Nestapa Desa Waringinsari: Sawah Mati, Kepala Keluarga Pergi

Nestapa Desa Waringinsari: Sawah Mati, Kepala Keluarga Pergi

Ikbal Selamet - detikJabar
Selasa, 20 Okt 2026 17:30 WIB
Kekeringan di Cianjur
Kekeringan di Cianjur (Foto: Istimewa).
Cianjur -

Sekitar 100 keluarga di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, ditinggal kepala keluarganya. Kekeringan dan bencana membuat ratusan hektare sawah terbengkalai, sehingga kepala keluarga terpaksa merantau ke Kalimantan dan Sumatra demi menghidupi istri dan anak-anaknya.

Kepala Desa Waringinsari, Nadir Muharam Abdurahman, mengatakan terdapat sekitar 500 hektare lahan di Desa Waringinsari yang merupakan sawah.

Namun, dari total lahan yang ada, hanya 40 persennya yang masih bisa ditanami dengan kondisi minim air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hanya sekitar 200 hektar yang masih bisa ditanami. Sebanyak 300 hektarnya kering, bahkan terbengkalai tidak ditanami apapun sekarang," kata dia, Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi akibat dampak pergerakan tanah yang terjadi 2024 lalu dan diperparah dengan kemarau panjang sejak 5 bulan terakhir.

ADVERTISEMENT

"Jadi pergerakan tanah merusak saluran irigasi warga. Membuat sawah yang awalnya memanfaatkan irigasi teknis sebagai sumber air, menjadi sawah tadah hujan. Sedangkan lima bukan terakhir kemarau, jadinya lahan kering tanpa air. Tidak bisa ditanami padi sama sekali," kata dia.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut tidak hanya membuat lahan pertanian terbengkalai, tetapi juga menyebabkan banyak warganya yang terpaksa merantau ke luar pulau.

"Lima bulan tanpa penghasilan sama sekali, mau bisa bertahan hidup darimana. Mau memaksakan bertani juga susah, air tidak ada. Makanya banyak warga yang merantau ke Kalimantan dan Sumatra," kata dia.

Menurut dia, tercatat ada sekitar 100 warganya yang berangkat ke luar kota dan luar pulau untuk bekerja di sektor pertambangan.

"Yang tercatat ada 100 orang. Mungkin lebih masih kami data lagi. Jadi sekarang banyak keluarga yang ditinggal kepala keluarganya. Menyisakan ibu-ibu dan anak-anak saja," kata dia.

Dia menuturkan, kondisi tersebut akan terus terjadi dan makin banyak warga yang meninggalkan kampung halaman jika saluran irigasi tidak segera diperbaiki.

"Kalaupun nanti hujan, tidak akan maksimal hasilnya. Kemungkinan makin sepi desa ini karena warganya banyak yang merantau. Lahan juga akan terbengkalai, desa ini tidak jadi lagi lumbung padi yang menghabiskan ribuan ton setiap musim tanamnya," kata dia.

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan, pemerintah akan berupaya mengantisipasi dampak kemarau panjang dan El Nino. Salah satunya dengan melakukan perbaikan dan penguatan infrastruktur irigasi.

"Kami dari pemerintah daerah berusaha agar sawah yang ada tetap berproduksi, terutama dari sisi infrastruktur irigasi. Tetapi apabila yang dihadapi adalah debit air yang dari sumbernya memang menurun karena faktor alam atau cuaca, ini agak sulit," kata Wahyu.

Dia mengatakan pemerintah juga akan mengupayakan adanya jaminan bagi para petani, terutama yang mengalami gagal panen.

"Kami dari Pemda berusaha agar para petani ini memiliki jaminan. Sebelumnya, saat mengalami gagal panen atau cuaca yang tidak baik, mereka tidak punya jaminan. Kami berusaha agar mereka memiliki jaminan sehingga saat terjadi gagal panen, mereka minimal bisa bernapas," pungkasnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: 10 Wilayah Tertinggi Kekeringan, Kabupaten di Pulau Jawa Mendominasi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads