Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota kreatif atau Paris van Java saja. Kota ini juga melahirkan pemuda-pemuda yang berani melawan penjajahan, membangun pendidikan, menggerakkan politik, bahkan menentukan arah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jejak mereka masih terasa dalam nama jalan, sekolah, dan peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api.
Dari pejuang muda seperti Muhammad Toha hingga perintis pendidikan perempuan seperti Dewi Sartika, tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari keberanian generasi muda. Berikut enam tokoh pemuda asal Bandung yang perjuangannya mengubah sejarah Indonesia.
1. Muhammad Toha, Pahlawan Bandung Lautan Api
Muhammad Toha lahir di Bandung pada 1927. Ia tumbuh di lingkungan sederhana dan sempat bekerja sebagai montir, termasuk di bengkel kendaraan militer Jepang. "Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Bandung, Toha bergabung dengan Barisan Rakyat Indonesia yang dipimpin pamannya, Ben Alamsyah."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada usia sekitar 19 tahun, Toha terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Ia bersama Mohamad Ramdan, rekan seperjuangan yang sama-sama berasal dari milisi Barisan Rakjat Indonesia (BRI) dalam peristiwa Bandung Lautan Api, berusaha meledakkan gudang mesiu Sekutu di Dayeuhkolot agar pasukan musuh tidak dapat menggunakan persediaan senjata tersebut.
Aksi itu berhasil menghancurkan gudang mesiu, tetapi Toha gugur dalam ledakan. Namanya kini dikenang sebagai simbol keberanian pemuda Bandung yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan.
2. Otto Iskandardinata, Si Jalak Harupat
"Melansir laman Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Raden Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, pada 31 Maret 1897." Ia dikenal dengan julukan Si Jalak Harupat dan berperan besar dalam pergerakan nasional sejak usia dewasa muda.
Tak hanya itu, mengutip dari beberapa sumber, Otto Iskandardinata juga aktif di organisasi Boedi Oetomo, Muhammadiyah, dan Paguyuban Pasundan. Ia juga menjadi anggota Volksraad, dewan perwakilan pada masa Hindia Belanda, serta vokal mengkritik kebijakan kolonial.
Setelah proklamasi, Otto menjadi Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia dan terlibat dalam persiapan pembentukan kekuatan pertahanan negara. Meski begitu, sayangnya ia diculik dan diperkirakan dibunuh pada 20 Desember 1945, lalu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1973.
3. Maskoen Soemadiredja, Pejuang Politik dari Bandung
Mengutip dari beberapa sumber, Maskoen Soemadiredja lahir di Bandung pada 25 Mei 1907. Pada usia 20 tahun, tepatnya 1927, ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia dan menjadi bagian dari generasi pertama PNI Bandung.
Tak sampai di situ, ia juga menjabat sebagai komisaris sekaligus sekretaris II PNI Bandung dan aktif menyebarkan semangat nasionalisme. Perjuangannya membawa konsekuensi berat karena ia harus dipenjara, hingga kemudian diasingkan ke Boven Digul pada 1935.
Seolah tak ingin berhenti berjuang, setelah kemerdekaan, Maskoen tetap bergerak di dunia politik dan mendirikan Persatuan Perintis Kemerdekaan Indonesia. Ia wafat pada 4 Januari 1986 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2004.
4. RE Martadinata, Pelopor Angkatan Laut
Mengutip dari beberapa sumber, Raden Eddy Martadinata atau RE Martadinata lahir di Bandung pada 29 Maret 1921. Ia menempuh pendidikan di MULO Bandung pada 1938, kemudian menekuni dunia pelayaran yang membawanya ke karier militer laut.
Pada usia 24 tahun, setelah proklamasi kemerdekaan, ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat Laut Jawa Barat pada 1945. Ia juga menjadi salah satu penggagas Barisan Banteng Laut yang berperan dalam perjuangan di pelabuhan.
Tak sampai di situ, RE Martadinata kemudian menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut pada 1959 hingga 1966. Ia wafat dalam kecelakaan helikopter pada 6 Oktober 1966 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun yang sama.
5. Dewi Sartika, Perintis Pendidikan Perempuan
"Melansir dari laman Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung, pada 4 Desember 1884." Sejak remaja, ia memiliki cita-cita mendirikan sekolah bagi perempuan pada masa ketika akses pendidikan bagi kaum perempuan masih sangat terbatas.
Hingga pada usia 19 tahun, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atau Sakola Kautamaan Istri pada 16 Januari 1904. Sekolah tersebut menjadi salah satu tonggak penting pendidikan perempuan di Indonesia.
Sepanjang hidupnya, ia memperjuangkan kesetaraan pendidikan bagi perempuan Sunda. Atas jasanya, pemerintah menetapkan Dewi Sartika sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 252 tahun 1966.
6. Wiranatakusumah V, Bangsawan yang Berpihak pada Rakyat
Mengutip dari beberapa sumber, Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V lahir di Bandung pada 1888. Ia dikenal sebagai Dalem Haji dan menjabat sebagai Bupati Bandung pada periode 1920-1931 serta 1935-1945.
Sejak usia sekitar 24 tahun, ia sudah menjadi Bupati Cianjur pada 1912. Kemudian, pada masa kemerdekaan, Wiranatakusumah V diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang pertama.
Ia juga menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung dan Wali Negara Pasundan. Meski berlatar bangsawan, sosok ini dikenal dekat dengan tokoh pergerakan dan berupaya menjaga keutuhan wilayah Jawa Barat dalam bingkai NKRI.
Simak Video "Video: Fadli Zon Ingin Penulisan Ulang Sejarah Bermuatan Tone Positif"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
