Dunia sempat digegerkan dengan rumor liar yang menyebut Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, meninggal dunia. Kabar burung yang berseliweran di media sosial itu mengklaim Kim Jong-un sempat mengalami koma akibat pendarahan otak saat menjalani perawatan di China.
Tak berhenti di situ, spekulasi pun makin liar dengan menyebut adik perempuannya, Kim Yo-jong, telah mengambil alih tampuk kekuasaan di Korea Utara.
Menanggapi isu tersebut, Badan Intelijen Nasional Korea Utara atau National Intelligence Service (NIS) akhirnya buka suara dalam rapat tertutup bersama Komite Intelijen Majelis Nasional. NIS menegaskan bahwa rumor kondisi darurat maupun kematian Kim Jong-un sama sekali tidak berdasar dan jauh dari fakta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menepis isu kematian sang pemimpin, NIS membeberkan bahwa Kim Jong-un memang masuk dalam kelompok risiko tinggi (high-risk group) untuk gangguan kesehatan fatal, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular).
Hal ini berkaitan dengan kondisi fisik Kim Jong-un yang memiliki berat badan lebih dari 140 kg. Secara medis, ia tergolong mengidap obesitas ekstrem.
Kendati demikian, pihak intelijen menegaskan belum menemukan adanya tanda-tanda gangguan kesehatan yang signifikan pada pria tersebut.
"Meskipun pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memiliki berat badan lebih dari 140 kg dan dikategorikan mengalami obesitas ekstrem sehingga berada dalam kelompok risiko tinggi penyakit kardiovaskular, tidak ada tanda-tanda signifikan gangguan kesehatan yang teramati," ungkap pihak NIS, dikutip dari laman Chosun.
Kondisi fisik Kim Jong-un dinilai masih relatif stabil. Hal ini dibuktikan dari kemampuannya menaiki tangga tanpa kesulitan saat melakukan inspeksi kapal perang baru-baru ini.
Artikel ini sudah tayang di detikHealth, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video: Korea Utara Rayakan HUT ke-77 dengan Tarian Massal-Kembang Api"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
