Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan keinginan setelah proyek pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya sedang berjalan. Dia meminta supaya pihak kontraktor meninjau ulang desain proyek halte tersebut karena banyak menimbulkan keluhan di lapangan.
Sebagaimana diketahui, secara kasat mata, halte BRT telah berdampak karena mempersempit ruas jalan raya. Terbaru, halte BRT di Kiaracondong juga dikeluhkan karena jaraknya berdekatan dengan perlintasan rel kereta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil ukur, halte BRT di sana hanya berkisar 8 hingga 8,29 meter. Padahal, standar teknis ideal untuk keselamatan ruang penghentian transportasi umum berkisar antara 50 hingga 100 meter dari titik perlintasan sebidang.
"Nah, itu dia. Makanya saya akan ngobrol dulu sama BRT, karena ada juga satu keluhan di Jalan Rajawali, yaitu halte BRT malah menutup jalan akses untuk kendaraan niaga ke salah satu perusahaan logistik," kata Farhan, Senin (19/10/2026).
"Jadi, ini yang mesti kita bicarakan dan kita selesaikan bersama dengan para kontraktor BRT. Kami juga tentu saja harus memperhatikan desain yang sudah dibuat oleh BRT," ungkapnya menambahkan.
Farhan menyatakan, halte BRT yang saat ini sudah dibangun tidak mungkin untuk dibongkar. Namun nantinya, ia meminta kontraktor BRT supaya meninjau ulang desai perencanan dari proyek fasilitas transportasi massal tersebut.
"Nah, kalau bongkar ulangnya, kita belum tahu, ya. Tapi kita lakukan review, kita lakukan penyesuaian. Karena bagaimanapun juga, mumpung belum operasional, maka sama-sama kita harus melakukan review," pungkasnya.
(ral/sud)
