Aliran Sungai Ciloseh yang melintasi wilayah Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) liar berukuran besar.
Kondisi yang terpantau pada Kamis (15/10/2026) ini menimbulkan keprihatinan, mengingat julukan "Kota Resik" yang disandang Tasikmalaya kian bertolak belakang dengan fakta di lapangan.
Lokasi penumpukan sampah tersebut berada di kawasan perbatasan antara Kampung Lengkong Kaler RT 04/12 (Kelurahan Lengkong) dan Kalangsari Dua RW 02 (Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beruntung kesadaran warga dan aparat pemerintahan setempat segera muncul. Mereka menyadari jika hujan datang, kondisi ini bisa memicu sumbatan aliran dan membuat banjir.
Warga dari kedua wilayah perbatasan bersama petugas bahu membahu mengangkut sampah yang sudah lama mengendap di dalam sungai.
Proses pembersihan ini telah berlangsung selama dua hari. Namun, banyaknya volume limbah membuat pekerjaan diprediksi memakan waktu hingga satu minggu.
Pemicu utama krisis lingkungan ini adalah minimnya kesadaran masyarakat serta belum maksimalnya koordinasi penanganan sampah antardinas/instansi terkait.
"Ini kejadian sudah lama, dan banyak warga yang buang sampah ke lokasi, kami melakukan tindak lanjut laporan dan mengantisipasi bencana banjir dalam rangka normalisasi pengangkatan sampah yang menyumbat aliran sungai ciloseh," ucap Lurah Lengkongsari Agus Hendra Gunawan.
Agus mengatakan kegiatan pengangkatan sampah di Sungai Ciloseh berkolaborasi dengan lintas sektoral dan warga yang berada di dua wilayah perbatasan.
"Kami juga berkolaborasi antara BBWS, PUTR, LH, RT dan RW dari dua wilayah berbatasan yakni Sukamanah Cipedes dengan Tawang," kata Agus.
Menurutnya, target pengangkatan sampah selama tiga hari, akan tetapi volume yang banyak mengharuskan estimasi waktu bisa mencapai satu Minggu.
"Awalnya estimasi tiga hari, tapi setelah dilakukan pengangkatan ternyata lebih, mungkin target bisa satu mingguan," kata Agus.
Ditanya soal volume sampah, Agus melihat tumpukan yang sudah lama bisa mencapai dua ton lebih.
"Dua ton mungkin ada, karena endapan ke bawah sungai masih banyak, dan butuh petugas banyak," tuturnya.
Baca juga: Upaya Mengurai Banjir di Jadek Kopo Bandung |
Penumpukan sampah di musim kemarau bisa berakibat fatal ketika sudah masuk musim penghujan salah satunya banjir.
"Harapan kami dengan adanya kegiatan ini sungai Ciloseh jadi lancar dan bisa mengantisipasi risiko saat musim hujan," ungkap Agus.
Di sisi lain, belum tersedianya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) di sekitar bantaran sungai disinyalir menjadi alasan utama warga nekat menjadikan Sungai Ciloseh sebagai lokasi pembuangan sampah.
Kebiasaan buruk ini memicu penyumbatan parah yang berpotensi memicu banjir bandang saat intensitas hujan meningkat kelak.
"Kayaknya sudah lama terjadi, dan ini sebagai pembelajaran terutama bagi warga di bantaran sungai. Mudah-mudahan aksi ini ada edukasi, meskipun hari ini musim kemarau, tapi nanti masuk musim hujan adanya tumpukan hingga hujan lebat akan terjadi banjir akibat sumbatan sampah," kata Camat Tawang Boedi Santosa.
Dia mengakui warga yang berada di dua wilayah tersebut sepertinya sudah menjadi kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.
Alasannya karena tidak adanya tempat pembuangan sementara membuat warga membuang sampah ke bantaran sungai hingga tersumbat alirannya seperti sekarang.
"Ini lebih kepada kebiasaan, dan soal TPS seharusnya dibangun oleh DLH yang menjadi sektoralnya, supaya ke depan warga tidak membuang sampah lagi ke Sungai Ciloseh," kata Boedi.
Selain itu, keberadaan sungai Ciloseh posisinya ada di perbatasan dua Kecamatan Tawang dan Kecamatan Cipedes.
"Ini sebagai bentuk antisipasi sekarang musim kemarau terlihat banyak tumpukan sampah yang luar biasa, awalnya target dua hari, ada kemungkinan bisa bertambah satu minggu," tutur Boedi.*
(yum/yum)
