7 Indikator Perubahan Iklim Capai Level Ekstrem, Apa Dampaknya?

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Senin, 19 Okt 2026 14:32 WIB
Foto: DW (News)
Bandung -

Sejumlah indikator perubahan iklim dunia menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan. Dari 16 indikator kesehatan iklim yang dipantau peneliti internasional, tujuh di antaranya telah mencapai tingkat ekstrem dan mencatat rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Temuan tersebut terangkum dalam laporan tahunan yang disusun oleh inisiatif peneliti internasional. Salah satu penulis utamanya adalah William Ripple, profesor emeritus di Oregon State University.

Laporan ini melacak berbagai ukuran kesehatan iklim, mulai dari konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga kondisi lautan dan lapisan es di kutub. Sejumlah indikator bahkan menunjukkan perubahan mendadak yang memicu kekhawatiran terhadap ketidakstabilan sistem iklim.

Lantas, apa saja indikator perubahan iklim yang telah mencapai tingkat ekstrem dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan di Bumi?

7 Indikator Perubahan Iklim Capai Level Ekstrem

Tujuh indikator yang menjadi perhatian peneliti mencakup tiga kelompok besar, yakni gas rumah kaca, kondisi lautan, serta gletser dan massa es di kutub.

Ketiganya saling berkaitan. Gas rumah kaca memerangkap panas di atmosfer, lautan menyerap sebagian besar kelebihan panas tersebut, sedangkan peningkatan suhu berkontribusi terhadap pencairan es dan kenaikan permukaan laut.

Berikut tujuh indikator yang disorot dalam laporan tersebut.

1. Konsentrasi Karbon Dioksida Terus Meningkat

Karbon dioksida (CO₂) merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Gas ini dilepaskan melalui berbagai aktivitas, termasuk pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan.

Dalam laporan tersebut, konsentrasi CO₂ di atmosfer pada Mei 2026 mencapai 428 bagian per juta atau parts per million (ppm). Angka itu sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat sebelum Revolusi Industri.

Peningkatan CO₂ membuat lebih banyak panas tertahan di sistem iklim Bumi. Dampaknya dapat berupa peningkatan suhu rata-rata global dan perubahan pola cuaca dalam jangka panjang.

2. Konsentrasi Metana Mencapai Rekor

Metana (CH₄) juga termasuk gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Sumber emisinya antara lain kegiatan pertanian dan peternakan, pengelolaan sampah, serta produksi dan penggunaan bahan bakar fosil.

Bersama karbon dioksida dan nitrogen oksida, metana disebut dalam laporan sebagai bagian dari kombinasi gas penangkap panas yang mencapai tingkat rekor pada 2026.

Peningkatan konsentrasi metana memperbesar kemampuan atmosfer memerangkap panas. Karena itu, pengendalian emisi gas ini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mengurangi laju pemanasan global.

3. Konsentrasi Nitrogen Oksida Meningkat

Nitrogen oksida dalam konteks laporan ini merujuk pada dinitrogen oksida atau N₂O, salah satu gas rumah kaca yang bertahan lama di atmosfer.

Gas tersebut antara lain berasal dari penggunaan pupuk nitrogen dalam pertanian, pengelolaan kotoran ternak, serta sejumlah proses industri dan pembakaran.

Peningkatan konsentrasi N₂O menambah akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Kondisi ini memperkuat pemanasan global ketika digabungkan dengan peningkatan CO₂ dan metana.

4. Kandungan Panas Laut Mencapai Rekor Tertinggi

Lautan menyerap sebagian besar kelebihan panas yang terperangkap akibat peningkatan gas rumah kaca. Akibatnya, kandungan panas laut terus meningkat dan dalam laporan tersebut tercatat berada pada tingkat tertinggi.

Peningkatan panas laut berdampak pada ekosistem laut, termasuk terumbu karang dan kehidupan organisme yang sensitif terhadap perubahan suhu. Laut yang lebih hangat juga dapat memengaruhi pola cuaca dan memperkuat sejumlah fenomena ekstrem.

Kandungan panas laut menjadi indikator penting karena memperlihatkan besarnya energi yang terus terakumulasi dalam sistem iklim.

5. Permukaan Air Laut Terus Naik

Pemanasan laut turut menyebabkan air laut memuai sehingga volumenya meningkat. Proses ini, bersama pencairan gletser dan lapisan es di daratan, berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut.

Berdasarkan bahan laporan tersebut, pemuaian air laut menyumbang sekitar 56 persen kenaikan permukaan laut dalam beberapa dekade terakhir.

Kenaikan permukaan laut meningkatkan risiko banjir pesisir, abrasi, dan genangan di wilayah dataran rendah. Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi permukiman, infrastruktur, dan mata pencaharian.

6. Ketebalan Gletser Menyusut

Gletser merupakan massa es yang terbentuk selama bertahun-tahun dan bergerak perlahan akibat gravitasi. Peningkatan suhu menyebabkan gletser kehilangan massa melalui pencairan.

Laporan tersebut menyoroti penyusutan gletser yang semakin ekstrem dalam beberapa dekade terakhir. Selama musim panas, volume air hasil lelehan gletser dilaporkan meningkat hingga enam kali lipat.

Penyusutan gletser menjadi tanda perubahan pada lingkungan pegunungan dan kawasan bersalju. Dalam jangka panjang, perubahan ini dapat memengaruhi ketersediaan air bagi wilayah yang bergantung pada lelehan es.

7. Massa Es Greenland Berada pada Tingkat Terendah

Selain gletser, massa es di Greenland juga mengalami penyusutan. Wilayah ini menyimpan lapisan es yang sangat besar dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem iklim global.

Ketika es di Greenland mencair, airnya mengalir ke laut dan ikut mendorong kenaikan permukaan air laut. Jika kehilangan massa es terus berlangsung, dampaknya dapat dirasakan oleh wilayah pesisir di berbagai belahan dunia.

Kondisi ini menjadi perhatian karena perubahan pada lapisan es besar dapat berlangsung dalam waktu panjang dan sulit dipulihkan dalam skala waktu kehidupan manusia.

Peneliti Khawatir Sistem Iklim Bergerak ke Arah yang Salah

William Ripple mengaku terkejut melihat banyak bagian sistem iklim menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan secara bersamaan.

"Saya sangat terkejut melihat betapa banyak bagian berbeda dari sistem iklim yang bergerak ke arah yang salah pada saat yang bersamaan. Kandungan panas laut dan permukaan air laut berada pada rekor tertinggi, sementara ketebalan gletser dan massa es di Greenland berada pada rekor terendah," kata Ripple, dikutip dari Earth.com, Minggu (18/10/2026).

Kekhawatiran tersebut muncul karena indikator-indikator iklim tidak berdiri sendiri. Peningkatan gas rumah kaca dapat memicu pemanasan, pemanasan meningkatkan kandungan panas laut, sedangkan kenaikan suhu turut mempercepat pencairan es dan kenaikan permukaan laut.

Meski demikian, indikator ekstrem tidak berarti seluruh dampak perubahan iklim terjadi secara seragam di setiap wilayah. Kondisi lokal tetap dipengaruhi faktor geografis, lingkungan, dan aktivitas manusia.

Kebakaran Hutan dan Deforestasi Memperburuk Krisis Iklim

Dampak perubahan iklim juga terlihat pada kebakaran hutan. Berdasarkan data yang dikutip dalam bahan laporan, kebakaran menghanguskan sekitar 10,8 juta hektare hutan di seluruh dunia sepanjang 2025. Luas tersebut menjadi yang terbesar ketiga dalam catatan yang digunakan laporan.

Kebakaran hutan dapat melepaskan karbon yang tersimpan dalam vegetasi ke atmosfer. Ketika terjadi dalam skala besar, peristiwa ini menambah emisi gas rumah kaca dan dapat memperburuk pemanasan global.

Hutan Amazon juga menghadapi tekanan akibat deforestasi. Jika pemanasan global terjadi bersamaan dengan hilangnya tutupan hutan, risiko kerusakan ekosistem dapat meningkat dan menjadi semakin sulit dipulihkan.

Meski begitu, ada perkembangan positif. Bahan laporan menyebut tingkat deforestasi Amazon mengalami tren penurunan selama empat tahun berturut-turut.

Energi Terbarukan Lampaui Batu Bara, tetapi Emisi Masih Tinggi

Di tengah berbagai indikator yang mengkhawatirkan, perkembangan energi terbarukan memberikan secercah harapan. Pada 2025, energi terbarukan menghasilkan listrik dunia lebih banyak daripada batu bara.

Namun, peningkatan kebutuhan energi global membuat penggunaan bahan bakar fosil dan emisi tetap tinggi hingga mencetak rekor. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan energi bersih belum otomatis menghilangkan ketergantungan dunia terhadap sumber energi beremisi tinggi.

Para peneliti menilai penanganan perubahan iklim membutuhkan tindakan kolektif, termasuk kebijakan pemerintah untuk menekan emisi dan memperkuat adaptasi terhadap dampak yang sudah terjadi.

Laporan tersebut juga menyoroti kebutuhan pendanaan adaptasi iklim yang besar. Sebagai gambaran, dana adaptasi iklim Amerika Serikat pada 2024 disebut mencapai US$ 64 miliar, sementara kebutuhan pendanaan diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS pada 2035.

Temuan tujuh indikator iklim yang berada pada tingkat ekstrem menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan kenaikan suhu. Perubahan tersebut juga berkaitan dengan kondisi laut, es kutub, kebakaran hutan, dan risiko yang dihadapi masyarakat.

Upaya menekan emisi gas rumah kaca, melindungi hutan, memperluas energi rendah karbon, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi dampak iklim menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko di masa mendatang.

Artikel ini sebelumnya telah tayang di detikedu dengan judul "7 dari 16 Indikasi Perubahan Iklim Telah Mencapai Puncaknya, Sudah Separah Apa?". Baca artikel asli di sini



Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"

(tya/tey)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork