Menyemai Harapan di Jalanan Majalengka Lewat Pendidikan

Menyemai Harapan di Jalanan Majalengka Lewat Pendidikan

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 09:00 WIB
Aktivitas Egi Trialogi bersama anak jalanan di Majalengka.
Aktivitas Egi Trialogi bersama anak jalanan di Majalengka. (Foto: Istimewa)
Majalengka -

Dari debu jalanan, mereka memupuk harapan. Di antara riuh kendaraan dan kerasnya kehidupan, orang-orang yang pernah kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan berusaha merajut masa depan.

Berawal dari emperan toko dan trotoar Pasar Kadipaten, Sekolah Jalanan Majalengka hadir membuka jalan bagi anak-anak, remaja hingga orang dewasa untuk kembali belajar dan mengejar cita-cita.

Sekolah yang dirintis Egi Trialogi bersama istrinya sejak 2016 itu kini berkembang menjadi wadah pendidikan bagi masyarakat dengan beragam latar belakang. Tak hanya anak jalanan, program tersebut juga menjangkau penyandang disabilitas serta warga yang belum pernah atau belum sempat menuntaskan pendidikan dasar hingga menengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Egi mengatakan, Sekolah Jalanan Majalengka kini berada di bawah Yayasan Ciremai Bakti Nusantara. Adapun kegiatan pendidikan nonformal diselenggarakan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ciremai Bakti Nusantara Majalengka.

"Sekarang layanan kami tidak lagi hanya untuk anak-anak jalanan. Ada anak-anak disabilitas, kemudian masyarakat umum, seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang dulu belum pernah mengenyam pendidikan, baik SD, SMP, ataupun SMA," kata Egi saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Melalui program tersebut, masyarakat Majalengka bisa mendapatkan kesempatan belajar tanpa dipungut biaya.

"Nah, melalui program ini, kami coba membuka untuk seluruh masyarakat Kabupaten Majalengka ini gratis bersekolah di tempat kami. Jadi tidak ada pungutan biaya," ujarnya.

Sekolah Jalanan Majalengka tidak hanya menjadi tempat untuk belajar membaca dan menulis. Melalui jalur pendidikan nonformal, peserta didik juga memiliki kesempatan mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C.

Paket A setara dengan jenjang sekolah dasar (SD), Paket B setara sekolah menengah pertama (SMP), sedangkan Paket C setara sekolah menengah atas (SMA).

Program kesetaraan tersebut menjadi jalur bagi warga yang tidak sempat menempuh atau menyelesaikan pendidikan formal. Dengan mengikuti program melalui PKBM yang berwenang dan memenuhi persyaratan kelulusan, peserta didik dapat memperoleh ijazah kesetaraan yang diakui secara resmi.

Kesempatan itu membuka peluang bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan maupun memenuhi persyaratan tertentu dalam dunia kerja.

Bagi Egi, pendidikan merupakan hak setiap orang tanpa memandang usia maupun latar belakang kehidupan.

"Pendidikan adalah hak semua orang, hak semua masyarakat, tanpa terkecuali. Baik itu anak jalanan ataupun yang lainnya, mereka berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak," tuturnya.

Sempat Belajar di Emperan Toko hingga Trotoar

Adapun perjalanan Sekolah Jalanan Majalengka tidak selalu mudah. Pada awal berdiri, kegiatan belajar berlangsung dengan fasilitas terbatas. Sejak 2016 hingga 2019 dan awal 2020, Egi bersama para peserta didik menjalankan kegiatan belajar di emperan toko hingga trotoar Pasar Kadipaten.

Mereka belajar di ruang terbuka, menghadapi panas hingga hujan. Namun, keterbatasan tempat tidak menghentikan upaya untuk memberikan akses pendidikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

"Dulu kami belajar di emperan toko di Pasar Kadipaten, kemudian juga di trotoar atau (jalur) pedestrian. Kadang kehujanan, kepanasan," kata Egi.

Seiring waktu, Sekolah Jalanan Majalengka berkembang. Pengelolaan melalui yayasan dan PKBM menjadi bagian dari perjalanan untuk memperluas layanan pendidikan serta menyediakan tempat belajar yang lebih nyaman.

Di balik pendirian sekolah tersebut, ada pengalaman pribadi Egi yang turut membentuk kepeduliannya terhadap pendidikan masyarakat jalanan.

Saat duduk di bangku SMA di Tasikmalaya, Egi harus berjualan koran di Terminal Ciawi agar bisa terus bersekolah. Selepas kegiatan belajar, ia berjualan hingga sore, kemudian terkadang menjadi penghubung angkutan umum sampai malam. Ia juga pernah bekerja sebagai penjaga warung telepon atau wartel.

Pengalaman itu membuat Egi memahami bahwa sebagian orang harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan ketika mereka seharusnya memiliki kesempatan belajar.

"Itu mungkin salah satu hal yang melatarbelakangi kenapa saya bersama istri mendirikan Sekolah Jalanan," ungkapnya.

Para peserta didik yang datang ke sekolah tersebut memiliki latar belakang beragam. Sebagian sebelumnya hidup di jalanan dengan aktivitas sebagai pengamen, penjual asongan, juru parkir hingga anak punk.

Kini, mereka memiliki kesempatan untuk kembali belajar dan membangun masa depan. Hasilnya mulai terlihat dari perjalanan sejumlah alumni yang menjalani profesi berbeda-beda, mulai dari pengacara, guru, kepala desa, kepala dusun, pekerja pabrik hingga pedagang.

Bagi Egi, perjalanan para alumni tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri setelah sekolah itu dirintis dari keterbatasan.

"Alhamdulillah bangga kami mendirikan sekolah jalanan ini. Jadi sudah terlihat hasilnya, ada yang menjadi lawyer, ada yang menjadi guru, kemudian ada yang menjadi kepala desa, ada yang menjadi kepala dusun. Selebihnya ada yang bekerja di pabrik, ada yang berjualan, dan lain-lain," ujarnya.

Selain memperluas akses pendidikan, Sekolah Jalanan Majalengka juga berupaya menyediakan tempat tinggal yang layak bagi peserta didik yang membutuhkan. Salah satu kebutuhan yang tengah diperjuangkan adalah rumah singgah.

Tak Hanya dari Majalengka

Menurut Egi, tidak semua orang yang hidup di jalanan berasal dari Majalengka atau memiliki tempat tinggal di daerah tersebut. Sebagian datang dari luar kota sehingga membutuhkan tempat untuk beristirahat sekaligus menjalani kegiatan belajar di tempatnya.

"Ketika ada rumah singgah yang memadai, kami tidak harus mencari kontrakan petak-petak untuk menempatkan mereka," ucapnya.

Rumah singgah itu nantinya diharapkan tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga ruang untuk mendampingi peserta didik, memantau perkembangan mereka, serta membantu mengembangkan potensi yang dimiliki.

Egi menilai, lingkungan yang lebih layak dapat membuka kesempatan bagi mereka untuk menjalani kegiatan yang lebih positif dibandingkan harus tidur di jalanan tanpa pendampingan.

"Dengan adanya rumah singgah, kami bisa memberikan tempat yang layak untuk mereka. Yang paling penting, kami juga bisa memonitoring atau mengontrol mereka, dalam artian mendampingi mereka agar bisa belajar dan mengembangkan potensinya," kata Egi.

Sekolah Jalanan Masuk tiga besar DPD RI Award 2026

Kini, Sekolah Jalanan Majalengka masuk tiga besar DPD RI Award 2026 dalam kategori Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah. Saat ini, program tersebut tengah menjalani tahap uji petik atau verifikasi lapangan.

"Di DPD RI Award 2026 ini, kami membawakan Sekolah Jalanan. Kami bergerak di bidang pendidikan nonformal dan program yang kami ajukan adalah program Sekolah Jalanan," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Egi, malam penganugerahan dijadwalkan berlangsung pada 8-10 November 2026 di Jakarta.

Bagi Egi, perhatian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sekolah yang dahulu memulai kegiatan belajar di emperan pasar. Namun, lebih dari penghargaan, ia berharap semakin banyak masyarakat yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan.

Dari ruang belajar sederhana di Pasar Kadipaten hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan nonformal, Sekolah Jalanan Majalengka berupaya menjaga harapan tetap hidup. Sebab, kesempatan untuk belajar dan memperbaiki masa depan seharusnya tidak berhenti hanya karena seseorang pernah tertinggal dari bangku sekolah.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads