Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung Yoel Yosaphat menyoroti kondisi pembangunan proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya. Ia meminta supaya Pemkot Bandung menjalin komunikasi dengan pengelola BRT supaya warga mendapatkan jawaban dan informasi yang lengkap atas keresahan dan keluhan proyek ini.
Yoel mengatakan, keresahan warga berkaitan dengan dampak ekonomi bagi pedagang dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar area pembangunan BRT. Menurutnya, pemerintah harus memberikan kepastian bagi warga yang terdampak, misalnya masalah kompensasi atau penyiapan lokasi relokasi yang memadai bagi pedagang.
"Keresahan warga di kawasan Ledeng misalnya terkait pembangunan BRT lebih kepada masalah ekonomi. Berarti kalau di sana ada pedagang yang terdampak, harus ada kompensasi tang jelas, rekolasinya harus disiapkan, kepastian kembali kalau misalnya mau usaha lagi di sana seperti apa," katanya, Selasa (20/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai, pemerintah harus membuka ruang dialog lewat forum-forum dengan masyarakat yang digelar secara rutin. Dengan demikian, warga bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai tahapan pembangunan BRT, dampak dari pembangunannta dan langkah antisipasi dari pemerintah dari dampak yang ditimbulkan tersebut.
Selain masalah ekonomi, kemacetan pun kerap dikeluhkan warga akibat adanya pembangunan BRT tersebut. Yoel menilai perlu adanya pengaturan lalu lintas agar pengerjaan proyek tidak membuat kemacetan semakin parah.
"Rekayasa lalu lintas harus dilakukan agar tidak macet. Harus ada informasi yang menyeluruh bagaimana BRT kedepannya seperti apa," ujarnya.
Yoel pun menyatakan, sosialisai harus terus dilakukan baik melalui kanal komunikasi daring maupun pertemuan langsunh dengan masyarakat. Terlebih, saat BRT ini hadir, pemerintah akan dihadapkan dengan tantangan baru yakni mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah nyaman dengan kondisi sekarang, satu di antaranya menggunakan kendaraan pribadi beralih ke transportasi massal BRT.
"Kalau ingin masyarakat beralih ke BRT, pemerintah harus meyakinkan kemacetan bisa berkurang, lebih murah, lebih pasti dan untuk mencapai suatu tujuan lebih cepat," ungkapnya.
Yoel mengatakan, kebutuhan terhadap transportasi massal yang efektif sangat mendesak, apalagi kedepan peningkatan kendaraan pribadi akan lebih banyak, dan tak sebanding dengan kapasitas jalan di Kota Bandung. Jika tidak diantisipasi, dikhawatirkan kemacetan akan semakin parah.
Karena itulah, kehadiran BRT diharapkan bisa menjadi salag solusi atasi kemacetan tersebut, sekaligus mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.
"Hal-hal inilah yang harus disampaikan baik secara online maupun pertemuan langsung dengan masyarakat dan stakehokder terkait, agar BRT dalam pembangunannya bisa lebih diterima masyarakat. Ketika sudah hadir, dapat diterima dan masyarakat mau pindah ke BRT karena benefit benefit yang ditawarkan oleh pemerintah," pungkasnya.
