Sinergi Film dan Aksi Sosial: Peduli Kucing di Kampus ITB

Sinergi Film dan Aksi Sosial: Peduli Kucing di Kampus ITB

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Sabtu, 17 Okt 2026 22:30 WIB
Suasana pemutaran film dan diskusi acara Should We Save the Cat? di Ruang 9009 ITB Ganesha, Sabtu (17/10/2026).
Suasana pemutaran film dan diskusi acara Should We Save the Cat? di Ruang 9009 ITB Ganesha, Sabtu (17/10/2026). (Foto: Yogi Bagus Prasetyo/detikJabar)
Bandung -

Kucing kampus menjadi pintu masuk percakapan hangat tentang kepedulian satwa dan kesehatan mental dalam gelaran pemutaran film Should We Save the Cat? di Ruang 9009 Kampus ITB Ganesha, Sabtu (17/10/2026).

Program pemutaran film independen yang diinisiasi oleh rumah produksi Ophiuchus Project bersama Bioskop Kampus LFM ITB, Bahasinema, serta komunitas ITB Street Feeding (ITB-SF) ini berhasil menarik antusiasme penonton dari berbagai kalangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana antrean sudah mengular di depan lokasi pemutaran sebelum acara dimulai pukul 13.00 WIB. Menariknya, barisan penonton yang hadir tidak hanya didominasi oleh mahasiswa aktif dari berbagai program studi, melainkan juga alumni ITB.

Tingginya minat penonton ini tidak lepas dari momentum padatnya rangkaian agenda kampus di ITB Ganesha pada hari yang sama. Penyelenggara mencatat, jumlah pendaftar yang masuk bahkan menembus angka 150 orang dari total kapasitas ruangan.

ADVERTISEMENT

Sinergi Lintas Komunitas dan Misi Sosial

Inisiasi pemutaran kolektif ini bukan sekadar ajang tontonan sinema biasa, melainkan sebuah aksi nyata berbasis penggalangan dana (crowdfunding). Produser acara sekaligus perwakilan Ophiuchus Project Vincentius Bhagaskara menjelaskan kegiatan kolaborasi ini dirancang untuk mendukung dua fokus utama yang saling beririsan.

"Secara konkretnya kami memang mengadakan pemutaran ini untuk crowdfunding sebenarnya. Tujuannya ada dua, yang pertama untuk membantu teman-teman ITB Street Feeding mengelola, dan sterilisasi kucing-kucing yang di sekitar ITB, sama crowdfunding ini juga ditujukan untuk distribusi film Meong!," ujar Bhagaskara di sela-sela kegiatan.

Tak hanya itu, Manajer Bioskop Kampus LFM ITB Jennifer Regina Setiawan mengungkapkan program Bioskop Kampus memang merupakan agenda berkala yang tidak memiliki jadwal kaku harian atau mingguan. Sebaliknya, penayangan disesuaikan dengan momentum serta isu-isu sosial yang sedang hangat dan relevan bagi kehidupan mahasiswa.

"Kalau dari Bioskop Kampus sendiri rutinnya enggak yang setiap minggu atau dua minggu sekali, jadi kami lebih menyesuaikan dengan tema atau isu yang relevan dan ingin dibawakan. Yang membedakan kegiatan kali ini adalah kolaborasinya yang sangat banyak, enggak cuma dari Bioskop Kampus saja, jadi terasa lebih ramai dan inklusif," jelas Jennifer.

Gelak Tawa Audiens dan Refleksi Lewat Sudut Pandang Satwa

Empat karya sinema pendek yang ditayangkan dalam program ini meliputi Meong! (2026), Whisper of the Horizon (2025), How to Be Forgiven by God? (2022), serta Percakapan Harimau (2025). Keempatnya membawa benang merah unik mengenai interaksi, keberadaan, serta metafora hubungan antara manusia dan satwa.

Gelak tawa dan remah senyum penonton berulang kali pecah di dalam ruangan sepanjang pemutaran berlangsung. Keempat film yang disajikan berhasil menghibur audiens melalui beragam tingkah lucu, adegan absurd, hingga respons polos dari karakter-karakter di layar.

Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah aksi Siti, kucing oranye penghuni area Gedung Labtek VII ITB, yang menjadi pemeran utama dalam film Meong!. Sutradara Fransiska Fernanda menceritakan proses pengambilan gambar dilakukan secara alami tanpa memaksa pergerakan satwa.

"Dari kita sendiri ada penyiapan bayaran gitu untuk Si Siti. Jadi kita membayar sambil dia melakukan pekerjaannya, pakai umpan makanan kucing. Untuk beberapa adegan yang dianggap sulit, kita coba menggunakan teknik pengambilan gambar dari sudut pandang (POV) kucing," ungkap Fransiska.

Ia menambahkan hadirnya tokoh mahasiswa tingkat akhir dalam film tersebut merupakan cerminan dari kekhawatiran nyata yang dialami tim produksi saat menghadapi tekanan tugas akhir.

Suasana diskusi juga diwarnai apresiasi terhadap film Whisper of the Horizon karya Agni Nurhalisah. Film animasi tersebut mengisahkan perjuangan seekor ikan lele yang terinspirasi dari filosofi kebebasan pemikiran filsuf Seneca. Sang sutradara menjelaskan pilihan ekstrem sang lele dalam cerita merupakan bentuk refleksi atas harga diri dan pilihan hidup.

Kesejahteraan Kucing Kampus dan Perjuangan ITB Street Feeding

Sesi diskusi interaktif yang dipandu perwakilan Bahasinema menghadirkan penanggap dari komunitas perawat kucing kampus, ITB Street Feeding (ITB-SF).

Pengurus ITB-SF, Sari menceritakan latar belakang berdirinya komunitas yang bermula dari krisis saat pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Kala itu, pemberlakuan lockdown kawasan kampus membuat kucing liar terancam kelaparan.

Meski begitu, guna menanggapi dinamika keberadaan kucing liar di area kampus, Sari menegaskan landasan berpikir yang dipegang oleh komunitasnya agar tidak memicu gesekan sosial.

"Prinsip nomor satu yang kami pegang, bahkan nomor nol, tidak semua orang suka kucing atau hewan, dan mayoritas orang itu sebenarnya netral. Tugas kami di ITB Street Feeding adalah menjaga supaya kelompok mayoritas yang netral ini tidak bergeser menjadi benci," kata Sari.

Sari menekankan pentingnya peran komunitas sebagai mediator antara kepentingan operasional institusi kampus dan norma kesejahteraan hewan. Menurutnya, menjaga kesehatan dan populasi kucing lewat prosedur sterilisasi serta pemberian pakan teratur secara langsung juga melindungi ekosistem dan kesehatan manusia di sekitar kampus melalui konsep One Health.

Respons Positif Penonton di Tengah Acara

Antusiasme peserta yang menghadiri gelaran pemutaran film ini juga datang dari berbagai alasan personal. Sejumlah penonton sengaja meluangkan waktu karena tertarik dengan jejak prestasi karya yang ditayangkan maupun kerinduan akan ruang apresiasi sinema di dalam kampus.

Daniel Wijaya, mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2025, mengaku datang karena penasaran dengan reputasi film utama yang diputar.

"Dengar-dengar film Meong! itu kan highlight utamanya hari ini, katanya menang penghargaan juga. Kebetulan acaranya gratis dan diadakan di kampus sendiri, jadi ini kesempatan pas buat nonton," tuturnya.

Senada dengan Daniel, Alifia dari program studi Oseanografi ITB angkatan 2025 mengungkapkan kegembiraannya karena akhirnya bisa mendapatkan kuota penonton.

"Tahun kemarin sempat enggak dapat slot (menonton). Mumpung ada lagi penayangan Bioskop Kampus ini dan slotnya masih available, langsung daftar," ujar Alifia.

Melalui sinergi antara seni pertunjukan film dan aksi sosial ini, Should We Save the Cat? berhasil membuktikan bahwa medium sinema tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga mampu menjadi penggerak kesadaran kolektif untuk kepedulian lingkungan sekitarnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads