Bagong Mogok, Gerakan Sosial Asal Cianjur yang Melawan Keterbatasan

Ngariung

Bagong Mogok, Gerakan Sosial Asal Cianjur yang Melawan Keterbatasan

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 20 Okt 2026 06:00 WIB
Irjen Pol Asep Guntur Rahayu, meresmikan salah satu rumah bantuan dari BM
Irjen Pol Asep Guntur Rahayu, meresmikan salah satu rumah bantuan dari BM (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabarI)
Sukabumi -

Nama perkumpulan ini kerap memantik dahi berkerut bagi siapa pun yang baru pertama kali mendengarnya. Di tatar Pasundan, bagong merujuk pada babi hutan satwa liar perusak tanaman yang dalam pandangan ajaran Islam terkategori najis berat.

Namun, di balik penamaan yang tak lazim itu, tersimpan etos perlawanan sosial dan daya hidup pantang menyerah yang berakar dari tanah Cianjur sejak 2015 silam.

Lahirnya Komunitas Sosial Bagong Mogok bermula dari inisiatif Irjen Pol Asep Guntur Rahayu. Kala itu, pada 2015, Asep masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan mengemban amanah sebagai Kapolres Cianjur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat bertugas memimpin korps Bhayangkari di Cianjur, nuraninya terketuk melihat langsung realitas kemiskinan ekstrem di pelosok desa, rumah-rumah bilik bambu yang nyaris ambruk, anak-anak putus sekolah, hingga warga papa yang terisolasi dari uluran tangan negara.

Dari keprihatinan itulah, AKBP Asep Guntur menginisiasi terbentuknya wadah filantropi mandiri bersama warga dan relawan. Ketimbang memandang babi hutan dari tabu hewannya, ia justru meminjam filosofi perilaku bertahannya ketika dipojokkan.

ADVERTISEMENT

Bagi Asep, seekor babi hutan pantang lari terbirit saat terdesak, ia bakal memutar badan dan melawan balik sekuat tenaga hingga titik darah penghabisan. Karakter pantang menyerah itulah yang diadopsi menjadi pelecut gerakan melawan keputusasaan warga yang berada di titik terendah hidupnya.

Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam moto lokal berbahasa Sunda: 'Satekah Polah Ngabela nu Susah' yang artinya berjuang maksimal dan sekuat tenaga membela mereka yang kesusahan.

"Kita mengadopsi semangat itu untuk diarahkan saling tolong-menolong kepada masyarakat yang kesulitan. Kita tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Sebagai makhluk sosial, kita wajib saling menolong," ungkap Asep kala berbincang dengan detikJabar beberapa waktu lalu.

Mengetuk Empati, Merawat Kepercayaan

Kini, meski Asep Guntur telah menyandang pangkat jenderal bintang dua dan berkiprah di tingkat nasional, ia tetap menempatkan diri sebagai pendiri (founder) tanpa menduduki jabatan struktural di organisasi.

Roda operasional harian Bagong Mogok dinakhodai oleh AKBP (Purn) Hilman Muslim selaku Ketua Umum.

Abah Hilman, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa gerakan ini berjalan murni dari donasi swadaya para dermawan tanpa pernah menyentuh sepeser pun pos anggaran birokrasi maupun APBD.

Prinsip utamanya sederhana namun sakral: merawat kepercayaan (trust) para donatur secara konsisten.

"Kuncinya satu, trust. Dari awal berdiri sampai sekarang alhamdulillah kita belum pernah mengkhianati orang-orang yang percaya pada kita. Menjaga kepercayaan, jangan berkhianat. Bahkan kalau kita dapat amanat untuk bangun satu unit rumah, dalam pelaksanaannya kita maksimalkan bisa jadi dua unit. Itu yang membuat orang percaya," beber purnawirawan perwira menengah Polda Jabar tersebut.

Di lapangan, mekanisme verifikasi calon penerima bantuan dilakukan secara ketat melalui jejaring relawan. Skala prioritas mutlak diberikan kepada kaum papa yang sudah berada di titik nadir mereka yang sempat meminta bantuan ke sana-kemari namun tak kunjung mendapat uluran tangan.

Kendati demikian, Abah Hilman menegaskan Bagong Mogok pantang menjadikan warga sekitar sekadar menjadi penonton pasif. Sejak awal, tim relawan selalu mengetuk empati warga kampung agar turun tangan bergotong royong.

"Tanpa kepedulian masyarakat, percuma rutilahu dibangun. Kalau warga peduli, mereka punya empati. Membantu orang itu tidak harus melulu materi, bisa dengan tenaga, kata-kata, atau perbuatan. Itu semua sudah membantu," tegasnya.

Rela Bagi Beras demi Menolong Sesama

Selama lebih dari satu dekade bergerak, ratusan rumah tidak layak huni, jembatan, hingga gedung sekolah telah dibangun dan direhabilitasi. Rata-rata pengerjaan bedah rumah sederhana diselesaikan cepat oleh tim relawan hanya dalam tempo sekitar dua pekan.

Namun, ujian terberat para relawan kerap muncul bukan saat memeras keringat mengaduk semen, melainkan saat keteguhan diri diuji di tengah keterbatasan pribadi. Abah Hilman mengibaratkan dilema itu lewat sebungkus beras.

"Bayangkan saat kita tidak punya apa-apa, tapi harus segera menolong orang yang lebih terdesak. Bahkan mungkin di rumah sendiri tidak punya uang untuk beli beras. Ada uang sedikit, tapi di jalan melihat orang kelaparan, ya mau tidak mau kita ikhlas beli beras satu kilo separuh dibawa pulang ke rumah, separuhnya lagi dibagi untuk orang kelaparan itu," tutur Hilman.

Lahir dari Cianjur pada 2015 saat digagas seorang Kapolres, kepak sayap Bagong Mogok kini kian masif meluas menembus Sukabumi hingga berbagai pelosok di Tanah Air. Harapannya tetap satu, melipatgandakan jangkauan kebaikan.

"Kalau sekarang kita punya dua tangan untuk membantu orang, harapan kita ke depan punya sepuluh tangan untuk merangkul mereka yang membutuhkan," pungkasnya.

(sya/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads