Di tengah melambungnya biaya pendidikan keagamaan, sebuah pondok pesantren Salafiyah di Kabupaten Pangandaran memberikan terobosan bagi masyarakat. Lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pangandaran, K.H. Raden Hilal, ini membebaskan seluruh biaya pendidikan serta operasional santrinya secara penuh atau 100 persen.
Selain itu, meski tinggal tepian sawah di Dusun Barenggkok, Desa Cijulang, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Ponpes Den Mumu Langensari ini tidak mau ketinggalan zaman. Para santri diharuskan cakap teknologi, dengan minimal mengenal dunia internet untuk fasilitas ilmu yang positif.
Pengurus Bagian Sarana dan Prasarana Pesantren, Heri Kusmayadi, menyampaikan bahwa para santri yang menuntut ilmu di pesantren tersebut tidak dikenai iuran bulanan (syahriah) maupun dana pembangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah, pangaresa (pimpinan) menggratiskan untuk semua santri. Tidak ada biaya sama sekali, 0 persen. Semua operasional ditanggung langsung oleh Kiai," ujar Heri, saat ditemui Rabu (21/10/2025).
Heri menerangkan, kendati berstatus sebagai pesantren Salafiyah dengan fokus utama kajian kitab kuning, tata kelola dan mekanisme pengawasan santri tetap mengadopsi prinsip manajemen modern. Langkah ini diterapkan demi menjaga ketertiban serta memastikan iklim belajar senantiasa aman dan kondusif.
Guna mencegah potensi perundungan (bullying) di lingkungan asrama (kobong), jajaran pembina menanamkan pendidikan akhlak karimah secara berkesinambungan setiap hari. Di samping itu, pengawasan berjenjang dioperasikan selama 24 jam oleh jajaran pengurus asrama.
"Kami menekankan persaudaraan dan saling mengasihi, apalagi santri berasal dari berbagai daerah seperti Garut, Karawang, hingga Bandung. Struktur pengawasan juga berjalan ketat mulai dari Pimpinan, Dewan Kiai, Ro'is, hingga Ketua RC di tiap kobong," tambahnya.
Tidak hanya menitikberatkan pada keilmuan agama, pesantren ini turut membekali santri dengan literasi teknologi. Fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) Komputer telah disiapkan agar santri menguasai kecakapan digital. Lembaga yang telah terdaftar resmi di Kementerian Agama ini pun mendorong para alumnus yang kompeten untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.
Demi menjaga kebugaran mental santri agar terhindar dari kejenuhan, agenda penyegaran berkala ke kawasan pantai serta pelibatan santri dalam pengajian umum kemasyarakatan diintegrasikan ke dalam program rutin pesantren.
"Jadi kami juga bikin pesantren tidak membosankan. Mereka kami sesekali diajak refleksi di pantai," ucapnya.
Heri menerangkan saat belajar tentang teknologi, para santri mempunyai kecakapan dasar dari mulai memahami microsoft word, excel hingga power point. "Agar nanti mereka mengetti basic pekerjaan yang menggunakan komputer. Kemudian akses internet positif, dimana literasi media dan penggunaan akses digital yang baik," katanya.
Dengan ini, kata Heri, santri yang selesai pesantren dapat memiliki pengalaman dari sisi ilmu agama dan komputerisasi. "Jadi kami ingin mereka juga berdaya saing dengan sekolah-sekolah umum, minimal keahlian dasar terkini mereka paham," ucapnya.
(yum/yum)
