Mitos Lintah Sebesar Gulungan Kasur di Situ Bagendit, Jelmaan Nyai Endit?

Mitos Lintah Sebesar Gulungan Kasur di Situ Bagendit, Jelmaan Nyai Endit?

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 07:00 WIB
Situ Bagendit.
Situ Bagendit. Foto: Hakim Ghani/detikJabar
Bandung -

Ada cerita lisan yang berkisah tentang lintah sebesar gulungan kasur di Situ Bagendit. Hewan penghisap darah itu berada di dasar telaga.

Ya, Situ Bagendit telaga yang berada di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut ini menyimpan banyak cerita rakyat. Telaga seluas 5 hektare ini konon terbentuk karena air bah yang datang secara tiba-tiba menerjang pemukiman di mana seorang perempuan bernama Nyai Endit tinggal.

Karena Nyai Endit tidak bisa berlari dari bencana yang janggal itu, dia dikabarkan disupata (dikutuk) menjadi lintah, sebagaimana semasa hidupnya sebagai manusia, dia menjadi lintah darat untuk tetangga-tetangganya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mitos Lintah Sebesar Gulungan Kasur di Situ Bagendit

Dilansir laman 20detik, dikatakan konon orang-orang percaya bahwa mereka melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Menurut masyarakat sekitar, lintah tersebut merupakan penjelmaan sosok Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air.

Da pula yang menyebutkan bahwa Nyai Endit bukan dikutuk menjadi lintah, melainkan menjadi belut purba. Dalam hal menghisap darah, belut purba, sebagaimana dikutip dari detikNet, merupakan hewan yang perilakunya mirip vampir. Kedua mitos ini intinya sama, hewan penghisap darah.

ADVERTISEMENT

Cerita Lengkap Legenda Situ Bagendit

Cerita tentang Situ Bagendit diantaranya dipublikasikan pada situs Petra Christian University. Dalam cerita bergambar itu, seorang nenek pengemis yang menjadi lantaran tenggelamnya kampung di mana Nyai Endit hidup mengatakan bahwa air yang terus menenggelamkan itu tak ubahnya air mata rakyat tertindas. Dilansir detikJabar dalam artikel berjudul "Legenda Situ Bagendit, Air Mata Rakyat Tertindas", begini kisahnya:

Situ Bagendit terbentuk karena tulah yang ditibankan kepada Nyai Endit, seorang janda kaya raya, banyak harta, banyak persediaan makanan, namun kikir terhadap tetangga-tetangganya.

Bukan hanya kikir, Nyai Endit punya sifat menindas. Sebagai seorang kaya, dia membeli hasil panen padi dari rakyat sekitar dengan harga yang murah. Padi itu kemudian disimpan sebagai persediaan untuk dijual kembali ketika harga padi mahal.

Nyai Endit melakukan itu tidak sendiri, namun dibantu centeng. Centengnya bertugas untuk membeli padi hasil panen rakyat dengan harga murah dan memastikan tidak ada seorangpun yang menjual padi selain kepadanya.

"Sudahkan kamu pastikan semua orang menjual padinya kepadaku?" tanya Nyai Endit. Centeng menjawab dengan yakin bahwa semua orang sudah tunduk kepadanya.

Hasil panen terus ditampung, dibeli dengan harga miring, hingga semua orang tidak punya persediaan. Ketika paceklik datang, rakyat tak punya pilihan selain membeli beras dari Nyai Endit meski dengan harga 5 kali lipat dari harga ketika Nyai Endit membelinya dari mereka.

Namun, kepedihan rakyat membeli dengan harga mahal tidak menggugah nurani Nyai Endit, nyai yang namanya sendiri sudah Endit atau 'medit', yang di dalam Bahasa Sunda berarti kikir.

Sampailah waktu kebinasaan datang, yaitu ketika rakyat sudah tak mampu membeli beras dari Nyai Endit tak sedikitpun mau menurunkan harganya, apalagi bersedekah dengan memberi rakyat secara cuma-cuma.

Kebinasaan itu ditandai dengan datangnya seorang nenek pengemis. Nenek itu datang dengan menanyakan kepada rakyat setempat tentang siapa orang terkaya di tempat itu.

"Untuk apa Nek?" tanya seorang warga.

"Nenek mau minta sedekah, sudah tiga hari nenek tidak makan,"

"Jangan harap diberi, Nek. Nyai Endit pelitnya bukan kepalang," kata warga itu.

Namun, nenek pengemis tidak menghiraukan apa kata warga. Sebaliknya, dia meminta warga untuk segera mengungsi sebab banjir akan segera datang.

Perkataan nenek itu ditertawakan, sebab nenek pengemis bicara banjir ketika hari sedang kemarau. Namun, warga akhirnya menurut ketika melihat nenek pengemis itu memang mendatangi rumah Nyai Endit.

Di muka rumah, seorang centeng bertanya apa mau nenek itu. Ketika dijawab nenek minta sedekah, centeng itu marah dan menyuruhnya pergi. Namun, nenek pengemis tak bergeming. Hingga akhirnya Nyai Endit keluar rumah.

Nyai Endit mengusir nenek itu dengan kata-kata yang menyayat-nyayat hati orang papa. Di sela-sela omelan Nyai Endit, sang nenek menyela.

"Selama ini, Tuhan memberikanmu rezeki tapi engkau tak mau berbagi. Kamu kikiri, pelit, dan aku datang sebagai jawaban atas doa-doa rakyat desa," kata nenek itu.

"Apa? Kau ingin menghukumku? Lihat centengku, sekali pukul saja kamu pasti mati," kata Nyai Endit.

Si nenek pengemis ingin mengakhiri percakapan. Dia mengatakan bahwa Nyai Endit tidak perlu mengusirnya. Dia akan pergi jika janda kaya itu bisa mencabut tongkatnya yang tertancap di tanah.

Nyai Endit bersusah payah mencabutnya, namun tidak tercabut sama sekali. Tongkat itu kokoh di tempatnya tertancap. Tidak goyah. Sama halnya ketika centeng mencoba mencabutnya, tongkat itu kokoh saja.

"Begini, aku bisa mencabutnya," kata Nyai Endit. Ketika tongkat dicabut, byur! Air memancar pada bekas tancapannya.

"Endit, ini adalah hukuman untukmu, ini adalah air mata rakyat yang menderita," katanya.

Legenda untuk Membangun Karakter

Legenda Situ Bagendit bukan sekadar dongeng sebelum tidur untuk anak-anak, melainkan media pendidikan karakter khas masyarakat Sunda. Di dalam cerita itu, pendengar diajarkan tentang pentingnya kepedulian sosial, bahaya kesombongan, dan agar senantiasa tidak serakah.

Di Mana Lokasi Situ Bagendit?

Situ Bagendit terletak di Jalan KH Hasan Arif, Desa Sukamukti / Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Lokasi ini berjarak sekitar 20-30 menit dari pusat kota Garut. Tempat wisata ini buka dari pukul 08.00-17.00 WIB.

Berkunjung ke tempat ini, wisatawan bisa menyewa sepeda air atau rakit supaya bisa berkeliling sekitar telaga. Selain bisa menikmati keindahan alam, di Situ Bagendit setiap orang bisa belajar mengenai nilai kehidupan melalui legenda.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads