genteng gulung tikar, terdesak atap pabrikan berbahan metal dan beton yang lebih murah, ringan, serta cepat dipasang.

Di wilayah Priangan Timur sendiri, produksi genteng tidak terlalu signifikan. tak seperti genteng Sokka Kebumen atau Jatiwangi yang melegenda.

Di wilayah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Pangandaran, produsen genteng terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Langensari Kota Banjar. Dulu dikenal dengan nama Genteng Langen, produk genteng yang dianggap grade 2, setelah genteng Sokka Kebumen. Di daerah lainnya pun sempat ada, tapi kapasitas produksinya tak terlampau signifikan. Seperti di Kecamatan Sukaraja dan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya. Kini produsen genteng itu sudah gulung tikar semua.

"Saya sudah 3 tahun berhenti membuat genteng," kata Nurdin Husnudin, perajin genteng asal Desa/Kecamatan Langensari Kota Banjar, Rabu (11/2/2026).

Penyebab usahanya gulung tikar banyak, mulai dari kualitas tanah yang kurang cocok, hingga kalah bersaing di pasaran.

"Lahannya semakin sempit, kemudian tanah di kami memang tidak sebagus Sokka Kebumen. Jadi genteng yang dihasilkan juga agak kurang. Makanya genteng Langen itu lebih murah, hanya Rp1.300," kata Nurdin.

Atas kondisi itu, Nurdin lebih memilih fokus produksi bata merah. Selain lebih mudah, Nurdin mengaku bata merah produk Banjar sudah gampang terjual, sudah punya nama untuk pasar Priangan Timur. "Enaknya bata merah itu, walau pun belah masih bisa terjual. Kalau genteng kan nggak bisa. Bikinnya juga lebih mudah kalau bata merah," kata Nurdin.

Terkait wacana gentengisasi, dia mengaku menaruh harapan usahanya bisa bangkit lagi. Tapi dia tak memungkiri banyak kendala yang akan dihadapi mulai dari modal awal, teknologi produksi yang tertinggal, regenerasi tenaga kerja, serta kepastian pasar.

Simak Video "Video: Melihat Geliat Industri Genteng Jatiwangi di Tengah Isu Gentengisasi"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork