Dari banyaknya destinasi wisata yang ada di Kota Kembang, Bandung juga memiliki destinasi wisata unik berupa permukiman warna-warni di tepian Sungai Cikapundung.
Namanya Lembur Katumbiri, salah satu wisata hidden gem Bandung berupa kampung tematik yang menawarkan pemandangan rumah berwarna cerah, mural artistik, serta gang-gang yang bisa dijelajahi.
Bagi detikers yang ingin mencari alternatif wisata di Bandung, Lembur Katumbiri bisa menjadi pilihan untuk menikmati suasana permukiman dari sudut pandang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lembur Katumbiri berlokasi di Gang Bapa Ehom, RW 12, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Kawasan ini berada di lereng Sungai Cikapundung, tidak jauh dari Teras Cikapundung dan kawasan Babakan Siliwangi.
Salah satu ciri khasnya adalah bentuk permukiman yang berundak mengikuti kontur lahan, rumah-rumah yang berdiri berdekatan terlihat semakin menarik dengan perpaduan cat warna cerah dan mural di sejumlah dinding.
Dari beberapa titik, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan atap rumah yang tersusun mengikuti lereng. Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi pencinta fotografi yang ingin mengabadikan suasana kampung perkotaan.
Perubahan Nama Menjadi Lembur Katumbiri
Sebelum dikenal sebagai Lembur Katumbiri, kawasan ini populer dengan sebutan Kampung Pelangi 200. Namanya kemudian pada 6 Mei 2025 dan langsung diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bertepatan dengan rampungnya proyek revitalisasi dan pengecatan ulang kawasan rumah-rumah warga.
Nama baru tersebut memiliki makna yang erat dengan budaya Sunda. Kata "lembur" berarti kampung atau tempat tinggal, sedangkan "katumbiri" berarti pelangi. Dengan demikian, Lembur Katumbiri dapat dimaknai sebagai kampung pelangi.
Lembur Katumbiri Bandung Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Pergantian nama ini juga menjadi upaya untuk memperkuat identitas lokal, pemerintah Kota Bandung menyebut nama tersebut diusulkan oleh warga agar lebih mencerminkan karakter budaya masyarakat setempat.
Revitalisasi kawasan tidak hanya berfokus pada pengecatan rumah, mural dan penataan lingkungan turut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Lembur Katumbiri sebagai kawasan wisata yang mengangkat seni, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Spot Foto dan Mural Warna-Warni
Sebagai objek wisata berbasis komunitas (community-based tourism), daya tarik utama Lembur Katumbiri adalah rumah-rumah berwarna cerah yang berpadu dengan mural artistik. Warna-warna tersebut terlihat di sepanjang jalur permukiman, tangga, dan sejumlah dinding yang dapat dijumpai ketika pengunjung berjalan kaki.
Kawasan ini juga memiliki mural yang menjadi bagian dari identitas visual kampung, kehadiran karya seni tersebut membuat suasana permukiman tampak lebih hidup sekaligus memberikan latar foto yang berbeda dari tempat wisata pada umumnya.
Meski begitu, Lembur Katumbiri tetap merupakan lingkungan tempat tinggal warga. Pengunjung sebaiknya menikmati karya seni dari jalur yang diperbolehkan dan tidak memasuki halaman atau bagian rumah tanpa izin.
Rute Menuju Lembur Katumbiri
Untuk menuju Lembur Katumbiri, Anda dapat mencari akses melalui Gang Bapa Ehom di Jalan Siliwangi, tepat di samping kawasan Teras Cikapundung.
Kendaraan tidak dapat leluasa masuk hingga bagian utama kampung karena aksesnya berupa gang dan jalur permukiman yang sempit. Karena itu, pengunjung disarankan mencari tempat parkir yang tersedia di sekitar pintu masuk, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dapat memarkirkan kendaraan di area Teras Cikapundung BBWS (Jalan Siliwangi) atau sebelum jembatan menuju kampung di area lahan parkir sekitar milik warga dengan tarif standar lokal yang terjangkau.
Dari sana, Anda tinggal berjalan kaki sekitar 600 - 700 meter menyusuri jembatan pedestrian, jembatan, dan anak tangga menuju kawasan utama berupa permukiman berwarna-warni.
Pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki yang nyaman karena terdapat jalur curam berupa menanjak dan menurun. Kondisi jalan juga perlu diperhatikan ketika hujan, terutama pada bagian yang licin.
Pengunjung juga bisa mencari informasi mengenai aktivitas warga dan penjualan makanan di sekitar kampung. Sejumlah pedagang lokal diketahui berjualan pada waktu tertentu, terutama akhir pekan, tetapi ketersediaan lapak tidak selalu sama setiap hari.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Pagi hari bisa menjadi pilihan bagi detikers yang ingin berjalan santai menikmati udara di sekitar Sungai Cikapundung, waktu terbaik untuk berkunjung di pagi hari adalah di pukul 06.00 - 09.00 WIB.
Selain itu, pada pukul 15.30 - 17.30 WIB saat sore hari juga dapat dipertimbangkan agar Anda bisa menikmati pemandangan berupa cahaya matahari yang menerangi warna-warni rumah dan mural. Sangat cocok juga untuk berburu foto saat golden hour tanpa rasa terik yang menyengat.
Akhir pekan juga bisa menjadi waktu yang menarik untuk melihat aktivitas warga. Meski demikian, pengunjung tetap perlu menyesuaikan waktu kunjungan dengan kondisi kampung dan menghormati kegiatan masyarakat setempat.
Saat berkunjung, jangan membuang sampah sembarangan, menghalangi akses rumah, atau mengambil foto warga tanpa izin. Dengan menjaga ketertiban dan kebersihan, detikers dapat menikmati Lembur Katumbiri sekaligus menghormati masyarakat yang tinggal di dalamnya.
(yum/yum)

