Kisah Asep dan 'Gurihnya' Bisnis Gorengan di Kota Bandung

Kisah Asep dan 'Gurihnya' Bisnis Gorengan di Kota Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 11 Feb 2026 18:00 WIB
Penjual gorengan di Bandung
Penjual gorengan di Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Data Badan Pusat Statisrtik (BPS) mengungkap fakta mencengangkan soal gorengan di Kota Bandung yang perputaran uangnya tembus hingga ratusan miliar per tahun. Bagi pedagang, data itu dianggap wajar mengingat kondisi Kota Bandung yang dingin sehingga gorengan jadi kudapan pas untuk dinikmati.

Salah satunya diungkapkan Asep. Saat ditemui detikJabar pada Rabu (11/2/2026), Asep tengah sibuk membuat gorengan di gerobaknya yang ada di Jalan Ambon, Kota Bandung. Pria berusia 50 tahun itu sedang sibuk menggoreng gehu atau toge tahu di wajan yang ada di samping gerobaknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain menggoreng gehu, Asep juga sedang membuat adonan untuk bakwan atau bala-bala yang dikenal selama ini oleh warga Bandung. Usai mengiris sayuran seperti kol, wortel dan daun bawang, sayuran itu langsung dimasukkan ke adonan tepung yang terlebih dahulu dibuatnya.

Disamping menggoreng dan membuat adonan, Asep dengan cekatan melayani pembeli yang membeli gorengan miliknya. Meski terlihat sibuk, kegiatan itu sudah menjadi kebiasaannya.

ADVERTISEMENT

Saat detikJabar berkunjung ke gerobak milik Asep, Asep langsung menawarkan untuk mencicipi gorengan yang dibuatnya. Di gerobak itu, Asep membuat beragam gorengan, ada gehu, bala-bala, cireng, karoket, tempe, goreng pisang, goreng ubi hingga goreng ubi.

"Saya jualan sejak 2009," kata Asep membuka perbincangan dengan detikJabar.

Asep mengaku kaget dengan data yang dirilis BPS. Data BPS sendiri mengungkapkan pada tahun 2024, konsumsi gorengan di Kota Kembang mencapai sekitar 404,69 juta potong.

"Wah benar itu, luar bisa sekali ternyata," ucap Asep.

Jika satu potong gorengan dibanderol Rp1.000, perputaran uang lebih dari Rp404 miliar setiap tahun dan jika gorengan dibanderol Rp2000, perputaran uang lebih dari Rp808 miliar.

Mendengar hal itu, Asep semakin tercengang. Kepada detikJabar, Asep menjelaskan mengapa gorengan sangat disukai warga Bandung, salah satunya karena cuaca yang mendukung.

"Bandung kan kotanya dingin, otomatis sarapan pagi enak makan gorengan, menu wajib," jelasnya.

"Apalagi puasa, mau buka, meski ada nasi dan lauk, menu wajib bala-bala," tambahnya.

Selain pagi-pagi atau untuk buka puasa, Asep menyebut, jika gorengan enak di makan di saat cuaca hujan. Apalagi disantap saat masih panas atau hangat.

"Cuaca mendukung, enak makan gorengan pas beres digoreng, apalagi kalau udah hujan-hujan," tuturnya.

Selain itu, menurut Asep, pelanggannya paling suka makan gorengan dibarengi dengan cabai rawit hijau.
Asep yang merupakan warga Sudirman itu mengatakan, dia berjualan dari pagi sampai sore. Usaha berjualan gorengan, menjadi tumpuan untuk menafkahi keluarga.

"Pendapatan sekarang Rp400 ribuan," katanya.

Disinggung soal bahan baku, Asep sebut untuk di Kota Bandung aman dan mudah didapat. Namun ada beberapa bahan baku yang kerap alami kenaikan.

"Bahan baku aman, sayuran aman, hanya cabai, naik turun, sekarang aja sampai Rp80 ribu," pungkasnya.



(wip/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads