Kenapa Anjing Besar Cepat Tua? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kabar Internasional

Kenapa Anjing Besar Cepat Tua? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kalila Untsa - detikJabar
Sabtu, 24 Okt 2026 23:30 WIB
ibizan hound open mouth
Ilustrasi anjing (Foto: Getty Images/iStockphoto/Eloi_Omella)
Jakarta -

Kalau kita bandingkan gajah dengan anjing, gajah jelas pemenangnya dalam urusan umur panjang. Tapi kalau sesama anjing diadu, ceritanya jadi lain. Great Dane yang gagah dan bongsor justru biasanya punya umur lebih singkat kalau dibandingin sama Chihuahua yang mungil. Kok bisa ya, ukuran tubuh yang besar malah bikin anjing lebih cepat tua?

Melansir detikEdu, ternyata, beberapa ras anjing kecil bisa hidup hampir dua kali lipat lebih lama dari saudara mereka yang berbadan raksasa. Uniknya, pola ini mirip sama manusia, beberapa riset bilang kalau orang yang badannya lebih tinggi rata-rata punya harapan hidup yang sedikit lebih pendek dibanding mereka yang bertubuh mungil.

Untuk menjawab rasa penasaran ini, Blaise Mariner dan timnya mengulik DNA anjing dalam studi yang rilis di jurnal Science. Hasilnya cukup mengejutkan, anjing besar ternyata mengalami perubahan molekuler terkait penuaan yang jauh lebih ngebut daripada anjing kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebenarnya, tanda-tanda ini sudah tercium sejak lama. Riset tahun 2013 pada 74 ras anjing pernah mengungkap kalau anjing besar nggak cuma mengalami penurunan fungsi tubuh lebih awal, tapi juga menua dengan ritme yang lebih cepat. Ditambah lagi, analisis tahun 2024 terhadap 27.541 anjing menunjukkan kalau si besar lebih rentan kena masalah kesehatan serius kayak kanker atau penyakit tulang, meskipun si kecil juga punya risiko sendiri seperti penyakit jantung.

ADVERTISEMENT

Jam Biologis yang Berdetak Lebih Cepat

Tim peneliti membedah 1.640 sampel DNA dari 894 anjing yang tergabung dalam Dog Aging Project. Proyek jangka panjang ini memang fokus buat memahami rahasia penuaan anjing. Kerennya, ada anjing yang sampelnya diambil berkali-kali selama beberapa tahun, jadi peneliti bisa melihat langsung gimana perubahan molekuler itu terjadi pada individu yang sama.

Fokus riset ini ada pada metilasi DNA, semacam 'saklar' kimia yang mengatur gen mana yang aktif atau mati tanpa mengubah urutan genetiknya. Seiring bertambahnya usia, pola saklar ini bakal berubah. Nah, perubahan inilah yang dipakai peneliti buat bikin 'jam epigenetik' guna menghitung usia biologis alias kondisi sel yang sebenarnya bukan cuma sekadar hitungan tahun sejak lahir.

Dari data ini, terungkap kalau setiap selisih satu tahun lebih tua pada usia biologis dibanding usia aslinya, risiko kematian bakal naik 15 persen. Penuaan ini ternyata paling kencang terjadi di awal kehidupan, terutama pada anjing besar dan anjing jantan.

Gara-gara "Gen Pelompat"?

Ada satu temuan lagi yang bikin geleng-geleng kepala, yaitu soal elemen transposabel atau yang sering disebut jumping genes (gen pelompat). Salah satu tipenya adalah LINE1. Gen ini punya hobi 'copy-paste' dirinya sendiri ke bagian lain di dalam genom. Kalau nggak dikontrol, dia bisa bikin kacau fungsi gen, merusak DNA, sampai memicu peradangan.

Normalnya, tubuh pakai metilasi DNA buat menjinakkan gen pelompat ini. Tapi masalahnya, kemampuan kontrol ini makin kendor seiring bertambahnya usia, dan anjing besar kehilangan kendali ini 31 persen lebih cepat dibanding anjing kecil. Khusus untuk LINE1, perbedaannya bahkan sampai 35 persen.

"Ini merupakan salah satu tanda molekuler paling jelas yang kami temukan dan sejalan dengan hubungan antara ukuran tubuh dan umur yang telah lama dikenal pada anjing," kata Mariner.

Meski begitu, para ilmuwan masih hati-hati. Mereka belum berani bilang kalau gen pelompat ini adalah penyebab tunggal. Bisa jadi ini cuma salah satu faktor dari sekian banyak kemungkinan.

Dilema Pertumbuhan Cepat

Selain urusan DNA, ada faktor seleksi pembiakan. Manusia sering kali membiakkan anjing agar punya tubuh besar dalam waktu singkat. Ternyata, pertumbuhan yang kelewat cepat ini ada harganya.

"Tubuh mereka harus membuat kompromi antara pertumbuhan yang sangat cepat dan pemeliharaan tubuh," ujar Noah Snyder-Mackler kepada Live Science.

Intinya, sumber daya tubuh habis buat tumbuh besar, jadi urusan 'servis' organ dan jaringan agak terbengkalai.

Kabar baiknya, riset pada anjing ini nggak cuma berguna buat pemilik anabul. Karena pola penuaan anjing dan manusia punya kemiripan, temuan di tahun 2026 ini bisa jadi pintu masuk buat memahami proses penuaan pada kita sendiri. Meski tentu saja, masih butuh banyak riset lanjutan buat memastikan apakah mekanisme yang sama juga berlaku sepenuhnya pada manusia.

Artikel ini sudah tayang di detikEdu



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads