Masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi memasuki musim hujan pada bulan November 2026. Potensi bencana mengancam berbagai daerah setelah melewati kemarau panjang sejak pertengahan tahun.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Meskipun durasi musim hujan di banyak wilayah diperkirakan lebih pendek dengan akumulasi curah hujan umumnya normal, potensi hujan lebat hingga ekstrem tetap tinggi.
Pakar Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana seperti tanah longsor, banjir, hingga banjir bandang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita memahami bahwa hampir setiap musim hujan, banjir dan tanah longsor terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian bahkan berulang di lokasi yang sama, menimbulkan korban jiwa, kerusakan rumah, gangguan aktivitas ekonomi, hingga kerugian masyarakat," kata Daryono saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat yang tinggal di daerah rawan dengan pemerintah selaku pemegang kebijakan. Pemerintah pusat maupun daerah dinilai perlu menjadikan penguatan kapasitas BPBD sebagai salah satu prioritas utama dalam satu hingga dua tahun ke depan.
"Penguatan tersebut mencakup sumber daya manusia, kemampuan analisis risiko, kesiapan operasional, koordinasi lintas sektor, serta kemampuan menjangkau masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan," papar Daryono.
Langkah penting lainnya yang harus segera dilakukan adalah audit risiko terhadap infrastruktur dan permukiman rentan, perbaikan sistem drainase, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), pemastian keandalan sistem peringatan dini, serta penyiapan jalur dan tempat evakuasi yang aman.
"Masyarakat di kawasan rawan juga perlu mendapatkan edukasi dan latihan evakuasi secara berkala agar mengetahui apa yang harus dilakukan ketika ancaman datang," ujarnya.
Daryono menekankan, pengalaman panjang menghadapi bencana harus menjadi modal utama untuk memperbaiki sistem perlindungan masyarakat. Jangan sampai setiap musim hujan tiba, warga kembali menghadapi persoalan yang sama dengan tingkat kerentanan yang belum banyak berubah.
Dalam perspektif pengurangan risiko bencana, cuaca ekstrem memang merupakan ancaman alam, tetapi besarnya dampak sangat dipengaruhi oleh tingkat keterpaparan, kerentanan, serta kapasitas masyarakat.
"Permukiman di dataran banjir, kawasan lereng tidak stabil, berkurangnya daerah resapan, buruknya drainase, serta keterbatasan jalur evakuasi dapat memperbesar risiko ketika hujan ekstrem terjadi," tutur Daryono.
Musim hujan mendatang menjadi ujian nyata bagi efektivitas sistem peringatan dini dan kesiapan evakuasi warga. Keberhasilan peringatan dini tidak sekadar diukur dari terbitnya informasi, melainkan sejauh mana informasi itu benar-benar sampai, dipahami, dipercaya, dan memicu tindakan penyelamatan sebelum bencana melanda.
"Kita mungkin tidak dapat mencegah hujan ekstrem, tetapi kita dapat mengurangi kemungkinan timbulnya korban. Karena itu, keberhasilan penanggulangan bencana tidak cukup diukur dari seberapa cepat bantuan datang setelah kejadian, melainkan dari seberapa banyak korban dan kerugian yang berhasil dicegah," pungkasnya.
Simak Video "Video: Waspada Cuaca Ekstrem di Masa Natal-Tahun Baru"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
