Kisah Katak Unik yang Melahirkan Lewat Mulut

Kisah Katak Unik yang Melahirkan Lewat Mulut

detikINET - detikJabar
Minggu, 30 Agu 2026 09:30 WIB
Rheobatrachus silus, katak yang melahirkan anak lewat mulut.
Rheobatrachus silus. (Foto: University of Adelaide)
Jakarta -

Ada katak yang memiliki cara berkembang biak sangat tidak biasa. Katak betina menelan telurnya sendiri, menyimpan kecebong di dalam lambung, lalu mengeluarkan anak-anaknya melalui mulut.

Katak dengan kemampuan unik itu kini telah punah. Namun, ilmuwan pernah menemukan cara untuk mengaktifkan kembali materi genetiknya melalui eksperimen yang membuka peluang bagi teknologi de-extinction.

Katak tersebut bernama southern gastric-brooding frog (Rheobatrachus silus), spesies endemik Australia. Ilmuwan menyatakan spesies ini punah setelah individu terakhir yang diketahui mati pada 1983.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menariknya, sebagian jaringan tubuh Rheobatrachus silus masih tersimpan dalam kondisi beku. Jaringan tersebut kemudian menjadi bahan eksperimen Lazarus Project, sebuah proyek de-extinction yang berupaya menghidupkan kembali spesies punah menggunakan materi genetik yang tersisa.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari IFL Science, Minggu (30/8/2026), Rheobatrachus silus pertama kali dikenal dunia pada 1970-an karena perilaku reproduksinya yang sangat tidak biasa.

Setelah telur dibuahi, katak betina akan menelannya dan menyimpannya di dalam lambung. Telur kemudian berkembang menjadi kecebong hingga berubah menjadi katak kecil.

Selama proses tersebut, sistem pencernaan induknya harus berhenti memproduksi asam lambung agar telur dan anak-anaknya tidak tercerna. Setelah perkembangan selesai, anak-anak katak keluar melalui mulut induknya.

Mekanisme tersebut menjadikan Rheobatrachus silus salah satu contoh ekstrem evolusi perilaku reproduksi pada amfibi. Namun, keberadaan katak ini tidak berlangsung lama setelah ilmuwan menemukannya.

Populasi Rheobatrachus silus menghilang dari habitat alaminya pada awal 1980-an. Individu terakhir yang diketahui kemudian mati dalam penangkaran pada 1983.

Jaringan Katak Punah Tersimpan di Freezer

Harapan untuk menghidupkan kembali spesies tersebut muncul dari sesuatu yang awalnya mungkin tidak terlihat istimewa, yakni stoples berisi jaringan katak yang tersimpan di dalam freezer.

Beberapa jaringan Rheobatrachus silus dikumpulkan pada 1970-an. Peneliti kemudian menyimpannya selama sekitar 40 tahun dalam freezer biasa.

Temuan mengejutkan muncul ketika peneliti memeriksa kembali jaringan tersebut. Inti sel masih dapat ditemukan dan digunakan dalam eksperimen.

Michael Mahony, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam proyek tersebut, menemukan spesimen beku ketika mencari kembali koleksi lama di University of Adelaide.

Dalam wawancara dengan ABC, Mahony menceritakan bahwa jaringan tersebut masih menunjukkan struktur seluler yang cukup baik meski peneliti tidak membekukannya menggunakan teknik kriopreservasi modern.

"Meskipun jaringan tersebut tidak dilindungi secara kriogenik, Anda masih bisa melihat inti selnya, Anda masih bisa melihat sel-sel utuh," ujarnya.

Temuan tersebut membuka peluang bagi peneliti untuk mengambil materi genetik dari sel yang sudah mati. Lazarus Project kemudian menggunakan teknik somatic cell nuclear transfer (SCNT).

Inti Sel Katak Punah Dipindahkan ke Sel Telur

Secara sederhana, SCNT memindahkan inti sel dari katak yang telah punah ke dalam sel telur katak lain yang intinya sudah dinonaktifkan.

Dalam eksperimen tersebut, peneliti menggunakan telur great barred frog (Mixophyes fasciolatus), spesies yang masih hidup.

Peneliti tidak bertujuan menghasilkan hibrida biasa. Mereka ingin mengetahui apakah inti sel dari spesies yang telah punah masih menyimpan informasi genetik yang cukup untuk mengarahkan perkembangan embrio.

Hasil eksperimen menunjukkan perkembangan yang menarik.

Beberapa sel telur hasil rekonstruksi mulai membelah dan berkembang hingga mencapai tahap embrio awal berupa kumpulan kecil sel hidup.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa materi genetik katak yang telah mati puluhan tahun sebelumnya masih mampu menjalankan sebagian proses biologis ketika peneliti menempatkannya dalam lingkungan sel telur yang sesuai.

Namun, Lazarus Project belum berhasil menghasilkan Rheobatrachus silus hidup.

Eksperimen hanya menghasilkan embrio pada tahap awal. Embrio tersebut tidak berkembang menjadi katak yang dapat hidup mandiri.

Karena itu, istilah 'menghidupkan kembali' dalam konteks proyek ini perlu digunakan dengan hati-hati. Ilmuwan berhasil mengaktifkan kembali materi genetik spesies yang telah punah dalam eksperimen sel, tetapi belum mengembalikan spesies tersebut ke alam.

Bank Jaringan Jadi Cadangan Genetik

Eksperimen tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan teknologi de-extinction. Materi genetik spesies yang telah punah tidak selalu langsung kehilangan seluruh potensinya setelah organisme mati.

Jika peneliti menyimpan jaringan dalam kondisi tertentu, sebagian informasi genetik dan struktur sel dapat bertahan cukup lama untuk dipelajari atau digunakan dalam eksperimen biologi reproduksi.

Temuan itu juga menunjukkan pentingnya bank jaringan dalam konservasi. Berbagai kebun binatang, museum, dan lembaga penelitian menyimpan sel atau jaringan spesies yang terancam punah.

Koleksi tersebut dapat menjadi cadangan genetik jika suatu saat populasi suatu spesies benar-benar menghilang.

Penyebab Kepunahan Masih Jadi Misteri

Penyebab pasti kepunahan Rheobatrachus silus masih belum sepenuhnya diketahui.

Spesies tersebut memiliki wilayah persebaran yang sangat terbatas di Queensland, Australia. Populasinya mengalami penurunan drastis pada akhir 1970-an hingga akhirnya menghilang dari alam.

Sejumlah faktor pernah mendapat perhatian, termasuk perubahan habitat dan penyakit pada amfibi. Namun, penurunan populasi berlangsung cepat setelah ilmuwan menemukan spesies tersebut sehingga penyebab pastinya sulit dipastikan.

Kini, spesimen yang tersimpan di museum dan laboratorium menjadi satu-satunya jejak fisik yang tersisa dari Rheobatrachus silus.

Teknologi de-extinction terus berkembang. Namun, menghidupkan kembali spesies yang telah punah jauh lebih rumit daripada sekadar mendapatkan DNA.

Ilmuwan membutuhkan genom yang cukup lengkap, sel yang dapat digunakan, teknik reproduksi yang sesuai, serta induk pengganti yang kompatibel. Bahkan ketika embrio berhasil dibuat, ilmuwan masih menghadapi tantangan untuk membuatnya berkembang hingga dewasa dan menghasilkan keturunan.

Dalam kasus Rheobatrachus silus, tantangannya semakin rumit karena katak tersebut memiliki mekanisme reproduksi yang sangat spesifik.

Karena itu, katak yang dahulu dapat melahirkan anak melalui mulut belum benar-benar kembali.

Namun, eksperimen Lazarus Project menunjukkan temuan yang tidak kalah menarik. Inti sel katak yang telah mati selama puluhan tahun masih dapat digunakan untuk menghasilkan embrio pada tahap awal.

Dari spesimen beku yang berusia sekitar 40 tahun, ilmuwan mendapat kesempatan untuk mencoba membuka kembali pintu menuju spesies yang telah hilang.

Jika suatu hari teknologi benar-benar memungkinkan katak tersebut kembali hidup, tantangannya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghidupkannya kembali. Ilmuwan juga harus menghadapi pertanyaan berikutnya: di mana spesies itu harus hidup dan bagaimana memastikan populasinya dapat bertahan?

Baca berita selengkapnya di detikINET.

(rns/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads