Kabar Internasional

Kisah Raja Jamur, Raksasa yang Hidup Usai Era Dinosaurus

detikINET - detikJabar
Minggu, 25 Okt 2026 13:00 WIB
Jamur raksasa. (Foto: CNN)
Bandung -

Ilmuwan menemukan spesies jamur raksasa di China yang memiliki nama unik, Dianjunus rex. Jamur ini memiliki struktur reproduksi yang menjulang hingga 50 sentimeter dengan bobot hampir 2,2 kilogram. Ukurannya menjadikan spesies ini yang terbesar bak 'raja' dalam filum Ascomycota, kelompok jamur dengan keanekaragaman tinggi.

Nama Dianjunus rex mengingatkan pada Tyrannosaurus rex, predator raksasa yang pernah menguasai Bumi. Namun, jamur ini memiliki kisah evolusi yang berbeda. Famili jamur tersebut diperkirakan muncul setelah kepunahan massal pada akhir Periode Kapur, sekitar 66 juta tahun lalu, yang memusnahkan seluruh dinosaurus nonunggas serta sekitar 75 persen spesies tumbuhan dan hewan.

Struktur reproduksi jamur yang disebut stromata itu memiliki bentuk tegak dengan warna kuning pucat. Ukurannya membuat jamur ini tampak mencolok dibandingkan spesies lain dalam kelompoknya.

"Mendengar penemuan jenis atau spesies jamur baru berukuran spektakuler selalu menarik. Ini jadi petunjuk banyaknya bentuk kehidupan jamur yang sangat eksotis, yang belum sempat diidentifikasi dan dijelaskan sains," kata Kabir Peay, profesor biologi Universitas Stanford, yang tak terlibat di penelitian baru tersebut.

Ilmuwan menemukan D rex di hutan Provinsi Yunnan, China, saat melakukan survei keanekaragaman jamur pada 2024 dan 2025. Mereka melaporkan temuan tersebut pada 28 September dalam jurnal Frontiers in Fungal Biology.

Sebelum penelitian berlangsung, petani setempat sudah melihat jamur menyerupai jari yang tumbuh berkelompok di sekitar pohon mati. Meski ilmuwan belum menguji kandungan racunnya, beberapa warga mengaku pernah mencicipinya tanpa mengalami efek buruk.

"Namun, tidak ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang penting," kata rekan penulis studi, Indunil Senanayake dari Institut Botani Kunming.

Perhatian ilmuwan mulai tertuju pada jamur tersebut setelah seorang warga mengirimkan foto spesies itu kepada mereka. Dari foto tersebut, para peneliti menyadari bahwa jamur yang selama ini tumbuh di sekitar pohon mati itu memiliki karakteristik yang tidak biasa.

Penemuan D rex tidak hanya menambah daftar spesies jamur yang dikenal sains, tetapi juga mengungkap famili baru bernama Dianjunaceae. Melalui analisis genetik dan perbandingan dengan spesies lain, peneliti memperkirakan famili ini muncul sekitar satu juta tahun setelah asteroid menghantam Bumi dan mengakhiri Periode Kapur, yang berlangsung sekitar 145 juta hingga 66 juta tahun lalu.

Kepunahan massal tersebut kemungkinan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan organisme pengurai, termasuk jamur.

"Selama peristiwa ini, fotosintesis terhambat, sejumlah besar daun mati, kayu, akar, serta bangkai menumpuk," ujar Senanayake.

Ketika banyak organisme menghadapi tekanan untuk bertahan hidup, jamur yang menguraikan material organik mati justru memperoleh sumber makanan melimpah. Penumpukan sisa-sisa organisme itu menyediakan bahan organik yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan jamur.

Meski tidak sebanding dengan ukuran Tyrannosaurus rex, D rex menonjol di antara jamur lain. Spesies ini tercatat sebagai yang terbesar yang diketahui dalam filum Ascomycota, kelompok jamur paling beragam yang mencakup sekitar 65.000 spesies.

Sebelum penemuan ini, salah satu anggota Ascomycota berukuran besar yang diketahui ilmuwan adalah Engleromyces goetzei, jamur berwarna cokelat dan berbentuk bulat yang ditemukan di Kenya. Jamur tersebut memiliki diameter hampir 30 sentimeter dan bobot sekitar 3,2 kilogram.

Meski demikian, ukuran besar D rex masih menyisakan pertanyaan bagi para peneliti. Mereka ingin mengetahui faktor yang memungkinkan jamur ini mengembangkan struktur reproduksi jauh lebih besar dibandingkan anggota lain dalam filumnya.

"Umumnya, kelompok ascomycetes tidak menghasilkan stromata besar, karena merupakan pemborosan energi," jelasnya.

Jamur memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama dalam siklus karbon Bumi. Organisme ini juga membantu menjaga kesehatan dan menyediakan nutrisi bagi berbagai spesies tumbuhan.

Hingga kini, ilmuwan telah mendeskripsikan sekitar 150.000 spesies jamur. Namun, sejumlah perkiraan menyebutkan bahwa jumlah spesies jamur di Bumi mencapai 2 juta hingga 13 juta spesies. Artinya, sebagian besar keanekaragaman jamur masih belum teridentifikasi dan dipelajari secara mendalam.

"Ini adalah kelompok organisme yang sangat kurang mendapat perhatian dan belum banyak dideskripsikan," tambah Peay yang dikutip detikINET dari CNN.

Salah satu tantangan dalam penelitian jamur adalah keberadaannya yang kerap tersembunyi. Bahkan, jamur berukuran besar seperti D. rex dapat luput dari perhatian ketika tumbuh di hutan.

Sebagian besar tubuh jamur tersusun atas filamen menyerupai benang yang disebut hifa. Jaringan ini umumnya berada di dalam tanah, kayu lapuk, atau vegetasi. Sementara itu, struktur reproduksi atau stromata baru muncul ketika kondisi lingkungan mendukung atau ketika jamur mencapai tahap akhir siklus hidupnya.

Karakteristik tersebut membuat penelitian jamur membutuhkan pengamatan mendalam terhadap habitatnya. Penemuan D. rex pun menunjukkan bahwa hutan masih menyimpan keanekaragaman organisme yang belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu pengetahuan.

Baca berita selengkapnya di detikINET.




(sud/sud)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork