El Nino Mengganas, Ratusan Hektar Tambak di Subang Kering

El Nino Mengganas, Ratusan Hektar Tambak di Subang Kering

Dian Firmansyah - detikJabar
Kamis, 15 Okt 2026 15:51 WIB
Kekeringan Subang.
Kekeringan Subang. Foto: Dian Firmansyah
Subang -

Dampak kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino kian dirasakan para petambak di kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura), Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ratusan hektare tambak perikanan di wilayah ini mengering hingga tanahnya retak-retak.

Kondisi terparah melanda Desa Langensari, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Selain mengeringkan areal pertambakan, kemarau dalam sebulan terakhir juga membuat saluran air sepanjang 24 kilometer mengalami kekeringan total akibat hilangnya pasokan air laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menyusutnya pasokan air laut ke saluran tambak membuat para petambak tak bisa berbuat banyak. Bibit ikan yang baru ditanam dipastikan mati karena tidak mendapatkan suplai air yang memadai.

Salah seorang petambak lokal, Wajim, mengungkapkan bahwa dirinya mengalami kerugian besar akibat seluruh bibit ikan yang ditanam mati kekeringan.

ADVERTISEMENT

"Tambak ini kekeringan karena air laut tidak sampai ke sini. Kami rugi besar, bibit ikan yang ditanam mati semua. Kerugian bisa mencapai Rp20 juta per hektare. Harapan kami pemerintah segera turun tangan melihat kondisi kami," ujar Wajim, Kamis (15/10/2026).

Ketua KUD Mina Langgeng Jaya Desa Langensari, Raim Irawan, menjelaskan bahwa dari total lahan pertambakan di wilayahnya, sekitar 200 hektare berada dalam kondisi kering kerontang. Hal ini diperparah oleh pendangkalan pada saluran utama tempat masuknya pasokan air laut saat pasang.

Dampaknya, produksi ikan yang disetorkan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) KUD Langgeng Jaya anjlok drastis dan mengancam mata pencaharian para petambak.

"Ada sekitar 200 hektar tambak yang mengering akibat fenomena El Nino. Jika ditotal, estimasi kerugian petambak mencapai Rp1 miliar. Air laut pasang pun tidak bisa masuk karena saluran air sudah sangat dangkal. Kami memohon perhatian serius dari dinas terkait, sebab ini menyangkut ketahanan pangan sektor budidaya," tegas Raim Irawan.

Para petambak kini berharap instansi pemerintah terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan pengerukan saluran air yang dangkal serta memberikan solusi darurat agar dampak kerugian tidak semakin meluas.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads