Di sudut Halaman Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran, Jatinangor, berdiri sebuah kotak kayu yang memancing rasa penasaran. Sekilas, bentuknya membangkitkan nostalgia, menyerupai warung telepon atau wartel yang sempat menjamur di era 90-an. Namun, bilik ini tidak digunakan untuk menghubungi nomor jarak jauh, melainkan untuk menghubungkan isi hati mahasiswa dengan pihak dekanat.
Dinamai 'Voice of Legacy', box ini menjadi ruang privat bagi mahasiswa untuk menumpahkan segala keluh kesah, curahan hati, hingga kritik dan saran tajam bagi fakultas. Mekanismenya sederhana namun intim, mahasiswa cukup masuk ke dalam bilik, lalu berbicara di depan alat rekam yang telah disediakan. Pihak kampus menjamin penuh kerahasiaan identitas dan privasi setiap suara yang masuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inisiator di balik hadirnya 'Voice of Legacy' adalah Dr. Abie Besman, seorang dosen sekaligus praktisi media di Unpad. Saat berbincang dengan detikJabar, Abie menjelaskan bahwa esensi utama dari box ini adalah fungsi pendengaran. Baginya, bilik ini bukan hanya milik mahasiswa, tapi juga ruang terbuka bagi dosen dan seluruh sivitas akademika.
"Jadi memang kebetulan saya adalah salah satu dari inisiator dari box ini dan intinya box ini gini, kan kita selama ini melihat komunikasi itu adalah bicara ya, menjadi medium dan sebagainya. Tapi kita kadang-kadang lupa sama satu hal dalam komunikasi itu, yaitu mendengar. Nah, box ini sebenarnya adalah sebuah, istilahnya, mengasosiasikan bahwa ada elemen penting dalam dewasa ini, di abad informasi ini, bahwa informasi itu bukan hanya bicara, tapi juga mendengar," ujar Abie belum lama ini.
Di tengah hiruk-pikuk abad informasi tahun 2026 ini, Abie merasa ruang untuk benar-benar didengar semakin menyempit. Bilik ini hadir sebagai antitesis dari keriuhan tersebut.
"Semua orang bisa ngomong di sini, semua orang bisa mengkritik di sini, semua orang bisa marah-marah di sini, semua orang bisa beri quote and quote ya, mencaci maki di sini. Kenapa? Karena mereka akan didengar," imbuhnya.
Abie mengamati sebuah ironi di masyarakat saat ini: terlalu banyak orang yang berebut untuk bicara, namun sangat sedikit yang bersedia meluangkan waktu untuk mendengar.
"Tentunya bisa kita asumsikan dengan negara, misalkan dengan atau kapanpunlah gitu ya, dalam bentuk-bentuk yang lain. Jadi saya bilang, Fikom juga mendengar, sebelum bicara kita harus bisa mendengar dulu dan inilah asosiasi dari mendengar itu sendiri," tuturnya.
Menariknya, bilik suara ini lebih banyak diminati oleh para mahasiswa senior. Menurut Abie, mahasiswa tingkat akhir biasanya memiliki daya kritis dan kepekaan lingkungan yang lebih tajam dibandingkan mahasiswa baru yang masih berada dalam fase euforia.
"Justru ini yang menarik. Kalau mahasiswa baru, mereka mereka belum tercipta rasa kritis yang wajar, karena mereka masih euforia baru masuk sini, senang gitu kan. Tapi ini kalau kita melihat mahasiswa yang sudah dua tahun atau tiga tahun, mereka mulai mengungkapkan isi hati mereka. Mereka bilang bahwa, 'WC benerin dong' gitu, atau atau 'tanaman dibanyakin dong' atau 'kantin makanan di lebih variatiflah' gitu kan," ungkap Abie.
Keluhan-keluhan yang mungkin terdengar sepele seperti fasilitas toilet atau variasi menu kantin, bagi Abie, adalah suara fundamental dalam sebuah organisasi seperti Fikom Unpad. Melalui box tersebut, hal-hal yang selama ini luput dari pandangan mata bisa tersampaikan secara jujur.
"Karena mendengar juga bagian dari komunikasi. Saya enggak tahu mungkin balik ke agama ya, ada alasannya kenapa telinga dua, mulut satu gitu ya. Lebih gunakan telinga dulu baru mulut sebenarnya seperti itu," katanya filosofis.
Kehadiran 'Voice of Legacy' juga bukan tanpa dasar ilmiah. Abie mengisahkan bahwa proyek ini lahir dari sebuah penelitian mengenai perilaku media sosial di era digital. Di dunia maya, algoritma seringkali membatasi apa yang layak didengar dan apa yang harus dibuang.
"Algoritma itu adalah kemampuan untuk istilahnya menyerap suara dan kemudian mengeluarkannya dengan hal yang dikira penting saja gitu kan. Padahal setiap suara berharga, every voice is worth it, every voice is matter. Nah, saya bilang begitu, dengan ini maka semua suara dari sivitas akademika itu sebenarnya harus didengar," pungkasnya.
