Rahasia Mantel Bumi Terungkap, Litosfer Ternyata Lebih Kokoh

Kabar Internasional

Rahasia Mantel Bumi Terungkap, Litosfer Ternyata Lebih Kokoh

Rachmatunisa - detikJabar
Kamis, 29 Okt 2026 21:00 WIB
IN SPACE - In this handout provided by the National Aeronautics and Space Administration, Earth as seen from a distance of one million miles by a NASA scientific camera aboard the Deep Space Climate Observatory spacecraft on July 6, 2015. (Photo by NASA via Getty Images)
Ilustrasi bumi (Foto: NASA via Getty Images).
Bandung -

Di balik pijakan kita yang tampak kokoh, Bumi menyimpan rahasia besar yang terus bergejolak. Analisis seismik global terbaru baru saja mematahkan asumsi lama: lapisan mantel Bumi yang sebagian meleleh ternyata tidak selemah yang dibayangkan para ilmuwan selama ini. Temuan ini menjadi titik balik penting dalam memisahkan dua misteri besar geologi: di mana sebenarnya batuan meleleh berada, dan apa yang memicu bagian dalam Bumi mengalir perlahan?

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience ini merupakan buah kolaborasi lintas kampus antara Brown University, University of Texas at Austin, dan Cornell University. Junlin Hua, yang menginisiasi riset ini sejak masa doktoralnya di Brown, memimpin proyek tersebut saat menjabat sebagai peneliti pascadoktoral di University of Texas. Dengan memanfaatkan sinyal gempa, tim ini berhasil "mengintip" jauh ke dalam perut Bumi, wilayah yang mustahil dijangkau oleh eksplorasi fisik manusia.

"Dikutip dari The Brighter Side News, lempeng tektonik Bumi terdiri dari kerak dan mantel teratas yang kaku, yang secara bersama-sama disebut litosfer. Di bawahnya terletak astenosfer, wilayah mantel yang lebih lemah yang mengakomodasi pergerakan antara lempeng dan batuan yang lebih dalam. Meskipun sebagian besar padat, material ini dapat mengalami deformasi dalam skala waktu geologis."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kunci dari pergerakan tektonik ini terletak pada viskositas, yakni tingkat resistensi batuan terhadap aliran. Batuan memiliki kemampuan unik untuk mentransmisikan getaran gempa sekaligus berubah bentuk secara perlahan di bawah tekanan konstan. Memahami deformasi lambat ini menjadi krusial untuk membedah bagaimana lempeng yang kaku bisa terus bergerak di atas permukaan Bumi yang dinamis.

Selama ini, peleburan parsial dianggap sebagai faktor utama pergerakan tersebut karena cairan di antara butiran mineral padat diyakini mampu melunakkan perilaku batuan. Namun, seberapa besar pengaruh mekanis dari lelehan ini masih menjadi perdebatan panjang. Mendeteksi jejak seismik dari peleburan hanyalah satu kepingan kecil dari teka-teki besar yang coba dipecahkan oleh para ilmuwan.

Tim peneliti memfokuskan perhatian pada batas bawah wilayah di mana gelombang seismik bergerak melambat. Jika batas atas wilayah ini sudah banyak teridentifikasi, batas bawahnya justru masih menjadi misteri yang memicu ketidakpastian mengenai hubungan antara wilayah berkecepatan rendah dengan pencairan di kedalaman Bumi.

Untuk memecahkan misteri ini, para peneliti mengumpulkan data dari 716 stasiun seismik permanen di seluruh dunia. Setelah melalui seleksi kualitas yang ketat, mereka menganalisis 184.340 pengukuran receiver functions-sebuah teknik canggih untuk mengisolasi sinyal yang muncul saat gelombang seismik bertemu dengan perubahan struktur di dalam Bumi. Penggabungan ribuan data ini akhirnya berhasil mengungkap struktur yang sebelumnya tersembunyi.

Metode mereka meneliti gelombang S yang berubah menjadi gelombang P di batas bawah tanah. Karena jenis gelombang ini mendistorsi batuan dengan cara yang berbeda, konversinya membawa informasi berharga tentang perubahan sifat material. Waktu dan kekuatan sinyal tersebut menjadi kunci bagi tim untuk memetakan kedalaman batas serta perubahan kecepatan gelombang dengan presisi tinggi.

Hasilnya, sinyal yang jelas muncul di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah banyak stasiun. Sinyal ini menandai peningkatan kecepatan seismik seiring bertambahnya kedalaman, yang konsisten dengan gelombang yang baru saja meninggalkan lapisan lebih lambat di atasnya. Di lokasi di mana batas tersebut terdeteksi, lapisan berkecepatan rendah itu memiliki ketebalan rata-rata sekitar 65 kilometer.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads