Pemkab Garut Keluarkan Dana Rp 672 Juta Bantu Peternak Terdampak PMK

Pemkab Garut Keluarkan Dana Rp 672 Juta Bantu Peternak Terdampak PMK

Angga Laraspati - detikJabar
Selasa, 20 Sep 2022 22:38 WIB
Pemkab Garut
Foto: Dok. Pemkab Garut
Jakarta -

Sekretaris Daerah Garut Nurdin Yana menyebutkan pemerintah daerah telah mengeluarkan dana dengan total anggaran kurang lebih Rp 672 juta untuk 174 ekor ternak yang terdampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dana tersebut berasal dari Belanja Tidak Terduga (BTT) .

"Karena kita juga melihat bahwa untuk konteks pemanfaatan BTT, jadi ini dana ini kan diambil dari BTT di pergeseran di Pak Kadis, sehingga memang karena sifat BTT tidak boleh dibelikan hal lain kecuali treatment pada hal tadi (yaitu dana) kerohiman," kata Nurdin Yana dalam keterangan tertulis, Selasa (20/9/2022).

Usai menggelar Rapat Koordinasi Penanggulangan PMK, hari ini, Nurdin mengatakan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Pemerintah Kabupaten Garut tengah melakukan upaya penanganan dengan cara melokalisir kasus PMK, sehingga penyebaran kasus tersebut dapat dikendalikan.


Ia mengatakan rapat kali ini dalam rangka mengaktifkan kembali Satgas PMK Kabupaten Garut yang sebelumnya telah dibentuk. Ia mengungkapkan, sebelumnya kasus PMK muncul di tengah-tengah pandemi COVID-19 sehingga memperburuk kondisi perekonomian masyarakat Garut.

"Saya melihat ke lapangan lah bagaimana keadaan teman-teman kami masyarakat kita kehilangan ternaknya, yang merupakan salah satu pendapatan mereka dan ketika itu hilang, maka pendapatan mereka kan sudah tidak ada," ucap Nurdin Yana.

Sementara itu. Kepala Diskanak Garut, Sofyan Yani menyampaikan saat ini kasus PMK di Kabupaten Garut masih bertambah namun terkendali berkat adanya penanganan yang profesional. Ia mengungkapkan jumlah kasus PMK di Kabupaten Garut saat ini kurang lebih 6.390 kasus, dengan 4.900 ternak dinyatakan telah sembuh dari PMK.

"Dan tentunya ini tetap dikendalikan, diobati, kemudian dijaga lalu lintasnya, lakukan biosecurity. Tapi yang terpenting sekarang itu tahap kegiatan vaksinasi, vaksinasi ini belum 100% karena memerlukan waktu, karena tempatnya, lokasinya yang berjauhan ini kita baru di sekitar 60%," tutur Sofyan.

Pihaknya menargetkan vaksinasi ternak di Kabupaten Garut sebanyak 27.000 dosis dan baru terlaksana 1.100 dosis untuk vaksin pertama, dan 3.400 dosis untuk vaksin kedua. Sementara bantuan kerohiman bertujuan agar peternak bisa kembali beternak setelah sebelumnya dirugikan karena wabah PMK.

"Untuk yang sapi besar Rp 5 juta per ekor, yang sapi anak yaitu 3 juta, dan domba 1 juta, sudah diberikan tadi secara simbolis sudah disampaikan pada mereka, diharapkan mereka bisa bergeliat lagi berternak lagi," katanya.

Sofyan mengatakan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 518 Tahun 2022 Tentang Pemberian Kompensasi & Bantuan dalam keadaan tertentu Darurat PMK. Pemerintah pusat akan memberikan dana kompensasi sebesar Rp 10 juta per ekor yang berlaku bagi ternak yang mati atau dipotong paksa karena PMK.

Adapun syarat yang harus dipenuhi salah satunya adalah bantuan tersebut dikhususkan bagi peternak kecil dengan kepemilikan kurang dari 15 ekor sapi, dengan total maksimal 5 ternak yang terdampak PMK. Kemudian, mengisi formulir yang telah disediakan, serta mengumpulkan data yang menunjukkan bahwa ternak tersebut benar-benar mati karena dampak PMK.

"Pertama harus ada laporan dari yang bersangkutan ke Dinas, yang kedua dilakukan verifikasi harus ada pernyataan bahwa ternak itu benar-benar pemilik peternak itu, dinyatakan oleh kepala desa dan dinyatakan oleh kepala desa dan petugas kami bahwa ternak itu mati karena PMK, dinyatakan juga oleh dokter hewan yang berwenang bahwa itu bener-bener sakitnya oleh PMK," ungkapnya.

Salah seorang peternak yang mendapatkan bantuan dana kerohiman, Ali Abdurrohman (47) dari Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memberikan bantuan bagi para peternak yang terdampak PMK.

Ali mengungkapkan sebelumnya ia memiliki 5 ekor ternak sapi perah yang pada akhirnya seluruh sapi perah miliknya terdampak PMK, dan satu diantaranya mati. Ia berharap, ke depannya akan ada perhatian dari pemerintah daerah berupa program untuk membangkitkan perekonomian para peternak di Kabupaten Garut.

"Kalau harapan kedepannya ya tentu saja saya mengharap dari kepemerintahan untuk meningkatkan lagi perusahaan sapi perah saya berupa apa saja, program apa saja yang penting saya ada perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan ekonomi saya," tuturnya.

(akn/ega)