Aroma sawi basah dan keriuhan tawar-menawar di los Pasar Semi Modern Cibadak, Kabupaten Sukabumi sudah berbulan-bulan hilang dari hari-hari Wiwik Puji Astutik (50).
Baginya, dunia kini menyempit di sebuah ruangan berbau aroma pembersih dengan dinding putih kaku, berteman dering ritmis monitor medis dan selang infus di sudut ruang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di atas ranjang besi bercat putih itu, Andre Tri Pabean (9) terbaring lelap. Tubuh mungilnya tampak ringkih, kulitnya pucat pasi, dan kepalanya plontos usai dihantam cairan kimia kemoterapi. Di sampingnya, Wiwik duduk setia mengusap dahi putranya yang kerap membara oleh demam tinggi mendadak.
"Udah enggak sekolah satu tahun. Andre pengin sekolah lagi katanya, pengin seperti dulu, bisa sembuh, bisa sekolah," tutur Wiwik dengan suara tertahan kala dihubungi detikJabar, Kamis (22/10/2026).
Sudah setahun seragam merah-putih milik bocah asal Kampung Cigereji RT 02 RW 21, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, itu teronggok di lemari.
Cita-citanya terganjal vonis kejam Acute Myeloid Leukemia (AML), kanker darah agresif yang menginvasi tubuhnya sejak Maret lalu.
Namun, kepedihan Wiwik bukan hanya melihat darah dagingnya merintih sakit. Ujian hidup ini ia pikul dalam kesendirian yang teramat sunyi.
Wiwik adalah seorang janda. Suami pertamanya meninggal dunia akibat kecelakaan, sementara ayah kandung Andre pergi dan lepas tangan sejak bocah itu masih bayi.
"Sejak Andre masih usia enam bulan kita pisah. Ayahnya Andre lepas tangan sama sekali, semua saya handle sendiri dari jualan sayur di pasar," ungkap Wiwik lirih.
Kini, langkah medis Andre berada di bibir jurang. Sel kanker di tubuhnya dilaporkan kian menebal dan kebal, membuat prosedur kemoterapi tak lagi bisa dilanjutkan. Harapan terakhir untuk menyelamatkan nyawa bocah sembilan tahun itu tinggal satu: transplantasi sumsum tulang belakang.
"Keadaan sekarang si Dede udah enggak bisa dikemo lagi karena kankernya tebal. Penyelamatan satu-satunya kata dokter transplantasi sumsum tulang, tapi biayanya tidak dicover sama BPJS," ujar Wiwik.
Biaya yang dibutuhkan untuk prosedur tersebut tidak main-main. Angka yang dipatok tim medis berjarak langit dan bumi dari penghasilan seorang penjual sayuran.
"Enggak di-cover, Pak, soalnya biayanya lumayan besar. Saya baca-baca dan dengar sekitar Rp 1,8 miliar sampai Rp 2 miliar," imbuh Wiwik.
Di batas keputusasaannya, Wiwik akhirnya menumpahkan air mata lewat rekaman video singkat dari balik bangsal rumah sakit. Sambil terisak menatap kamera di samping tempat tidur anaknya, ia meratap memohon pertolongan siapa pun yang berhati dermawan.
"Tolong dibantu, tolonglah anak saya, tolong selamatkan anak saya. Saya sebagai ibu cuma bisa melakukan apa yang saya bisa sampai saat ini," rintih Wiwik dengan napas tersengal menahan tangis.
Wiwik bahkan menegaskan, ia sama sekali tak berniat menggenggam uang donasi tersebut. Baginya, keselamatan nyawa Andre adalah satu-satunya tujuan.
"Misalnya ada dana bantuan, saya enggak bakalan pegang. Mau dititipin ke siapa saja yang amanah atau langsung buat bayar ke rumah sakit biar orang lain yang urus, saya enggak apa-apa, yang penting anak saya selamat," pungkas Wiwik.
Sempat Ditolak Bantuan Ambulans
Di tengah ancaman kanker darah akut (Acute Myeloid Leukemia/AML) yang kian menebal di tubuh sang anak serta bayang-bayang biaya transplantasi sumsum tulang senilai Rp 2 miliar yang tak ditanggung BPJS, Wiwik menyimpan luka lain yang tak kalah menyayat hati.
Luka itu bermula dari secarik data kependudukan. Di atas kertas catatan sosial, nasib janda tiga anak ini justru tercatat sebagai keluarga berpunya. Wiwik masuk dalam kategori Desil 10 kasta teratas dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang semestinya disematkan bagi kelompok warga mapan dan sejahtera.
Kejanggalan data itu terungkap saat Wiwik mendapati profil pekerjaannya di sistem administrasi. Di sana, ia tercatat menjalankan bisnis jual-beli mobil, sepeda motor, hingga suku cadang kendaraan.
"Di situ saya baca, saya jualan mobil, jualan motor, jualan sparepart mobil, sparepart motor. Kapan saya jualan gitu? Enggak pernah, Pak. Saya mah jualannya juga sayuran. Saya pernah mengeluh gitu waktu itu, kenapa tulisannya seperti ini enggak sesuai kenyataan, tapi kan enggak dirubah-rubah," ujar Wiwik saat dikonfirmasi detikJabar, Kamis (22/10/2026).
Salah catat itu nyaris berbuah petaka. Saat kondisi fisik Andre mendadak drop dengan demam tinggi yang membakar tubuhnya, Wiwik panik bukan kepalang. Demi mengejar rujukan darurat, ia mendatangi Balai Sentra Phalamartha Kemensos di Kebonrandu, Cibadak, memohon pinjaman satu unit ambulans.
Wiwik kala itu justru mentok di pemeriksaan berkas. Label Desil 10 membuat pintu ambulans tertutup rapat untuk anaknya.
"Saya mah sedih, Pak. Waktu anak saya drop udah panas tinggi, saya datang ke Phalamartha Kebonrandu mengajukan minta bantuan ambulans buat bawa anak saya. Ditanya mana KTP, mana KK, fotokopi saya kasih, bilangnya desil tinggi. Padahal mobil ambulansnya waktu itu banyak berjejer, enggak mau ngasih pinjam, Pak," ungkap Wiwik seraya menyebut peristiwa itu terjadi sekitar bulan April.
Wiwik sempat bersikeras meminta petugas melihat langsung kondisi riil hidupnya, bukan sekadar angka di atas kertas. Namun upayanya buntu.
"Saya bilang, 'Pak, jangan lihat desil itu, itu dari dulu salah tulis, keadaan kenyataannya kan saya enggak mampu. Tolonglah pinjam mobilnya, Pak, kalau anak saya drop kan gampang kalau pakai ambulans mah cepat sampai.' Enggak ngasih, Pak," tutur Wiwik.
Kala pintu ambulans tertutup, uluran tangan justru datang dari sosok warga yang merupakan keluarga almarhum anggota polisi di kawasan Kebonrandu.
Melihat kondisi Andre yang kritis, warga tersebut bergerak cepat memanfaatkan jaringan pertemanannya hingga berhasil meminjam satu unit ambulans milik Desa Sekarwangi untuk melarikan Andre ke Jakarta.
"Akhirnya saya Bude Noer melalui temannya menghubungi yang punya ambulans Desa Sekarwangi, waktu itu pinjam dari Desa Sekarwangi gitu, Pak," kata Wiwik.
Tak hanya urusan ambulans, keluarga besar salah satu warga tersebut juga yang menjadi penopang Wiwik selama berbulan-bulan bertahan di Jakarta. Mulai dari bekal makan harian hingga kursi roda untuk Andre disokong oleh keluarga tersebut di tengah minimnya bantuan operasional dari pemerintah daerah.
"Semua keperluan saya selama di sini suka dibantu sama keluarga dia. Misalnya Andre butuh kursi roda gitu, sama anaknya Bude Noer dibeliin. Andre butuh apa, buat bekal makan apa di sini suka dikasih sama keluarganya Bude Noer selama ini yang meng-handle, Pak. Belum pernah ada bantuan dari kelurahan atau dari mana, Pak," ucap Wiwik.
Kini, setelah rekaman video permohonannya tersebar dan kisahnya disorot luas, pihak Kelurahan Cibadak baru mulai membuka komunikasi untuk merevisi data kemiskinan yang keliru tersebut.
"Kemarin itu dari kelurahan telepon, Pak, katanya desil saya mau diturunin. Terus misalnya butuh ambulans darurat buat bawa Andre ini ke RSCM apa bawa Andre dari RSCM ke rumah misalnya, akan dibantu," imbuh Wiwik.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Sentra Phalamartha Sukabumi Kemensos RI, Febraldi, mengaku informasi penolakan ambulans terhadap keluarga Wiwik belum sampai secara langsung ke pihaknya.
"Sama informasi tentang penolakan ini saya enggak, mungkin enggak sampai di saya. Apakah ini di saya atau di tim saya. Namun saya yakin karena semua aturan, semua bantuan Kemensos itu berdasarkan Peraturan Menteri Sosial itu desilnya desil 1 sampai 5 yang kami bisa bantu di program Bantuan Atensi. Jadi kalau ada desilnya desil 10, kami biasanya bantu menurunkan desilnya untuk pendampinganlah, karena penurunan desil itu ada tanggung jawab di lurah, desa," jelas Febraldi.
Febraldi juga menegaskan bahwa urusan mobil ambulans sebetulnya berada di ranah pemerintah desa dan Pemkab Sukabumi, sebab operasionalnya tidak dibatasi oleh ketentuan desil.
"Dan sebenarnya lebih tepat juga dukungan ambulance bisa di pemerintah desa karena pemerintah desa itu tidak diatur berdasarkan desil. Mereka harus mendukung semua warganya untuk bisa Pemerintah Kabupaten Sukabumi, ya mendukung warganya untuk bisa mengakses ambulance ke rumah sakit. Itu satu," terang Febraldi.
Di sisi lain, Febraldi menuturkan pihaknya selama ini tetap mendampingi warga yang memenuhi kriteria, termasuk memfasilitasi kebutuhan akomodasi di Jakarta.
"Yang kedua, kami juga baru-baru ini gitu ya, kalau ada warga yang sakit dan memenuhi syarat desil, persis kemarin atau 2 hari lalu, kami mendampingi warga Sukabumi ke RSCM dan bahkan kami menghubungkan mencari rumah singgah. Kami mencarikan tempat mereka nanti bisa mudah untuk melakukan pengobatan selama di Jakarta," papar Febraldi.
Terkait permohonan Wiwik yang beredar lewat rekaman video, Febraldi mengaku pihaknya masih menunggu kejelasan mengenai bentuk bantuan sosial yang diharapkan, mengingat penanganan sakit kanker Andre berada di ranah medis.
"Kami nanti butuh informasi sebenarnya, yang sebenarnya kebutuhan bantuannya itu seperti apa. Karena kalau misalnya saya sendiri sudah lihat videonya tentang Bu Wiwi minta bantuan, tadi juga enggak terlalu clear bantuan beliau itu seperti apa. Ini kan ranahnya ranah medis ya, sakit gitu ya, sedangkan kami rehabilitasi sosial. Ketika di ranah medis, kan sebenarnya kebutuhan pertamanya dia dirawat di RSCM sudah terpenuhi nih sekarang. Oleh karena itu kami belum tahu nih kebutuhan ranah rehabilitasi sosial, kebutuhan sosialnya seperti apa. Itu yang sebenarnya jadi pertanyaan. Dan kalau nanti selama dia memenuhi syarat desil dan segala macam, kami akan siap bantu untuk Ibu tersebut," pungkas Febraldi.
